SELAMAT DATANG DI BLOG ARIFUDDIN ALI.

Kamis, 29 Maret 2012

Nama-Nama Khalifah Abbasiyah di Baghdad

1. As-Saffah

Abu al-'Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721 - 754) (Bahasa Arab: أبو العباس عبد الله بن محمد السفاح) merupakan khalifah pertama Bani Abbasiyah. Bani Abbasiyah berkuasa antara 750 sampai 1258, dan ia berkuasa sampai kematiannya pada 754. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul-Muththalib bin Hasyim.

1.1. Keluarga

Abu al-'Abbas merupakan pemimpin salah satu cabang Bani Hashim, yang menisbatkan nasabnya kepada Hasyim, buyut Nabi Muhammad, melalui al-Abbas, paman Nabi SAW. Bani Hasyim mendapat dukungan besar dari golongan Syi’ah yang berpikir bahwa keluarganya, yang telah diturunkan dari Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Thalib, akan menurunkan pemimpin besar lainnya atau Mahdi yang akan membebaskan Islam. Kebijakan tanggung-tanggung penguasa terakhir Umayyah untuk mentoleransi Muslim non-Arab dan Syi’ah telah gagal memadamkan kerusuhan antara minoritas-minoritas itu.

1.2. Pemberontakan terhadap Bani Umayyah

Kerusuhan ini menimbulkan pemberontakan selama masa Hisyam bin Abdul-Malik di Kufah, kota terkenal di Irak selatan. Muslim Syi’ah memberontak pada 736 dan menguasai kota sampai 740, dipimpin Zaid bin Ali, cucu Husain bin Ali. Pemberontakan Zaid gagal, dan dipadamkan oleh pasukan Bani Umayyah pada 740. Pemberontakan di Kufah menandai kuatnya Bani Umayyah dan bertambahnya kekacauan di Dunia Islam.

Abu al-'Abbas memilih berfokus ke Khurasan, daerah militer penting di Iran timur. Pada 743, kematian Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul-Malik meletuskan perang saudara di dalam Khilafah Islam. Abu al-'Abbas, didukung oleh Syi’ah, Khawarij, dan daerah Khurasan, memimpin pasukannya menang terhadap Bani Umayyah dan akhirnya menjatuhkan penguasa terakhirnya Marwan II pada 750.

Perang saudara ditandai dengan oleh kenabian 1000 tahun yang didorong sejumlah Syi’ah bahwa Abu al-'Abbas merupakan mahdi. Sejumlah sarjana Muslim yang menonjol menulis karya seperti Jafr yang mengatakan muslimin yang setia bahwa perang saudara yang brutal merupakan konflik besar antara yang hak dan batil. Pilihan Bani Umayyah memasuki pertempuran dengan bendera putih dan Bani Abbasiyah memasukinya dengan bendera hitam membesarkan teori-teori itu. Warna putih, bagaimanapun dianggap kebanyakan orang Persia sebagai tanda duka cita.

Mengenai bahwa ada kemungkinan kembalinya kekuatan Khilafah Bani Umayyah, Abu al-'Abbas mencari-cari seluruh anggota yang tersisa dari keluarga Umayyah untuk menghukum mati mereka. Itulah yang membuat, pelarian ke al-Andalus, atau Spanyol, dipimpin oleh Abd ar-Rahman I di mana Khilafah Bani Umayyah akan bertahan selama 3 abad. Karena usahanya untuk menyingkirkan keluarga Bani Umayyah, Abu al-'Abbas memperoleh julukan as-Saffah, atau tulisan berdarah.

 

1.3. Masa Kekuasaan

Setelah kemenangan terhadap Bani Umayyah, pemerintahan pendek Abu al-'Abbas ditandai dengan usaha mengkonsolidasi dan membangun kembali Khilafah. Para pendukungnya diwakili dalam pemerintahan baru, namun selain dari kebijakannya terhadap keluarga Umayyah, Abu al-'Abbas secara luas dipandang sejarawan sebagai pemenang yang mendingan. Orang-orang Yahudi, Kristen Nestorian, dan Persia secara baik diwakili dalam pemerintahan Abu al-'Abbas dan dalam meneruskan administrasi Abbasiyah. Pendudukan juga didorong, dan pabrik kertas pertama didirikan di Samarkand.

