Sabtu, 18 Oktober 2014

Mesir Kuno

Mesir pada puncak kejayaannya pada masa Kerajaan Baru (1450 SM)
arifuddinali.blogspot.com - Mesir merupakan salah satu daerah tersubur di Afrika, dan salah satu negara tersubur di Mediterania. Karena kesuburannya, Mesir menjadi salah satu tempat terawal yang dihuni oleh manusia, sekitar 40.000 tahun lalu. Pada awalnya tidak ada begitu banyak orang di Mesir, namun seiring waktu Mesir menjadi semakin padat, sehingga diperlukan suatu pemerintahan bersatu. Untuk sementara waktu tampaknya ada dua kerajaan, yang disebut Mesir Hulu (di selatan) dan Mesir Hilir (di utara). Sekitar 3000 SM, pada awal Zaman Perunggu, raja Mesir Hulu menaklukan raja Mesir Hilir dan membuat Mesir menjadi satu kerajaan, yang disebut Mesir. Pemimpin kerajaan ini kemudian disebut Firaun.

Sejak masa tersebut hingga sekita 525 SM, ketika Mesir ditaklukan oleh Persia, sejarah Mesir dibagi menjadi enam periode. Pada Kerajaan Lama (2686-2160 SM), bangsa Mesir mulai membangun piramida sebagai makam bagi para firaun. Kemudian pada 2200 SM tampaknya ada perubahan iklim, dan Mesir terpecah menjadi banyak kerajaan kecil. Ini disebut Periode Pertengahan Pertama (2160-2040 SM). Pada 2040 SM, para firaun berhasil menyatukan kembali Mesir untuk kemudian mendirikan Kerajaan Pertengahan (2040-1633 SM), namun para firaun Kerajaan Pertengahan tak sekuat para firaun Kerajaan Lama, dan mereka tidak lagi membangun piramida. Sekitar 1800 SM, para firaun Kerajaan Pertengahan kembali kehilangan kekuasaan. Ini disebut Periode Pertengahan Kedua (1786-1558 SM). Selama Periode Pertengahan Kedua, bangsa Hyksos dari utara menginvasi Mesir dan menguasai Mesir Hilir untuk sementara waktu. Bangsa Hyksos memiliki kuda dan kereta perang, dan dengan cepat pasukan Mesir juga belajar cara menggunakan kuda dan kereta perang. Sekitar 1500 SM, para firaun Mesir dari Mesir Hulu berhasil mengusir bangsa Hyksos dan menyatukan kembali Mesir dalam satu negara yang disebut Kerajaan Baru (1558-1085 SM). Masa ini disebutkan dalam Injil dan Al Qur'an, yaitu tentang penindasan Bani Israel (bangsa Yahudi) oleh bangsa Mesir. Pada akhir Zaman Perunggu, terjadi krisis umum di seluruh Mediterania Timur dan Asia Barat. Bersama dengan hancurnya peradaban Mykenai dan Het, pemerintahan Mesir juga runtuh, berujung pada Periode Pertengahan Ketiga (1085-525 SM). Selama periode ini, para raja Afrika timur dari sebelah selatan Mesir, tepatnya dari Nubia, menguasai sebagian besar wilayah Mesir.

Setelah itu pada 525 SM, Kambyses, raja Persia, memimpin pasukan menuju Mesir dan menaklukannya. Ia menjadikan Mesir bagian dari Kekaisaran Persia. Bangsa Mesir tidak suka diperintah oleh Persia, namun mereka tak cukup kuat untuk melawan. Ketika Aleksander Agung menaklukan Kekaisaran Persia pada 332 SM, ia juga merebut Mesir pada tahun yang sama, dan para penerus Aleksander yang beretnis Yunani berkuasa di Mesir setelah kematiannya pada 323 SM. Masa ini disebut pula periode Hellenistik. Pada masa ini, ratu Kelopatra, yang merupakan perempuan Yunani dan Firaun Mesir, berkuasa. Setelah Kelopatra meninggal, Romawi menaklukan Mesir dan menjadikannya bagian dari Kekaisaran Romawi selama ratusan tahun (30 SM-700 SM). Akhirnya sekitar 660 SM, pasukan Umayyah yang menyerbu Mesir berhasil menaklukan wilayah ini dan menjadikan Mesir bagian dari Kekhalifahan Islam, menggantikan kekuasaan Romawi di Mesir.
 
Pembagian periode dalam sejarah Mesir:
  • Zaman Batu
  • Kerajaan Lama (2686-2160 SM)
  • Periode Pertengahan Pertama (2160-2040 SM)
  • Kerajaan Pertengahan (2040-1633 SM)
  • Periode Pertengahan Kedua (1786-1558 SM)
  • Kerajaan Baru (1558-1085 SM)
  • Periode Pertengahan Ketiga (1085-525 SM)
  • Kekuasaan Persia (525-332 SM)
  • Kekuasaan Yunani (Hellenistik) (332-30 SM)
  • Kekuasaan Romawi (30 SM-700 M)
  • Kekuasaan Islam (700 M-sekarang)

Zaman Batu

Kegiatan agrikultur orang Mesir kuno
Sekitar 10000 SM, penduduk Mesir sudah amat banyak sehingga orang-orang terpaksa menghasilkan makanan mereka sendiri alih-alih berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa yang sama, orang-orang di Asia Barat juga mulai bercocok tanam. Kemungkinan orang sudah lama mengetahui cara bercocok tanam namun lebih suka pergi ke luar dan mencari makanan liar, karena lebih mudah. Akan tetapi ketika jumlah penduduk sudah terlalu banyak, makanan liar mulai tidak mencukupi kebutuhan bagi semua orang, dan dengan demikian orang-orang harus mulai bercocok tanam. Proses ini disebut Revolusi Agrikultur.

Kerajaan Lama

Patung pualam Ankhesenpepi II dan putranya Pepi II
Setelah Mesir pertama kali disatukan sekitar tahun 3000 SM di bawah Firaun dari Mesir Hulu, para Firaun dengan cepat memperoleh kekuasaan yang besar atas rakyatnya. Ibukota Firaun adalah di Memphis.

Prasasti yang disebut Palet Narmer menunjukkan ukiran yang kemungkinan menggambarkan Firaun Mesir Hulu yang sedang berdiri dan mengalahkan Firaun Mesir Hilir.

Karena Kerajaan Lama berlangsung pada masa yang amat lampau, tidak banyak yang diketahi mengenai periode ini. Tampaknya para Firaun Kerajaan Lama menjalankan irigasi sisteamtis pertama dari sungai Nil, yang memungkinkan lebih banyak orang untuk tinggal di Mesir tanpa mengalami kelaparan. Piramida dibangun pada periode ini sebagai makam besar bagi para Firaun. Kemungkinan piramida dibangun oleh orang-orang yang biasanya menjadi petani, seperti kebanyakan orang pada masa itu. Mereka mungkin membangun sedikit bagian piramida setiap tahun, selama sungai Nil meluap sehingga kegiatan bercocok tanam tidak dapat dijalankan. Temuan arkeologis terkini menunjukkan bahwa para Firaun awal juga terlibat dalam kurban manusia. Pada masa yang sama, peradaban besar lainnya juga sedang muncul di Sumeria.

Firaun terakhir di Kerajaan Lama adalah Pepi II, yang baru berusia enam tahun ketika dinobatkan sebagai Firaun. Ibunya, Ankhesenpepi II, barangkali adalah yang sebenarnya memegang kekuasaan atas nama putranya. Ia kemungkinan telah terbiasa pada gagasan mengenai perempuan yang berkuasa. Ibu Ankhesenpepi II, Nebet, menjadi wazir bagi kakek Pepy II, Pepi I. Ankhesenpepi II mungkin berkuasa hingga Pepi II tumbuh dewasa, atau setelah ia meninggal. Setelah kematiannya, Pepi II secara berangsur-angsur kehilangan kekuasaannya, dan orang-irabf kaya lainnya di Mesir mulai mengendalikan wilayah mereka sendiri layaknya raja. Ini disebut Periode Pertengahan Pertama.

Periode Pertengahan Pertama

Intef II, salah satu penguasa di Mesir pada Periode Pertengahan Pertama
Berakhirnya Kerajaan Lama, sekitar 2100 SM, tampaknya disebabkan oleh pemberontakan orang-orang dari kalangan yang kaya. Mereka merasa bahwa Firaun memiliki kekuasaan yang terlalu besar. Secara berangsur-angsur Firaun menjadi semakin bergantung pada para pejabat pemerintahan, dan orang-orang ini pun merebut kekuasaan. Beberapa pengelolaan negara mulai terhenti. Piramida tak lagi dibangun. Sumber-sumber tertulis menggambarkan masa-masa anarki, para bangsawan bekerja di ladang, anak membunuh orang tua, sesama saudara saling bertikai, dan makam-makam dihancurkan. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa kekacauan ini mungkin disebabkan oleh perubahan iklim besar yang memicu kondisi kekeringan di Mesir.
 