Sama-sama revolusioner merupakan perbaikan pasukan Abu al-'Abbas, yang beranggotakan termasuk non-Muslim dan non-Arab sangat berbeda dengan Bani Umayyah yang menolak pasukan dari 2 golongan itu. Abu al-'Abbas memilih yang berbakat Abu Muslim sebagai komandan militernya, yang akan menjabat sampai 755 dalam ketentaraan.

 

1.4. Pengingkaran janji

Abu al-'Abbas mengingkari janjinya terhadap kelompok Syi'ah dalam menyatakan Khilafah untuk dirinya sendiri. Kelompok Syi’ah telah berharap bahwa imam mereka akan dinamai sebagai Khalifah, membuka masa perdamaian dan kemakmuran yang milenialis telah percaya akan datang. Pengkhianatan mengasingkan pendukung Syi’ah Abu al-'Abbas, meski hubungan baik yang berjalan terus dengan kelompok lain membuat penguasaan Bani Umayyah nyata lebih mudah terpecahkan daripada Umayyah.

Abu al-'Abbas meninggal pada 755, hanya 5 tahun setelah menjatuhkan Bani Umayyah. Ia digantikan saudaranya al-Mansur.

1.5. Referensi

  1. AS-SUYUTHI, Imam; TARIKH KHULAFA`, Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: AL-KAUTSAR, 2006. ISBN 979-592-175-4

2. Al-Mansur

Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur (712–775; Arab: ابو جعفر عبدالله ابن محمد المنصور) merupakan Khalifah kedua Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di al-Humaymah, kampung halaman keluarga Abbasiyah setelah migrasi dari Hejaz pada tahun 687-688. Ayahnya adalah, Muhammad, cicit dari Abbas; ibunya bernama Salamah al-Barbariyah, adalah wanita dari suku Barbar.[1] Ia dibaiat sebagai khalifah karena penobatannya sebagai putera mahkota oleh kakaknya, As-Saffah pada tahun 754, dan berkuasa sampai 775. Pada tahun 762 ia mendirikan ibukota baru dengan istananya Madinat as-Salam, yang kemudian menjadi Baghdad.

al-Mansur tersangkut dengan kerasnya masa pemerintahannya setelah kematian saudaranya al-'Abbas. Pada 755, ia menyusun pembunuhan Abu Muslim, jenderal yang telah memimpin pasukan al-'Abbas menang terhadap keluarga Umayyah dalam perang saudara ke-3. Ia berusaha memastikan bahwa keluarga Abbasiyah ialah yang tertinggi dalam urusan negara, dan kedaulatannya atas Khilafah akan tak diragukan lagi.

Ia menyatakan, sebagaimana yang telah ditempuh Khilafah Bani Umayyah, menyelenggarakan otoritas keagamaan dan keduniawian. Secara lebih lanjut mengasingkan Muslim Syi’ah yang telah terjadi, selama masa pemerintahan al-'Abbas, menginginkan Imam Syi’ah mengangkat khalifah.

Selama masanya, karya sastra dan ilmiah di Dunia Islam mulai muncul dalam kekuatan penuh, didukung toleransi terhadap orang-orang Persia dan kelompok lain. Walau Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abd al-Malik telah mengambil praktik peradilan Persia, itu tak sampai masa al-Mansur jika sastra dan ilmu pengetahuan Persia sampai mendapat penghargaan yang sebenarnya di Dunia Islam. Munculnya Shu'ubiya di antara sarjana Persia terjadi selama masa pemerintahan al-Mansur sebagai akibat hilangnya sensor atas Persia. Shu'ubiya merupakan gerakan sastra antara orang Persia yang menunjukkan kepercayaan mereka bahwa seni dan budaya Persian lebih tinggi daripada Arab; gerakan, membantu mempercepat munculnya dialog Arab-Persia di abad ke-8.

Barangkali yang lebih penting daripada munculnya ilmu pengetahuan Persia ialah masuknya banyak orang non-Arab ke dalam Islam. Secara aktif Bani Umayyah mencoba mengecilkan jumlah masuknya agar melanjutkan pungutan jizyah, atau pajak terhadap non-Muslim. Keinklusifan Bani Abbasiyah, dan bahwa al-Mansur, memandang ekspansi Islam di antara daerahnya; pada 750, sekitar 8% penduduk Negara Khilafah itu Muslim. Ini menjadi 2 kali lipat 15% dari akhir masa al-Mansur.