Kerajaan Pertengahan

Patung Mentuhotep II, Firaun pertama di Kerajaan Pertengahan
Kerajaan Pertengahan berdiri setelah serangkaian peperangan antara penguasa Mesir Hulu (Selatan) melawan Mesir Hilir (Utara). Penguasa Mesir Hulu menang, dan mereka menyatukan kembali negara ini sekitar 2000 SM, dengan ibukota pertamanya di Thebes di selatan, dan ibukota lainnya adalah sebuah kota baru di sebelah selatan memphis.

Para Firaun pada periode ini tidak memiliki kekuasaan sebesar sebelumnya. Mereka lebih menampilkan diri sebagai penguasa yang memeprhatikan rakyatnya, alih-alih sebagai raja-dewa di Kerajaan Lama. Adalah para Nomark (pejabat lokal) yang memiliki kekuasaan cukup besar pada masa ini.
Pada periode ini, para Firaun pertama kali mulai menguasai wilayah di luar Mesir, seperti Yerusalem, Yerikho dan Suriah. Selain itu banyak terjadi perdagangan antara Mesir dengan Byblos, dekat beirut modern

Periode Pertengahan Kedua

Patung Ahmose I, salah satu tokoh yang berperan dalam mengakhiri kekuasaan bangsa Hyksos atas Mesir
Sekitar 176 SM suatu bangsa yang disebut Hyksos menginvasi Mesir, mengakhiri Kerajaan Pertengahan dan memulai Periode Pertengahan Kedua. Bangsa Hyksos, yang datang dari Asia Barat, merebut bagian timur dari Delta Nil (Mesir timur laut, bagian yang terdekat dengan Asia), dan menetapkan ibukota di Memphis.

Tidak diketahui siapa sebenarnya bangsa Hyksos, namun mereka kemungkinan merupakan etnis Amori, yang menuturkan bahasa Semit (terkait dengan bahasa Ibrani dan Arab) dan datang dari daerah di sekitar Suriah dan Israel, suatu daerah yang banyak melakukan perdagangan dengan bangsa Mesir selama Kerajaan Pertengahan.

Bangsa Hyksos berkuasa selama sekitar seratus tahun, namun kemudian para penguasa selatan dari Thebes lagi-lagi mulai menaklukan kembali daerah Mesir utara. Dalam perang pembebasan ini, kedua bersaudara Kahmose dan Ahmose memerangi bansga Hyksos dan bangsa Nubia, yaitu etnis Afrika yang tinggal di sebelah selatan Mesir. Pada akhirnya mereka berhasil dan menyatukan kembali seluruh Mesir di bawah Kerajaan Baru

Kerajaan Baru

Dengan reunifikasi Mesir oleh Ahmose (Kamose meninggal sebelum Mesir benar-benar bersatu) dan diusirnya bangsa Hyksos, Mesir memulai periode baru yang makmur di bawah dinasti ke-18. Pada masa ini banyak terjadi perdagangan dengan Asia Barat, dan pasukan Mesir bahkan menaklukan sebagian besar Israel dan Suriah, meskipun mereka terus-menerus berperang dengan Het dan Asyyria demi kendali atas daerah tersebut. Kuil-kuil besar dibangun di seluruh Mesir. Para ratu Mesir memiliki kekuasaan yang besar pada masa ini, dan pada 1490 SM salah satu ratu yang bernama Hatshepsut menjadi Firaun. Pemerintahan Hatshepsut berlangsung lama dan damai. Ia membuat banyak kesepakatan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan Afrika, yang membuat Mesir semakin kaya
 
Patung Hatshepsut
Pada tahun 1363 SM ada seorang Firaun terkenal bernama Akhenaten, yang mendirikan ibukota baru di Amarna da tampaknya menyembah satu dewa matahari baru, serta mengembangkan gaya seni baru. Istrinya bernama Nefertiti. Akhenaten tak memiliki putra, dan penerusnya adalah menantunya Tutankhamon. Akan tetapi pada 1333 SM para Firaun kembali ke agama lama.

Patung Akhenaten

Patung Nefertiti

openg mumi Tutankhamon
Pada 1303 SM sebuah dinasti baru dari utara merebut kekuasaan, yaitu dinasti Mesir ke-19. Raja pertamanya, Firaun Ramesses, memindahkan ibukota kembali ke Memphis di utara. Pada masa pemerintahan dinasti ini, pendeta menjadi amat berkuasa. Peperangan dengan bangsa Het di Asia Barat terus berlanjut, namun perdagangan juga banyak terjadi. Ini adalah masa yang dalam Kitab Injil dan Al Qur'an disebutkan bahwa bangsa Yahudi (Bani Israil) diperbudak di Mesir

Patung Ramesses I, pendiri dinasti ke-19
Dinasti Firaun ke-20, sekitar 1200 SM, meneruskan kebijakan yang sama, dan semua Firaunnya disebut Ramesses. Banyak terjadi serangan terhadap Mesir, yang pertama dari Libya di arah barat dan kemudian dari Asia Barat, oleh suatu kelompok yang oleh bangsa Mesir disebut Bangsa Laut. Kekaisaran Het dimusnahkan, meskipun sekitar 1100 SM bangsa Mesir memerangi Bangsa Laut dalam suatu pertempuran laut yang besar. Akan tetapi permasalahan di Asia Baat tampaknya menyebabkan keruntuhan ekonomi besar-besaran di seluruh Mediterania Timur dan Asia Barat dan tidak lama setelahnya Kerajaan Baru runtuh.
 

Periode Pertengahan Ketiga

Perpecahan politik di Mesir pada Periode Pertengahan Ketiga
Setelah meninggalnya Ramesses terakhir pada 1085 SM, Mesir terpecah. Tidak diketahui apa yang sebenarnya terjadi tapi kemungkinan terjadi wabah kekeringan yang parah.

Peradaban Het dan Mykenai runtuh pada masa yang sama, dan banyak orang dari kedua daerah tersebut menginvasi Mesir, dimana mereka kemudian disebut Bangsa Laut, yang kemungkinan terdiri atas bangsa Filistin, Lykia, Akhaia, Troya, dll. Mesir berhasil menghalau serbuan Bangsa Laut, namun tidak lama setelahnya Mesir juga ikut runtuh.

Mesir kehilangan kendali atas Israel, Lebanon, Suriah, dan lagi-lagi dikuasai oleh berbagai raja dari utara dan selatan. Selain itu Nubia berhasl merdeka kembali dari kekuasaan Mesir.

Wilayah Mesir utara menjadi lebih kaya daripada selatan, dan kota-kotanya berkembang pesat. Namun Mesir tetap menjadi lebih lemah daripada sebelumnya, sehingga Lybia mampu beberapa kali melakukan invasi dan menguasai Mesir utara untuk sementara waktu. Di selatan, di Thebes, para pendeta Amon terus memperoleh kekuasaan yang besar

Sekitar 715 SM, seorang raja Sudan (atau Kush) hitam dari sebelah selatan Mesir, yang bernama Piye atau Piankhi, menginvasi dan menaklukan sebagian besar wilayah Mesir. Ia mendirikan Dinasti Firaun ke-25.


Shabaka, penerus Piye
Dinasti tersebut tidak berlangsung lama, karena suatu bangsa baru dari Asia Barat, yaitu bangsa Assyria, menaklukan Mesir dalam serangkaian perang yang berakhir pada 664 SM. Mereka mengusir bangsa Sudan dari Mesir. Meskipun demikian, Assyria tidak benar-benar mampu memerintah wilayah yang begitu jauh dari ibukota mereka di Nineveh, sehingga tidak lama kemudian para raja Lybia menguasa Mesir dan mendirikan Dinasti ke-26, dengan bantuan para tentara bayaran dari Yunani dan Lykia. Para raja ini disebut orang Sais, karena menetapkan ibukota di Sais, di utara Mesir.

Pada 609 SM Kekaisaran Assyria runtuh, dan para raja Sais berhasil menaklukan sejumlah wilayah di Israel dan Suriah. Akan tetapi pada 605 SM, Kekaisaran Babilonia di bawah seorang raja bernama Nebukhadnezzar mengalahkan Mesir dan merebut kembali Israel dan Suriah. Pada 525 SM, sebuah kekaisaran baru di Asia Barat, yaitu Kekaisaran Persia, menyerang dan menaklukan Mesir. Kali ini mereka sukses dalam memerintah Mesir.