Al-Mansur meninggal pada 775 dalam perjalanannya ke Makkah untuk berhaji. Ia dimakamkan entah di mana di sepanjang jalan dalam salah satu ratusan nisan yang telah digali untuk menyembunyikan badannya dari orang-orang Umayyah. Ia digantikan putranya al-Mahdi.


3. Al-Mahdi

Muhammad bin Mansur al-Mahdi (berkuasa 775–785) adalah khalifah ketiga Bani Abbasiyah. Ia menggantikan ayahnya al-Mansur.

Al-Mahdi, yang namanya berarti "Pemimpin yang Baik" atau "Penebus", diangkat sebagai kholifah saat ayahnya di akhir hidupnya. Masa pemerintahannya yang damai melanjutkan kebijakan para pendahulunya.
Pendekatan dengan Muslim Syi’ah di dalam kekhilafahan terjadi di bawah pemerintahan al-Mahdi. Keluarga Barmakid yang amat kuat, yang telah menasihati Kholifah sejak masa al-'Abbas sebagai wazir, memperoleh kekuatan besar yang sama pada masa al-Mahdi, dan bekerja dekat dengan kholifah untuk menjamin kemakmuran Daulah Bani Abbasiyah.

Kota kosmopolitan Bagdad berkembang selama masa al-Mahdi. Kota itu menarik pendatang dari seluruh Arab, Irak, Suriah, Persia, dan daerah sejauh India dan Spanyol. Bagdad merupakan tempat tinggal orang Kristen, Yahudi, Hindu, dan Zoroastrianisme, di samping bertambahnya penduduk Muslim. Menjadi kota terbesar dunia di luar Tiongkok.

Al-Mahdi melanjutkan mengembangkan administrasi Bani Abbasiyah, menciptakan diwan baru, atau departemen, untuk ketentaraan, peradilan, dan perpajakan. Qadi atau hakim diangkat, dan hukum terhadap non-Arab dikeluarkan.

Keluarga Barmakid mengangkat pegawai ke departemen-departemen itu. Orang-orang Barmakid, dari keturunan Persia, awalnya Buddha, namun segera sebelum kedatangan orang-orang Arab, mereka telah masuk Zoroastrianisme. Warisan Islam umur pendeknya akan berlaku terhadap mereka selama masa Harun ar-Rasyid.

Orang-orang Barmakid memperkenalkan kertas dari India, yang belum digunakan di Barat – orang-orang Arab dan Persia menggunakan papirus, dan orang-orang Eropa menggunakan kulit hewan. Industri kertas bertambah di Bagdad di mana seluruh jalan di pusat kota menjadi tercurah pada penjual kertas dan buku. Kemurahan dan daya tahan kertas amat berarti pada perkembangan tepat guna birokrasi Abbasiyah yang sedang berkembang.

Al-Mahdi memiliki dua kebijakan keagamaan yang penting: penghukuman terhadap zanadiqa, atau dualis, dan pernyataan ketaatan pada Islam. Al-Mahdi mengkhususkan penghukuman terhadap zanadiqa untuk pendiriannya pendiriannya di antara orang-orang Syi’ah yang murni, yang menginginkan perlakuan yang lebih kuat pada kebid’ahan, dan menemukan penyebaran kelompok politeis muslim sinkretis terutama yang jahat. Al-Mahdi menyatakan bahwa kholifah memiliki kemampuan – dan sungguh-sungguh, tanggung jawab – mendefinisikan ketaatan seorang Muslim, agar melindungi umat terhadap bid’ah. Walau al-Mahdi tak membuat penggunaan besarnya, kekuatan baru, akan menjadi penting selama krisis mihna dari masa al-Ma'mun.

4. Al-Hadi

Abu Muhammad, Musa bin Al-Mahdi al-Hadi (dilahirkan di Rayy, pada 147 H atau 764 – meninggal pada 14 September 786) adalah Khalifah Bani Abbasiyah yang menggantikan ayahnya Al-Mahdi dan memerintah antara tahun 785 sampai kematiannya pada 786.

Al-Hadi merupakan putra sulung Al-Mahdi, seperti ayahnya ia sangat terbuka kepada semua orang di negerinya dan mengizinkan orang awam untuk mengunjunginya di istana Baghdad untuk berbicara dengannya. Sebagai, ia dianggap sebagai penguasa yang selalu mendapat penerangan, dan melanjutkan gerakan progresif dari para pendahulunya.

Pemerintahannya yang pendek ditimbulkan dengan sejumlah konflik militer lebih dulu. Pemberontakan Husain bin Ali bin Hasan pecah saat Husain menyatakan dirinya sebagai kholifah di Madinah. Al-Hadi memadamkan pemberontakan dan membunuh Husain dan kebanyakan pendukungnya, namun saudara Husain melarikan diri ke Maroko di mana ia kelak mendirikan negara Idrisi. al-Hadi juga harus memadamkan pemberontakan Kharijite sebagaimana berhadapan dengan serbuan Bizantium. Bagaimanapun, Bizantium kembali lagi, dan pasukan Abbasiyah betul-brtul mendapatkan beberapa daerah Bizantium.

Al-Hadi meninggal pada 786 secara alamiah. Beberapa orang telah menyatakan bahwa ia dibunuh seseorang yang diupah ibunya sendiri, namun sejarawan Muslim terkenal Ibnu Khaldun tak mempercayai pernyataan ini. Al-Hadi digantikan adiknya Harun al-Rashid.


5. Harun Ar-Rasyid

Khalifah Baghdad
Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan.

Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang keempat.Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.

berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran). Di masa mudanya, Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid Al-Barmak.

Era pemerintahan Harun, yang dilanjutkan oleh Ma'mun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.

Di masa pemerintahannya beliau :
  • Mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.
  • Membangun kota Baghdad yang terletak diantara sungai eufrat dan tigris dengan bangunan-bangunan megah.
  • Membangun tempat-tempat peribadatan.
  • Membangun sarana pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan.
  • Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian.
  • Membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana.

6. Al-Amin

Muhammad bin Harun al-Amin (Arab محمد الأمين بن هارون الرشيد) (787 – 813) adalah seorang khalifah dari Bani Abbasiyah. Ia berkuasa selama 4 tahun 8 bulan (809-813)[1].

6.1. Pembai'atan

Ketika memasuki kota Thus untuk menangani pergolakan yang dipimpin oleh Rafi' bin Al-Laits bin Nashar, Khalifah Harun Ar-Rasyid jatuh sakit. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia.

Sebelumnya, Harun ar-Rasyid telah memutuskan pergantian kekuasaan putranya selama haji ke Makkah. Al-Amin, akan menerima jabatan khalifah dan al-Ma'mun akan menjadi gubernur Khurasan di Persia Timur. Pada kematian al-Amin, menurut keputusan Harun, al-Ma'mun akan menjadi khalifah menggantikannya.

Putra termuda sang Khalifah, Shalih bin Harun, segera mengambil baiat dari seluruh pasukan di tempat itu untuk saudara tertuanya, Muhammad bin Harun di Baghdad. Selanjutnya, ia mengirimkan utusan ke Baghdad untuk menyampaikan berita kemangkatan sang Khalifah dan mengirimkan Al-Khatim (stempel kebesaran) dan Al-Qadhib (tongkat kebesaran), serta Al-Burdah (jubah kebesaran) pada Muhammad bin Harun.

Begitu mendengar berita wafatnya sang ayah, Muhammad bin Harun yang menjabat gubernur Baghdad segera menuju Masjid Agung Baghdad. Berlangsunglah baiat secara umum. Muhammad bin Harun Ar-Rasyid menjabat khalifah keenam Daulah Abbasiyah pada usia 24 tahun. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai Khalifah Al-Amin.

 

6.2. Serangan dari Imperium Byzantium

Meninggalnya Harun Ar-Rasyid dianggap sebagai peluang emas bagi Kaisar Nicephorus untuk membantalkan kembali perjanjian damai dengan Daulah Abbasiyah. Ia segera menggerakkan pasukannya untuk menyerang perbatasan bagian utara Syria dan bagian utara Irak. Khalifah Al-Amin segera mengirimkan pasukan untuk menghalau serangan itu. Berlangsung pertempuran cukup lama yang berujung pada tewasnya sang kaisar.[1]

 

6.3. Pergolakan di Kota Hims[1]

Di kota Hims juga terjadi pergolakan. Karena tak mampu memadamkan pemberontakan, Khalifah Al-Amin memecat Gubernur Ishak bin Sulaiman dan menggantinya dengan Abdullah bin Said Al-Harsy. Keamanan pun pulih kembali di bawah kendali gubernur baru itu.