Kambyses II, raja Persia, menangkap Psamtik III, Firaun terakhir dari Dinasti ke-26

Kekuasaan Persia

Nektabeno II atau Nakhthorheb, Firaun Mesir terakhir sebelum Mesir ditaklukan oleh Persia

Patung Aleksander Agung, raja Makedonia yang merebut Mesir dari kekuasaan Persia dan memasukan Mesir ke dalam kekuasaan Makedonia
Persia menguasai Mesir sejak 525 SM, setelah berhasil mengalahkan bangsa Libya. Akan tetapi, setelah Persia mengalami kekalahan atas pasukan Yunani di Marathon pada 490 SM, bangsa Mesir memebrontak (pada 484 serta pada 460 SM) dengan bantuan Athena, namun gagal.

Pada 404 SM Mesir berhasil merdeka, berkat melemahnya Persia. Mesir mendirikan Dinasti ke-28, yang dilanjutkan oleh Dinasti ke-29 dan 30. Dinasti ke-28 berlangsung pendek dan hanya terdiri atas satu Firaun. Pada Dinasti ke-29, Mesir menjalin persekutuan dengan Sparta dan berhenti bekerjasama dengan Athena, karena Athena amat melemah seusai Perang Peloponnesos melawan Sparta. Dalam kesepakatan ini, Sparta membantu Mesir melawan Persia, dan Mesir mengirim banyak gandum sebagai balasannya. Sayangnya, Persia menangkap kapal-kapal gandum Mesir dalam perjalanan menuju Sparta sehingga hal ini tak berjalan baik.

Para Firaun pada Dinasti ke-30 berupaya mempertahankan Mesir sebagai neagra merdeka. Mereka memerangi invasi-invasi Persia. Suatu ketika, Persia menyerang Mesir namun harus mundur kembali karena Sungai Nil sedang meluap. Seperti para Firaun lainnya, mereka menjalin persekutuan dengan Sparta dan Athena serta kota-kota Yunani lainnya untuk dapat menghalau Persia. Beberapa dari mereka bahkan berusaha mengembalikan Mesir ke masa kejayaannya seperti pada Kerajaan Baru dengan cara menyerbu Suriah.

Akan tetapi pada akhirnya Mesir tidak sanggup terus-menerus bertahan menghadapi serbuan Persia, dan Persia berhasil menaklukan Mesir kembali pada 341 SM, setelah Mesir mengalami kermedekaan selama enam puluh tiga tahun. Pada 332 SM, Aleksander Agung menaklukan Mesir sebagai bagian dari usahanya menaklukan seluruh Kekaisaran Persia.

Kekuasaan Yunani

Patung Ptolemaios I Soter, pendiri Dinasti Ptolemaik di Mesir
Pada 332 SM Aleksander Agung dari Makedonia menaklukan Mesir dengan pasukan Yunani. Pada awalnya, bangsa Mesir mengira bahwa Aleksander akan membiarkan Mesir merdeka. Akan tetapi, Aleksander justru menjadikan Mesir sebagian bagian dari kekaisarannya sendiri.

Setelah Aleksander meninggal pada 323 SM, kekaisarannya dibagi-bagi di antara para jenderalnya, dan salah satu jenderalnya yang bernama Ptolemaios memperoleh Mesir. Ptolemaios berkuasa di Mesir dan mendirikan Dinasti Ptolemaios atau Ptolemaik. Para Firaun Ptolemaios berhasil menaklukan kembali banyak wilayah di Israel dan Suriah. Mereka membawa serta bahasa dan kebudayaan Yunani ke Mesir, meskipun rakyat jelata di Mesir tetap menuturkan bahasa Mesir dan menyembah dewa-dewi Mesir.

Ptolemaios dan para keturuannya memerintah Mesir hingga Octavianus Augustus dari Romawi mengalahkan Firaun Mesir terakhir, yaitu Ratu Kleopatra, pada 30 SM. Sejak itu Mesir menjadi bagian dari Romawi.

Kekuasaan Romawi

Kleopatra dan Julius Caesar
Ketika Julius Caesar memperoleh kekuasaan di Romawi, sekitar 50 SM, para Firaun Ptolemaik, yaitu para raja Mesir dari etnis Yunani, amat sangat lemah dibanding Romawi.

Ketika Julius Caesar mengunjungi Mesir, ratu Mesir Ptolemaik, Kleopatra VII, meminta Caesar membantunya dalam perang saudara melawan saudara sekaligus suaminya yang masih remaja, Ptolemaios XIII.

Julius Caesar setuju dan membantu Kleopatra berkuasa, tapi kemudian menempatkan pasukan Romawi di Mesir, serta membawa Kleopatra ke Roma sebagai kekasih. Ketika Julius Caesar dibunuh di Roma pada 44 SM, Kleopatra pulang ke Mesir bersama pemimpin Romawi lainnya, Marcus Antonius, yang kemudian menjadi kekasihnya juga. Kleopatra memerintah Mesir selama empat belas tahun, memperoleh empat anak dan memimpin negaranya dengan sukses sambil melakukan manuver-manuver politik terhadap Romawi supaya Mesir bisa tetap merdeka.

Akan tetapi, dalam perang saudara antara keponakan Julius Caesar, Augustus, melawan Marcus Antonius, pihak Mesir yang dipimpin Antonius dan Kleopatra mengalami kekalahan. Mereka bunuh diri (atau dibunuh) pada 30 SM, dan setelah itu Mesir dikuasai penuh oleh Romawi.

Romawi menganggap Mesir amat berharga karena daerah tersebut amat subur dan menghasilkan begitu banyak bahan pangan. Sejumlah banyak makanan, terutama gandum (untuk dibuat menjadi roti), dikirim dari Mesir ke Roma sebagai pajak dalam kapal-kapal besar. Untuk memudahkan pengumpulan dan pengiriman pajak ini, Romawi mendirikan pemerintahan bergaya Romawi di Mesir, meskipun bahasa utama pemerintahan di Mesir tetap bahasa Yunni ali-alih bahasa Latin. Pada masa ini, rakyat jelata di Mesir juga memahami sejumlah perkataan Yunani.

Sekitar 300-400 M, sebagian besar orang Mesir menerima agama Kristen. Ada petikaian mengenai jenis Kristen apa, entah Arian atau Katolik, yang dianggap benar di Mesir.

Setelah Roma ditaklukan oleh Ostrogoth pada 476 M, pengiriman gandum dari Mesir dialihkan ke ibukota baru Romawi di Konstantinopel, dekat Laut Hitam, di tempat yang kini menjadi Turki.
Romawi menguasai Mesir hingga sekitar 700 M, selama kira-kira 700 tahun, hingga bangsa Arab menyerbu dan menaklukan Mesir.


Kekuasaan Islam

Seiring bangkitnya agama baru, Islam, di Asia Barat, bangsa Arab mendirikan suatu negara bernama Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Suriah. Mereka dengan cepat menaklukan Mesir juga, sehingga, seperti halnya dulu Mesir dukuasai oleh Assyria, Persia, Yunani, dan Romawi, kini Mesir dikuasai oleh bangsa Arab Islam. Akibat penaklukan ini, secara berangsur-angsur, sebagian besar bangsa Mesir berpindah agama dri Kristen menjadi Islam, dan mereka juga mulai menuturkan bahasa Arab. Sementara orang Mesir Kristen disebut Koptik. Ibukota baru juga didirikan di Mesir utara, tepatnya di Kairo.

Peta penaklukan Muslim di Mesir

Untuk sementara waktu pada tahun 1000-1300, Mesir merdeka dari Kekhalifahan Islam yang berpusat di Asia Barat dan mendirikan dinasti tersendiri yang beraliran Syi'ah dan disebut Fatimiyah. Pada masa ini banyak terjadi kemajuan di Mesir.

Akan tetapi Mesir kemudian ditaklukan oleh dinasti Ayyubiyah yang Sunni, dan kemudian oleh Mamluk. Sekitar tahun 1500, Mesir dikuasai oleh Kesultanan Utsmaniyah, hingga akhirnya Mesir merdeka pada masa modern.


Salahudin Al Ayyubi, pendiri dinasti Ayyubiyah

---wiki ---
 

Jumat, 17 Oktober 2014

Orang Peranakan

Keluarga Peranakan di Riouw, Hindia Belanda
arifuddinali.blogspot.com - Orang Peranakan, Tionghoa Peranakan (atau hanya "Peranakan", dan "Baba-Nyonya" di Malaysia) adalah istilah yang digunakan oleh para keturunan imigran Tionghoa yang sejak akhir abad ke-15 dan abad ke-16 telah berdomisili di kepulauan Nusantara (sekarang Indonesia), termasuk Malaya Britania (sekarang Malaysia Barat dan Singapura). Di beberapa wilayah di Nusantara sebutan lain juga digunakan untuk menyebut orang Tionghoa Peranakan, seperti "Tionghoa Benteng" (khusus Tionghoa-Manchu di Tangerang) dan "Kiau-Seng" (di era kolonial Hindia Belanda).

Anggota etnis ini di Malaka, Malaysia menyebut diri mereka sebagai "Baba-Nyonya". "Baba" adalah istilah sebutan untuk laki-lakinya dan "Nyonya" istilah untuk wanitanya. Sebutan ini berlaku terutama untuk populasi etnis Tionghoa dari Negeri-Negeri Selat di Malaya kala era kolonial, Pulau Jawa yang kala itu dikuasai Belanda, dan lokasi lainnya, yang telah mengadopsi kebudayaan Nusantara - baik sebagian atau seluruhnya - dan menjadi lebih berasimilasi dengan masyarakat pribumi setempat. Banyak etnis ini yang merupakan kaum elit Singapura, lebih setia kepada Inggris daripada Tiongkok. Sebagian besar telah tinggal selama beberapa generasi di sepanjang selat Malaka dan sebagian besar telah memiliki garis keturunan dari perkawinan dengan orang Nusantara pribumi dan Melayu. Etnis Peranakan biasanya merupakan pedagang, perantara antara Inggris dan Tiongkok, atau Tionghoa dan Melayu, atau juga sebaliknya karena mereka dididik dalam sistem Inggris. Karena itu, orang Peranakan hampir selalu memiliki kemampuan untuk berbicara dalam dua bahasa atau lebih. Dalam generasi selanjutnya, banyak yang telah kehilangan kemampuan untuk berbicara rumpun bahasa Tionghoa karena mereka telah berasimilasi dengan budaya Semenanjung Malaya dan telah berbicara lancar Bahasa Melayu sebagai bahasa pertama atau kedua.

Istilah "Peranakan" paling sering digunakan di kalangan etnis Tionghoa bagi orang keturunan Tionghoa, di Singapura dan Malaysia orang keturunan Tionghoa ini dikenal sebagai Tionghoa Selat (karena domisili mereka di Negeri-Negeri Selat), namun ada juga masyarakat Peranakan lain yang relatif kecil, seperti India Hindu Peranakan (Chetti), India Muslim Peranakan (Jawi Peranakan atau Jawi "Pekan") (Abjad Jawi menjadi tulisan Arab yang telah di-Jawa-kan, "Pekan" adalah istilah sehari-hari yang telah mengalami kontraksi pengucapan dari "Peranakan") dan Peranakan Eurasia (Kristang) (Kristang = Kristen). Kelompok ini memiliki hubungan paralel dengan orang Hokkian Kamboja, yang merupakan keturunan Tionghoa Hoklo. Mereka mempertahankan sebagian budaya mereka meskipun bahasa asli mereka secara bertahap menghilang beberapa generasi setelah bermukim

Terminologi

Baik Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia menggunakan kata "Peranakan" yang berarti "keturunan" - tanpa arti konotasi dari etnis keturunan apa, kecuali jika diikuti oleh kata keterangan benda berikutnya, seperti misalnya "Tionghoa", "Belanda" atau "Jepang" / "Jepun". Peranakan memiliki arti konotasi tersirat yang mengacu pada keturunan dari kakek-nenek buyut atau nenek moyang yang lebih jauh.

Baba, kata dari Persia yang dipinjam oleh penutur bahasa Melayu sebagai sebutan kehormatan hanya untuk kakek-nenek, digunakan untuk menyebut laki-laki Tionghoa Selat. Istilah ini berasal dari penutur Bahasa Hindustani, seperti penjaja dan pedagang, dan menjadi bagian dari bahasa pasar yang umum. Di Nusantara sendiri, pengucapan "Baba" dapat berubah sesuai dialek masyarakat Pribumi setempat, seperti "Babah" oleh orang Jawa atau "Babeh" oleh orang Betawi.

Wanita keturunan Tionghoa Selat entah dipanggil atau menyebut dirinya sendiri sebagai "Nyonya". Kata "nyonya" (juga sering salah dieja "nonya") adalah sebutan kehormatan Jawa yang merupakan pinjaman dari istilah Italia "nona" ("nenek") yang berarti: wanita asing yang sudah menikah. Atau lebih mungkin dari kata "Donha", sebutan Portugis untuk "wanita". Karena orang Jawa pada saat itu memiliki kecenderungan untuk menyebut semua perempuan asing (dan mungkin orang-orang yang penampilannya seperti dari luar negeri) sebagai "nyonya", mereka pun menggunakan istilah tersebut untuk wanita Tionghoa Selat, dan secara bertahap menjadi lebih terkait secara eksklusif dengan mereka. "Nona" dalam bahasa Jawa berarti "wanita".

Tionghoa Selat didefinisikan sebagai mereka yang lahir atau tinggal di Negeri-Negeri Selat: sebuah koloni Inggris yang terdiri dari Pulau Pinang, Malaka dan Singapura yang dibentuk tahun 1826. Tionghoa Selat tidak dianggap sebagai "Baba Nyonya" kecuali mereka menampilkan atribut fisik tertentu yang merupakan campuran Melayu pribumi dan Tionghoa.

Keturunan


Wanita Peranakan di Pabrik Timah Pulau Singkep, Riow.
Kebanyakan Peranakan adalah dari keturunan orang Hoklo (Hokkien), meskipun sejumlah yang cukup besar adalah dari keturunan orang Tiociu atau orang Kanton. Peranakan sendiri adalah keturunan ras campuran, sebagian Tionghoa, sebagian Pribumi Nusantara (Indonesia / Melayu).

Baba Nyonya adalah subkelompok dalam masyarakat Tionghoa, dan adalah keturunan serikat Sino-pribumi (Tionghoa asli) di Melaka, Pinang, dan Indonesia. Adalah hal yang biasa bagi pedagang Tionghoa awal di Nusantara zaman dahulu untuk mengambil perempuan pribumi Nusantara dari Semenanjung Malaya / Sumatera / Jawa sebagai istri atau selir, akibatnya Baba Nyonya memiliki campuran ciri-ciri budaya Tionghoa dan Nusantara.

Catatan tertulis dari awal abad ke-19 dan abad ke-20 menunjukkan bahwa pria Peranakan biasanya mengambil pengantin dari dalam komunitas Peranakan setempat. Keluarga Peranakan kadang-kadang mengimpor pengantin wanita dari Tiongkok dan mengirim putri mereka ke Tiongkok untuk mencari suami.

Beberapa sumber mengklaim bahwa Peranakan awal telah menikah-campur dengan penduduk Nusantara pribumi setempat; klaim ini mungkin berasal dari kenyataan bahwa beberapa pegawai yang menetap di Bukit Tionghoa yang melakukan perjalanan ke Malaka dengan Laksamana dari Yunnan adalah Muslim Tionghoa. Namun pakar lainnya, melihat kurangnya kemiripan fisik, sehingga mereka berpendapat bahwa etnis Tionghoa Peranakan telah hampir tidak bercampur dengan Pribumi Nusantara. Satu kasus penting untuk mendukung klaim tentang percampuran tersebut adalah dari masyarakat Peranakan di Tangerang, Indonesia, yang dikenal sebagai Tionghoa Benteng. Penampilan fisik mereka adalah Pribumi Nusantara, namun mereka mematuhi adat istiadat Peranakan, dan kebanyakan dari mereka adalah penganut Buddhisme. Beberapa Peranakan membedakan antara "Baba-Peranakan" (Peranakan dengan keturunan Melayu Semenanjung) dari "Peranakan" (mereka yang tanpa keturunan Melayu Semenanjung).

Bahasa

Bahasa orang Peranakan, yaitu Bahasa kreol Melayu (atau "Bahasa Melayu Baba"), adalah dialek kreol dari bahasa Melayu, yang berisi banyak kata dialek Hokkian. Bahasa ini adalah bahasa yang hampir punah, dan penggunaan kontemporernya terbatas pada anggota generasi tua. Bahasa Indonesia, Melayu atau Inggris kini telah menggantikan bahasa ini sebagai bahasa utama yang digunakan di kalangan generasi muda.