 

6.4. Khalifah Baru di Damaskus[1]

Pada 195 H muncul seorang tokoh berpengaruh di Damaskus. Ia adalah Ali bin Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Karenanya, ia dikenal sebutan As-Sufyani. Tokoh ini menjadi lebih berpengaruh karena tak hanya merupakan keturunan Bani Umayyah, tetapi juga Bani Hasyim. Ibunya adalah putri Abdullah bin Abbas bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan silsilah keturunannya ini, ia sering berkata, "Saya adalah putra dua tokoh yang pernah bertentangan di Shiffin." Maksudnya Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Ia menyatakan berdirinya khilafah baru di Damaskus. Namun masa pemerintahannya tidak berlangsung lama. Panglima Ibnu Baihas segera mengepung Damaskus dan menaklukkan penduduk kota itu. Sedangkan tokoh As-Sufyani melenyapkan diri entah kemana.

 

6.5. Suksesi Berdarah

Di antara seluruh Khalifah Abasiyah, hanya Khalifah Al-Amin yang ayah dan ibunya keturunan Bani Hasyim (Arab). Ayahnya Harun Ar-Rasyid dan ibunya Zubaidah binti Ja'far bin Manshur masih keturunan Bani hasyim. Sedangkan Al-Makmun, yang menjadi calon khalifah penggantinya, masih keturunan Iran dari garis ibunya.

Oleh sebab itu, beberapa pihak membujuk Khalifah Al-Amin untuk membatalkan hak khilafah Al-Makmun, dan menggantinya dengan putranya sendiri, Musa bin Muhammad Al-Amin. Semula Khalifah Al-Amin menolak.[1] Tetapi, karena terus didesak dan dibujuk, ia pun melakukan pembatalan itu dan mengangkat putranya sebagai calon khalifah dengan gelar An-Nathiq bil Haq.
Tentu saja tindakan ini memancing amarah Al-Makmun. Saat itu, ia berada di Khurasan di tengah keluarga besarnya. Permintaan sang Khalifah yang mengundangnya kembali ke Baghdad tak ia penuhi. Bahkan ia pun diba'iat dan dinyatakan sebagai khalifah.[1]

Mendengar kejadian tersebut, Khalifah Al-Amin segera mengirimkan pasukan ke Khurasan di bawah pimpinan Panglima Ali bin Isa bin Mahan. Al-Makmun pun segera menyiapkan pasukannya di bawah komando Thahir bin Hasan.

Kedua pasukan bertemu di kota Ray (saat ini Teheran). Pertempuran pun tidak berlangsung lama. Panglima Ali bin Isa tewas. Berita kekalahan itu sangat mengejutkan Khalifah Al-Amin. Ia pun segera mengirimkan pasukan bantuan di bawah komando Panglima Ahmad bin Mursyid dan Panglima Abdullah bin Humaid. Dalam perjalanan menuju Khurasan, terjadi perselisihan sengit antara dua panglima. Pasukan itu pun kembali ke Baghdad sebelum berhadapan dengan musuh.

Al-Makmun segera memerintahkan pasukan Thahir bin Hasan untuk terus maju ke Baghdad. Ia menambah pasukannya di bawah pimpinan Hartsamad bin Ain. Hampir satu tahun Baghdad dikepung. Karena kekurangan persediaan makanan, akhirnya pertahanan Baghdad pun runtuh.

Khalifah Al-Amin bertahan di Qashrul Manshur yang terletak di pusat kota. Setelah berlangsung penyerbuan cukup lama, istana yang dibangun oleh Al-Manshur itu pun bisa ditaklukkan.

Al-Amin memohon ibunya Zubaidah, menengahi pergantian kekuasaan dan memperjuangkan maksudnya sebagaimana yang telah dilakukan Aisyah 2 abad sebelumnya. Zubaida menolak untuk melakukannya, dan al-Amin mengundurkan diri. Pada 813, Tahir mengambil Baghdad, dan al-Amin dipenggal.