Di Indonesia, orang Peranakan muda masih bisa berbicara bahasa kreol ini, meskipun penggunaannya terbatas pada acara-acara informal. Peranakan muda telah kehilangan banyak bahasa tradisional mereka, sehingga biasanya ada perbedaan dalam kosakata antara generasi tua dan muda.


Sejarah


Orang Peranakan di Negeri-Negeri Selat zaman dahulu.
Pada abad ke-15, beberapa negara-kota kecil di Semenanjung Malaya sering membayar upeti kepada berbagai kerajaan seperti Kekaisaran Tiongkok (sekarang Republik Rakyat Tiongkok) dan Kerajaan Siam (sekarang Thailand). Hubungan dekat dengan Tiongkok dimulai pada awal abad ke-15 pada masa pemerintahan Parameswara ketika Laksamana Cheng Ho, utusan Kaisar Tionghoa Yongle, mengunjungi Malaka dan Jawa. Terdapat legenda bahwa di 1459 Masehi, Kaisar Tiongkok mengirimkan seorang putri, Hang Li Po, kepada Sultan Malaka sebagai tanda penghargaan atas penghormatannya. Para bangsawan (500 putra menteri) dan pegawai yang menemani putri tersebut awalnya menetap di Bukit Tionghoa dan akhirnya berkembang menjadi kelas "Tionghoa Selat" (Tionghoa kelahiran Selat Malaka), namun legenda ini tidak didukung adanya bukti dari catatan Kekaisaran Tionghoa.

Kala itu karena kesulitan ekonomi di daratan Tiongkok, gelombang imigran datang dari negeri Tiongkok dan menetap di Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat), Pulau Ujong (sekarang Singapura), dan kepulauan Nusantara (sekarang Indonesia). Beberapa dari mereka kemudian berasimilasi dengan adat istiadat lokal, sementara masih mempertahankan beberapa tingkat budaya nenek moyang mereka, mereka kemudian juga dikenal sebagai kaum "Peranakan". Peranakan biasanya memiliki tingkatan darah pribumi Nusantara tertentu, yang dapat dihubungkan dengan fakta bahwa selama kekaisaran Tionghoa, sebagian besar imigran dari Tiongkok adalah laki-laki yang kemudian menikah dengan wanita pribumi setempat. Orang Peranakan di Tangerang, Indonesia yang dikenal dengan sebutan Tionghoa Benteng, mempunyai tingkatan darah pribumi yang tinggi sehingga mereka hampir tidak bisa dibedakan secara fisik dari penduduk pribumi. Penampilan orang Peranakan di Indonesia dapat bervariasi, antara berkulit sangat terang sampai berwarna kulit cokelat tembaga.

Pria Tionghoa di Malaka kala itu menikah dan menghasilkan keturunan dengan wanita-wanita budak dari Jawa, Batak dan Bali. Keturunan mereka pindah ke Penang dan Singapura selama pemerintahan kolonial Inggris. Orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara era kolonial juga memperoleh istri wanita budak dari Nias. Orang-orang Tionghoa di Singapura dan Penang disediakan istri wanita budak dari Bugis, Batak, dan Bali. Inggris kala itu memperbolehkan perdagangan perempuan budak sebagai istri karena hal ini meningkatkan standar hidup bagi budak-budak tersebut dan memberikan kepuasan kepada penduduk laki-laki. Penggunaan budak perempuan sebagai istri oleh orang Tionghoa adalah sangat umum kala itu.
Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun, bahwa keberadaan perbudakan di kuartal ini, pada tahun-tahun sebelumnya, adalah keuntungan besar untuk pengadaan populasi wanita di Pinang. Dari Assaban saja, sebelumnya ada kadang-kadang 300 budak, terutama perempuan, diekspor ke Malaka dan Pinang dalam setahun. Para perempuan itu menetap nyaman sebagai istri dari pedagang Tionghoa kaya, dan hidup dalam kenyamanan paling tinggi. Keluarga mereka melekatkan pria-pria itu dengan tanah mereka, dan banyak yang tidak pernah berpikir untuk kembali ke negara asal mereka. Populasi perempuan di Pinang masih jauh dari setara dengan [populasi] laki-laki; dan karena itu penghapusan perbudakan, telah menjadi pengorbanan besar untuk filantropi dan kemanusiaan. Karena kondisi para budak yang dibawa ke pemukiman Inggris, membaik secara materiil, dan karena mereka memberikan kontribusi begitu banyak untuk kebahagiaan penduduk laki-laki, dan kesejahteraan umum dari pemukiman, membuat saya untuk berpikir (meskipun saya membenci prinsip perbudakan seperti dengan siapa pun), bahwa kelanjutan sistem ini di sini, di bawah peraturan bijak yang berlaku untuk mencegah penyalahgunaan, tidak dapat telah menghasilkan banyak kejahatan. Perbudakan macam ini yang memang ada di pemukiman Inggris di kuartal ini, tidak ada yang salah dengannya kecuali namanya; karena kondisi para budak yang dibawa dari negara-negara sekitar, selalu terbantu dengan perubahan, mereka diberi makanan dan pakaian dengan baik; para perempuan menjadi istri Tionghoa yang terhormat; dan orang-orang yang berada di tingkat paling tidak rajin, mudah memperbaiki diri, dan banyak yang menjadi kaya. Kejahatan oleh majikan telah dihukum; dan, singkatnya, saya tidak tahu ras orang-orang apapun yang telah, dan memiliki setiap alasan untuk, sangat bahagia dan puas sebagai budak sebelumnya, dan debitur seperti yang disebut sekarang, yang datang dari pantai timur Sumatera dan tempat-tempat lain.
John Anderson - Agen Pemerintah Pulau Prince of Wales (nama kolonial Pulau Pinang / Penang)
Orang Peranakan sendiri kemudian bermigrasi di antara Malaysia, Indonesia dan Singapura, yang mengakibatkan tingginya tingkat kesamaan adat dan budaya di antara komunitas Peranakan di negara-negara tersebut. Alasan ekonomi atau pendidikan biasanya mendorong migrasi Peranakan di antara wilayah Nusantara (Malaysia, Indonesia dan Singapura), bahasa kreol mereka sangat dekat dengan bahasa asli negara-negara tersebut, yang membuat adaptasi mereka jauh lebih mudah.

Walaupun tidak sama, dalam perkembangannya karena alasan politik orang Peranakan dan Tionghoa Nusantara lainnya dikelompokkan sebagai satu kelompok etnis, yaitu Tionghoa. Tionghoa Singapura dan Tionghoa Malaysia menjadi semakin lebih menunjukkan budaya Tionghoa daratan, sedangkan Tionghoa Indonesia menjadi lebih terasimilasi dengan budaya Nusantara dalam budaya mereka. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan adanya "Kebijakan Bumiputera" dan Sekolah Kebangsaan Tionghoa di Malaysia; "Kebijakan Bahasa Ibu" ("Mother Tongue Policy") di Singapura; dan adanya larangan terhadap kesenian dan tradisi Tionghoa selama era administrasi Soeharto di Indonesia.

Di masa lalu orang Peranakan dijunjung tinggi oleh orang Pribumi Melayu. Beberapa orang Melayu di masa lalu mungkin telah mengambil kata "Baba", merujuk pada lelaki Tionghoa, dan memasukkannya ke dalam nama mereka, ketika nama ini masih digunakan. Hal ini tidak diikuti oleh generasi muda Melayu, dan Tionghoa Malaysia saat ini tidak memiliki status atau kehormatan yang sama seperti yang dimiliki orang Peranakan kala itu.

Kebudayaan

Busana



Busana kebaya wanita Peranakan di Museum Peranakan.
Di Malaysia dan Singapura, Peranakan mempertahankan sebagian besar etnis dan agama asal mereka (seperti pemujaan leluhur), namun berasimilasi dengan bahasa dan kebudayaan Melayu. Busana Nyonya, yaitu "Baju Panjang" diadaptasi dari busana pribumi Melayu "Baju Kurung". Busana ini dikenakan dengan sarung batik dan 3 "kerosang" (bros). Sandal manik-manik yang disebut "Kasot Manek" (Kasut Manik) adalah buatan tangan yang memerlukan banyak keterampilan dan kesabaran: dirangkai, dimanik-manik dan dijahit ke kanvas dengan manik-manik kaca berbentuk tertentu yang kecil dari Bohemia (sekarang Republik Ceko).

Di zaman modern, manik-manik kaca dari Jepang lebih disukai untuk kasot manek. Desain kasot manek tradisional sering memiliki bentuk bunga Eropa, dengan warna yang dipengaruhi oleh porselin dan sarung batik Peranakan. Mereka dibuat ke dalam bentuk alas kaki atau sandal kamar, namun sejak 1930-an, bentuk modern menjadi populer dan tumit ditambahkan ke dalam desain alas kaki ini.

Di Indonesia, Peranakan mengembangkan kebaya-nya sendiri, terutama kebaya encim, berasal dari nama encim atau enci untuk merujuk kepada seorang wanita Tionghoa yang sudah menikah. Kebaya encim biasanya dipakai oleh wanita Tionghoa di kota-kota pesisir Jawa yang mempunyai permukiman Tionghoa yang cukup besar. seperti Semarang, Lasem, Tuban, Surabaya, Pekalongan dan Cirebon. Busana kebaya ini berbeda dari kebaya Jawa dengan bordiran yang lebih kecil dan halus-nya, kain ringan dan warna yang lebih cerah. Mereka juga mengembangkan pola batik mereka sendiri, yang menggabungkan simbol dari Tiongkok. Kebaya encim cocok dipakai dengan kain batik Jawa pesisiran berwarna cerah, yang menggunakan simbol dan motif dari Tiongkok, seperti naga, feniks, peony dan teratai. Para Baba biasanya akan mengenakan baju lokchuan (yang merupakan busana penuh orang-orang Tionghoa), namun generasi muda memakai hanya bagian atasannya yang merupakan jaket sutra lengan panjang dengan kerah Tionghoa, atau kemeja batik.

Agama



Klenteng di Makassar, antara 1900-1920.
Peranakan biasanya berkeyakinan Tionghoa: Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme Tiongkok (Mahayana), merayakan Tahun Baru Imlek dan Festival Lampion, sembari mengadopsi adat istiadat tanah yang mereka tinggali, dan adat istiadat orang-orang penguasa kolonial. Telah ditemukan jejak-jejak kebudayaan Portugis, Belanda, Inggris, Melayu dan pengaruh Nusantara (Indonesia) dalam kebudayaan Baba Melayu. Sejumlah keluarga Baba Nyonya zaman dahulu adalah, dan masih merupakan penganut agama Katolik. Namun dalam masyarakat modern, banyak masyarakat Peranakan muda telah memeluk agama Kristen Protestan. Terutama di Indonesia, negara dengan jumlah Peranakan terbesar di dunia, di mana sebagian besar orang Tionghoa beragama Kristen. Namun terdapat pula kaum Peranakan yang memeluk agama Islam tersebar di Indonesia dan Malaysia.

Masakan



Ayam buah keluak, masakan tradisional Peranakan.
Dari pengaruh Melayu yang unik, Masakan Peranakan (atau juga disebut Masakan "Nyonya" di Singapura dan Malaysia) telah dikembangkan dengan menggunakan rempah-rempah khas Melayu. Contohnya adalah Ayam Kapitan, kari ayam kering, dan Inchi Kabin, versi Peranakan dari ayam goreng. Pindang bandeng adalah sup ikan umum yang disajikan di Indonesia selama tahun baru Imlek dan begitu pula kue bulan putih bulat dari Tangerang yang biasanya digunakan selama Festival Musim Gugur. Swikee Purwodadi adalah masakan Peranakan dari Purwodadi, yang merupakan masakan daging katak.

Nyonya Laksa adalah hidangan yang sangat populer di Singapura dan Malaysia, begitu pula Kueh Lapis, sejenis kue yang bertingkat, paling sering dimakan di Tahun Baru Imlek untuk melambangkan tangga kemakmuran.

Sejumlah kecil restoran yang menyajikan makanan Nyonya dapat ditemukan di Singapura; Penang dan Malaka di Malaysia; dan Jakarta, Semarang, Surabaya di Indonesia.

Perkawinan


Sepasang mempelai Peranakan di Salatiga, sekitar 1918.
Adalah hal biasa bagi pedagang Tionghoa awal dahulu untuk mengambil perempuan Melayu dari Semenanjung Malaya atau Sumatera sebagai istri atau selir. Akibatnya, Peranakan memiliki campuran yang sinergis dari ciri-ciri budaya Melayu-Tionghoa.

Catatan tertulis dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 menunjukkan bahwa pria Peranakan biasanya mengambil pengantin dari dalam komunitas Peranakan setempat. Keluarga Peranakan kadang-kadang mendatangkan pengantin wanita dari Tiongkok dan mengirim putri mereka ke Tiongkok untuk mencari suami.

Perkawinan dalam masyarakat sama dan berstatus serupa adalah norma bagi Peranakan dahulu. Orang kaya akan dipersiapkan untuk menikah dengan chin choay: Atau pernikahan matrilokal di mana suami pindah ke dalam keluarga istri.

Proposal pernikahan biasanya dilakukan dengan hadiah berupa Pinangan, sebuah keranjang dua-lapis yang dipernis, kepada orang tua pengantin wanita yang dimaksudkan dengan dibawa oleh seorang perantara yang berbicara atas nama lelaki yang melamar. Kebanyakan Peranakan bukan Muslim, dan telah mempertahankan tradisi pemujaan leluhur orang Tionghoa, meskipun banyak yang sekarang memeluk Kekristenan dan meninggalkan tradisi tersebut.

Upacara pernikahan Peranakan sebagian besar didasarkan pada tradisi Tionghoa, dan merupakan salah satu upacara pernikahan yang paling berwarna di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Pada pesta pernikahan Pernikahan dahulu, Dondang Sayang, sebuah bentuk lagu berima tanpa persiapan dalam bahasa Melayu yang dinyanyikan dan ditarikan oleh para tamu di pesta pernikahan, adalah sorotan acara. Seseorang akan memulai tema romantis yang kemudian dilanjutkan oleh orang lain, masing-masing turun ke lantai dansa pada gilirannya, menari dalam perputaran lambat sembari bernyanyi. Untuk itu diperlukan kecerdasan cepat dan jawaban yang tepat, dan sering memunculkan tawa dan tepuk tangan ketika sebuah frase yang sangat cerdas dinyanyikan. Aksen melodi dari Baba Nonya dan pergantian khusus frase mereka adalah pesona utama penampilan ini .

Museum



"Museum Peranakan", museum tentang Peranakan yang terbesar, Singapura.
Peninggalan sejarah dan budaya dari budaya Baba ditampilkan dalam museum budaya di Heeren Street, Jonker Street dan jalan-jalan lain di lingkungan yang sama di Malaka; "Pinang Peranakan Mansion" di Penang, Malaysia; dan di Museum Peranakan di Singapura. Mebel, makanan, dan bahkan tradisional pakaian dari Baba dan Nyonya juga dipamerkan di museum-museum ini. Pertunjukan mingguan yang gratis menampilkan pertunjukan Baba, dan pertunjukan budaya tradisional dan pop Tionghoa dapat ditemukan di Jonker Street di Malaka. Pertunjukan-pertunjukan ini adalah bagian dari pasar malam Malaka, dan biasanya penuh sesak dengan pembeli, baik lokal maupun asing.

Di Indonesia, populasi paling besar Peranakan dapat ditemukan di Tangerang, Jawa Barat.

Pertalian politik


Replika nampan teh enamel porselen dengan "fenghuang" (Feniks Tiongkok) tradisional Peranakan.
Kaum Peranakan kala itu secara finansial lebih makmur daripada etnis Tionghoa totok kelahiran Tiongkok. Kekayaan keluarga dan koneksi memungkinkan mereka untuk membentuk golongan elit Tionghoa-Selat, yang ketat kesetiaannya kepada Kerajaan Inggris atau Belanda. Karena kesetiaan yang ketat tersebut, kala itu kebanyakan dari mereka tidak mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia atau Malaysia sebelum paruh pertama abad ke-20.

Pada pertengahan abad kedua puluh, kebanyakan Peranakan adalah orang berpendidikan Inggris atau Belanda, sebagai akibat dari penjajahan bangsa Belanda di Hindia Belanda (Indonesia sekarang) dan Inggris di Malaya. Peranakan kala itu mudah memeluk budaya dan pendidikan Belanda atau Inggris sebagai sarana untuk memajukan perekonomian mereka, sehingga posisi-posisi administrasi dan pelayanan sipil sering diisi oleh Tionghoa Peranakan terkemuka. Banyak masyarakat Peranakan yang kemudian memilih untuk berpindah agama ke Kekristenan karena prestise yang dirasakan dan pilihan untuk kedekatan dengan Belanda dan Inggris.

Di Malaya Britania, komunitas Peranakan kemudian menjadi sangat berpengaruh di Malaka dan Singapura dan juga dikenal sebagai Tionghoa Raja karena kesetiaan mereka kepada Kerajaan Inggris. Karena interaksi mereka dengan budaya dan bahasa yang berbeda, sebagian besar Peranakan adalah (dan masih) menguasai tiga bahasa, mampu berkomunikasi dalam bahasa Tionghoa lisan, Melayu, dan Inggris (atau Belanda di Hindia-Belanda). Profesi mereka umumnya adalah sebagai pedagang, penjual, dan perantara umum antara Tionghoa, Malaya dan bangsa Barat; di mana mereka sangat dihargai secara khusus oleh Belanda dan Inggris karena hal ini.

Banyak hal mulai berubah pada paruh pertama abad ke-20, dengan sebagian Peranakan mulai mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Malaysia. Di Hindia-Belanda, tiga komunitas Peranakan mulai bergabung dan menjadi aktif dalam kancah politik perjuangan kemerdekaan. Kaum Peranakan juga adalah salah satu pelopor dari surat kabar Indonesia. Dalam perusahaan penerbitan yang masih muda, mereka menerbitkan ide-ide politik mereka sendiri bersama dengan kontribusi dari para penulis Indonesia lainnya. Pada bulan November 1928, Sin Po mingguan berbahasa Tionghoa (Hanzi tradisional: pinyin: xīn bào) adalah makalah pertama yang secara terbuka mempublikasikan naskah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mereka yang terlibat dalam kegiatan seperti ini dihadapkan pada risiko dipenjara atau bahkan kehilangan nyawa mereka, karena pemerintah kolonial Belanda melarang publikasi dan kegiatan nasionalis.

Kaum Peranakan dan Tionghoa juga aktif dalam mendukung gerakan kemerdekaan selama Masa Pendudukan Jepang tahun 1940-an, ketika "Asosiasi Tionghoa Perantauan", atau asosiasi penduduk keturunan Tionghoa (Hanzi tradisional: pinyin: Huáqiáo Zhōnghuì) dilarang oleh penguasa militer Jepang. Beberapa aktivis pro-kemerdekaan Indonesia yang terkenal adalah Siauw Giok Tjhan, Liem Koen Hian, dan Yap Tjwan Bing, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Status saat ini

Budaya Peranakan telah mulai menghilang di Malaysia dan Singapura. Tanpa dukungan kolonial Inggris terhadap netralitas ras mereka, kebijakan pemerintah di kedua negara setelah kemerdekaan dari Inggris telah mengakibatkan asimilasi budaya Peranakan kembali ke aliran umum budaya Tionghoa. Singapura kemudian mengklasifikasikan Peranakan sebagai etnis Tionghoa, sehingga mereka menerima instruksi formal dalam bahasa Mandarin alih-alih Melayu sebagai bahasa kedua (sesuai dengan "Kebijakan Bahasa Ibu"). Di Malaysia, standarisasi semua Melayu ke dalam Bahasa Melayu - yang diperuntukkan untuk semua kelompok etnis - telah menyebabkan hilangnya karakteristik unik dari para Baba Melayu.
Di Indonesia, budaya Peranakan kehilangan popularitas dibandingkan budaya Barat modern, namun dalam beberapa tingkat kaum Peranakan mencoba untuk mempertahankan bahasa, masakan, dan adat istiadat mereka. Peranakan muda masih berbicara bahasa kreol mereka, meskipun banyak perempuan muda Peranakan tidak memakai kebaya. Pernikahan biasanya mengikuti budaya barat karena kebiasaan tradisional Peranakan kehilangan popularitas. Tercatat hanya tiga komunitas peranakan yang masih menjunjung tinggi adat pernikahan tradisional Peranakan, yaitu: Tangerang (oleh orang Tionghoa Benteng), Peranakan Makassar dan Peranakan Padang. Dari tiga komunitas tersebut, orang Tionghoa Benteng adalah yang paling patuh terhadap budaya Peranakan, namun jumlah mereka semakin berkurang.

Orang Tionghoa Benteng biasanya hidup sebagai golongan ekonomi bawah, banyak dari mereka mencari peluang di bidang lain. Beberapa organisasi mencoba untuk meringankan beban hidup mereka. Hingga Mei 2012, sekitar 108 keluarga Tionghoa Benteng terancam tergusur dari rumah tradisional mereka. Alasan dari pemerintah Tangerang adalah bahwa daerah tersebut sebenarnya dimaksudkan sebagai lahan hijau untuk kota. Hal ini menimbulkan masalah karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang berpenghasilan rendah dan tidak tahu di mana untuk berpindah, sedangkan pemerintah juga tidak memberikan uang kompensasi yang cukup untuk membeli rumah baru. Beberapa upaya penggusuran di 2010 dan 2011 yang berakhir dengan kekerasan, telah menyebabkan trauma bagi mereka.

Migrasi dari banyak keluarga Peranakan, khususnya yang berkecukupan, telah menyebabkan terciptanya diaspora Peranakan kecil di negara-negara tetangga, dari Vietnam ke Australia. Namun, komunitas ini sangat kecil, dan dengan meningkatnya penggunaan berbagai bahasa di negara masing-masing, penggunaan bahasa Peranakan Melayu atau Baba Melayu telah semakin tidak terlihat.

Asosiasi saat ini

Asosiasi Tionghoa Peranakan antara lain Peranakan Association of Singapore, Aspertindo (Asosiasi Peranakan Indonesia) dan Asosiasi Gunung Sayang, sebuah kelompok seni pertunjukan. Asosiasi Peranakan saat ini memiliki sekitar 1.700 anggota, dan Gunung Sayang memiliki sekitar 200 anggota. Meskipun Asosiasi Peranakan terdiri dari campuran orang muda dan tua, Asosiasi Gunung Sayang memiliki anggota yang kebanyakan oran tua atau pensiunan. Di Malaka, terdapat Asosiasi India Peranakan yang dikenal sebagai Chetti Melaka. Asosiasi ini adalah sebuah komunitas erat dari penganut Hindu Shaivisme. Chetti Peranakan menampilkan banyak kemiripan dengan Tionghoa Peranakan dalam hal berpakaian, lagu dan tarian, misalnya pantun rakyat.

Dalam budaya populer

Seiring bergulirnya Era Reformasi di Indonesia dan dihilangkannya pelarangan terhadap kebudayaan Tionghoa, pada tahun 1999, penulis Indonesia Remy Sylado merilis sebuah novel berjudul Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa yang mengangkat kebudayaan dan sejarah orang Peranakan di Indonesia. Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film berjudul Ca-bau-kan oleh Nia Dinata pada tahun 2002. Sebuah novel yang mengangkat sejarah dan kebudayaan orang Tionghoa Benteng berjudul Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Tionghoa Benteng yang ditulis Pralampita Lembahmata diterbitkan oleh Gramedia pada 2011.

Tokoh-tokoh peranakan

Indonesia

  • Agnes Monica - Penyanyi Indonesia
  • Basuki Tjahaja Purnama - Politisi Indonesia
  • Chris John - Atlet tinju profesional Indonesia
  • Ganes TH. - Komikus Indonesia
  • Hanung Bramantyo - Sutradara Indonesia
  • Kwee Tek Hoay - jurnalis, sastrawan, novelis Hindia Belanda
  • Kwik Kian Gie - Ekonom Indonesia
  • Liem Swie King - Atlet bulu tangkis Indonesia
  • Marga T - Novelis Indonesia
  • Mari Pangestu - Ekonom Indonesia
  • Rudy Hartono - Atlet bulu tangkis Indonesia
  • Soe Hok Gie - Aktivis mahasiswa Indonesia
  • Susi Susanti - Atlet bulu tangkis Indonesia
  • Titi DJ - Penyanyi Indonesia

 

Malaysia

  • Tun Dato Sri Tan Cheng Lock - Pendiri dan presiden pertama Malaysian Chinese Association (MCA)
  • Tun Tan Siew Sin - Presiden ketiga Malaysian Chinese Association (MCA)
  • Nyonya Chuah Guat Eng - Novelis

Singapura

  • Goh Keng Swee - Deputi Perdana Menteri pertama Singapura
  • Lee Kuan Yew - Perdana Menteri pertama Singapura
  • Lee Hsien Loong - Perdana Menteri ketiga Singapura, putra Lee Kuan Yew
  • Wee Kim Wee - Presiden keempat Singapura
  • Dick Lee - Penyanyi, komposer dan dramawan
  • Pierre Png - Artis
  • Tony Tan Keng Yam - Presiden ketujuh Singapura
  • Shengen Lim - Artis kontemporer
 -wiki-

Rabu, 15 Oktober 2014

Kelompok etnik

arifuddinali.blogspot.com - Kelompok etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis.

Menurut pertemuan internasional tentang tantangan-tantangan dalam mengukur dunia etnis pada tahun 1992, "Etnisitas adalah sebuah faktor fundamental dalam kehidupan manusia. Ini adalah sebuah gejala yang terkandung dalam pengalaman manusia" meskipun definisi ini seringkali mudah diubah-ubah. Yang lain, seperti antropolog Fredrik Barth dan Eric Wolf, menganggap etnisitas sebagai hasil interaksi, dan bukan sifat-sifat hakiki sebuah kelompok. Proses-proses yang melahirkan identifikasi seperti itu disebut etnogenesis. Secara keseluruhan, para anggota dari sebuah kelompok suku bangsa mengklaim kesinambungan budaya melintasi waktu, meskipun para sejarawan dan antropolog telah mendokumentasikan bahwa banyak dari nilai-nilai, praktik-praktik, dan norma-norma yang dianggap menunjukkan kesinambungan dengan masa lalu itu pada dasarnya adalah temuan yang relatif baru
 

Garis keturunan

Anggota suatu suku bangsa pada umumnya ditentukan menurut garis keturunan (patrilinial) seperti suku Batak, menurut garis keturunan ibu (matrilineal) seperti suku Minang, atau menurut keduanya seperti suku Jawa. Adapula ditentukan menurut agamanya, sebutan Melayu di Malaysia untuk orang bumiputera yang muslim, orang Serani bagi yang beragama Nasrani (peranakan Portugis seperti orang Tugu), suku Muslim di Bosnia, orang Moro atau Bangsa Moro di Filipina Selatan, dan sebagainya.

Suku bangsa campuran

Adapula suku bangsa berdasarkan percampuran ras seperti Orang Peranakan yang merupakan campuran bangsa Melayu dengan Tionghoa, orang Indo sebutan campuran bule dengan bangsa Melayu, orang Mestis untuk campuran Hispanik dengan bumiputera, orang Mulato campuran ras Negroid dengan ras Kaukasoid, Eurosia, dan sebagainya.
-wiki-

Sabtu, 04 Oktober 2014

Taufik Ismail: Kami Muak dan Bosan

arifuddinali.blogspot.com - Kick Andy: Penyair Taufik Ismail membawakan puisi berjudul "Kami Muak dan Bosan" dalam acara Kick Andy, Jumat (3/10/2014).



Sumber: http://video.metrotvnews.com

KPK akan Tangkap Orang Kuat dalam Waktu Dekat

arifuddinali.blogspot.com - Kick Andy: KPK disebut-sebut akan menangkap orang kuat di negeri ini dalam waktu dekat. Ketua KPK Abraham Samad menanggapi, itu adalah target sebelum masa kepemimpinan periode saat ini habis, Jumat (3/10/2014).



Sumber: : metro

Sabtu, 27 September 2014

Dunia Menyoroti Demokrasi Indonesia

arifuddinali.blogspot.com - Keputusan DPR meloloskan undang-undang yang mengembalikan proses pemilihan kepala daerah kepada DPRD mendapat sorotan besar media massa dan pengamat asing. Laman The New York Times menyebut ini sebagai kemunduran dalam transisi demokrasi dan perebutan kekuasaan secara telanjang oleh elite politik.

Media massa terkemuka lain, seperti BBC dan The Guardian (Inggris), majalah Time (Amerika Serikat), serta The Sydney Morning Herald dan Brisbane Times (Australia), juga memberikan porsi cukup besar pada isu tersebut, Jumat (26/9).

Laman majalah Time, harian The New York Times, dan The Sydney Morning Herald menyoroti reaksi keras dan kemarahan masyarakat Indonesia, yang menyebut pengesahan UU ini sebagai kemunduran besar demokrasi Indonesia. Mereka antara lain mengutip penilaian Gubernur DKI Jakarta dan presiden terpilih Joko Widodo sebelum UU kontroversial tersebut disetujui dalam Sidang Paripurna DPR pada Jumat dini hari.

#ShameOnYouSBY

Time memberitakan, kemarahan warga terutama diarahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat yang dipimpinnya. Hal itu karena Partai Demokrat melakukan walk out yang menyebabkan kemenangan kubu pendukung UU pilkada tak langsung, yang dimotori partai politik anggota Koalisi Merah Putih.

Kekecewaan warga ini umumnya disalurkan melalui sejumlah media sosial. BBC mengutip topik terpopuler di salah satu akun Twitter, yang menuliskan ”Rest in Peace Democracy”. Time mengutip komentar keras bertanda pagar #ShameOnYouSBY, yang menjadi topik terpopuler sepanjang Jumat.

Adapun The Guardian mengutip blog yang ditulis Andrew Thornley, pakar pemilu Indonesia dari Asia Foundation.

”Sangat sulit untuk tidak melihat UU ini sebagai sebuah manuver politik untuk mengembalikan otoritas elektoral dari rakyat ke partai politik, pada saat kemenangan (rakyat) melalui pemilihan presiden langsung kemarin,” tulis Thornley.

Dr Colin Brown, profesor kehormatan Universitas Griffith, Australia, dan pengajar politik Indonesia, kepada koresponden Kompas di Brisbane, Australia, Harry Bhaskara, mengatakan, UU yang baru disahkan itu sesuatu yang patut disayangkan.

Brown menilai UU itu sebagai langkah mundur bagi proses demokrasi Indonesia. Dia meyakini itu sebagai cara partai politik tertentu mencegah kemunculan orang-orang seperti Joko Widodo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Brown meyakini UU tersebut akan menjadi ancaman besar terhadap pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla. Dengan dikembalikannya proses pilkada ke DPRD, parpol akan kembali mengambil kendali jalannya politik di Indonesia.

Adapun The Sydney Morning Herald mengutip menteri era Orde Baru, Sarwono Kusumaatmadja, yang menyebut UU itu hanya akan mengalihkan aliran politik uang kepada kelompok oligarki politik, sedangkan rakyat tetap menjadi korban.

Negatif

Pengesahan UU Pilkada juga mendapat reaksi negatif pasar. Aksi jual melanda perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal perdagangan sebagai respons atas keputusan DPR ini. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terempas hingga 1,85 persen sebelum ditutup turun 68 poin (1,32 persen) ke level 5.132,56.

Investor asing melepas kepemilikan saham-saham unggulan, seperti Bank Mandiri, Bank BRI, Astra International, Bank BNI, dan Semen Indonesia. Mereka mencatat penjualan bersih hingga Rp 1,4 triliun sehingga catatan pembelian bersih di BEI melorot menjadi Rp 49,9 triliun.

Di pasar spot, rupiah juga kembali turun dan menembus level psikologis di Rp 12.023 per dollar AS, melemah sekitar 0,3 persen. Jika dilihat sejak awal bulan September, nilai rupiah turun sekitar 2,8 persen terhadap dollar AS dan sekitar 1,2 persen atas dollar AS jika dilihat sejak awal tahun ini. (baranews.co 27092014)

Jumat, 26 September 2014

Jalannya Voting RUU Pilkada

arifuddinali.blogspot.com - Voting RUU Pilkada selesai digelar. Ada dua opsi, yaitu pilkada langsung atau lewat DPRD. Ada 135 anggota DPR mendukung pilkada langsung dan 226 mendukung pilkada lewat DPRD.
 


Ini Hasil Voting RUU Pilkada

Dengan aksi walkout Partai Demokrat, opsi "Pilkada langsung" kalah telak dari "Pilkada melalui DPRD" dalam pemungutan suara di sidang paripurna DPR yang berlangsung hingga Jumat (26/9) dinihari.

Untuk diketahui, opsi Pilkada melalui DPRD memang didukung lebih banyak partai politik yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih.

Suara Fraksi Partai Demokrat menjadi menentukan karena mereka memiliki sekitar 100 anggota, namun begitu fraksi menyatakan walkout dan hanya menyisakan segelintir orang, kemenangan kubu Koalisi Merah Putih sudah bisa ditebak.

Berikut hasil pemungutan suara yang dilakukan secara terbuka:
 
Fraksi Langsung DPRD
Golkar 11 73
PDIP 88 0
PKS 0 55
PAN 0 44
PPP 0 32
PKB 20 0
Gerindra 0 22
Hanura 10 0
Demokrat 6 0
TOTAL 135 226

Sumber: beritasatu.com - Jumat, 26 September 2014 | 01:49

Berita

Loading...

Arah Kiblat