 

6.6. Referensi

  1. [1], Kompas Online 26 April 2011


7. Ma'mun Ar-Rasyid

Al-Ma'mun ar-Rasyid (bahasa Arab: المأمون الرشيد) (lahir 14 September 786 atau 15 Rabiul Awal 170 H dan meninggal pada 9 Agustus 833) bergelar Abu al-Abbas dengan nama asli Abdullah bin ar-Rasyid bin al-Mahdi adalah seorang khalifah Bani Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 813 sampai 833, ia meninggal pada usia 48 tahun. Al-Ma'mun adalah putera dari putra dari Khalifah Harun Ar-Rasyid dan saudara dari khalifah sebelumnya Al-Amin.

7.1. Kelahiran dan keluarga

7.1.1. Kelahiran

Dia dilahirkan pada pertengahan bulan Rabiul Awwal tahun 170 H (sekitar tanggal 14 September 786), dimana pada saat itu pula bertepatan dengan meninggalnya saudara ayahnya, Al-Hadi yang kemudian digantikan oleh ayah al-Ma'mun yaitu Harun ar-Rasyid.[1]
Ibu dari al-Ma'mun adalah seorang bekas budak yang kemudian dinikahi ayahnya bernama Murajil, dan dia meninggal hanya beberapa hari setelah melahirkan al-Ma'mun.[1]

 

7.1.2. Keluarga

Al-Ma'mun merupakan orang kedua yang berkuasa di keturunan Harun ar-Rasyid, selain itu saudara-saudara lainnya adalah al-Amin dan al-Mu'tasim yang menjadi khalifah sedangkan lainnya adalah al-Qasim dan al-Mu'taman. Keturunan al-Ma'mun tidak ada yang meneruskan menjadi khalifah, kekuasaan diteruskan oleh keponakannya, anak dari al-Mu'tasim yang bernama al-Watsiq.[1]

 

7.2. Menjadi khalifah

7.2.1. Pertikaian dengan al-Amin

Pada 802, Harun ar-Rasyid, ayah dari al-Ma'mun dan al-Amin memerintahkan al-Amin untuk menggantikannya dan al-Ma'mun menjadi gubernur Khurasan dan sebagai khalifah setelah al-Amin. Dilaporkan bahwa al-Ma'mun lebih tua dari dua saudaranya, tetapi ibunya berasal dari Persia, sedangkan ibu Al-Amin merupakan anggota keluarga Abbasiyah. Setelah kematian ar-Rasyid pada tahun 809, hubungan antara dua saudara tersebut memburuk. Sebagai balasan atas gerakan al-Ma'mun diluar kekhalifahan, al-Amin mengangkat anaknya sendiri, Musa, sebagai penggantinya. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap wasiat ar-Rasyid, yang mengakibatkan terjadinya perang saudara dimana al-Ma'mun merekrut pasukan Khurasani yang dipimpin oleh Tahir bin Husain (meninggal 822), mengalahkan pasukan Al-Amin dan mengepung Baghdad. Pada 813, al-Amin dipenggal dan al-Ma'mun menjadi khalifah.

 

7.2.2. Muhammad Jafar

Terjadi berbagai gangguan di Iraq selama beberapa tahun pertama masa kekuasaan al-Ma'mun, ketika khalifah berada di Merv, Khurasan. Pada 13 November 815, Muhammad Jafar menyatakan dirinya sebagai khalifah di Mekkah. Ia dikalahkan dan dilepaskan dari jabatan.

 

7.2.3. Pengangkatan Ali ar-Ridha sebagai penerus

Pada tahun 201 H (817) al-Ma'mun mengangkat Ali ar-Ridha, Imam Syi'ah ke-8 dari Dua Belas Imam sebagai penerus kekhalifahan, hal ini tidak diterima oleh kalangan Baghdad khususnya keluarga Bani Abbasiyah. Hal ini merupakan gerakan politik dari al-Ma'mun dikarenakan sebagian besar Persia bersimpati kepada Bani Hasyim, khususnya keturunan Ali dan Fatimah. Kalangan Bani Abbasiyah kemudian mengangkat Ibrahim bin al-Mahdi sebagai khalifah, dengan gelar al-Mubarak.

 

7.3. Referensi

7.3.1. Sumber

  1. AS-SUYUTHI. Tarikh Khulafa`: Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006. ISBN 979-592-175-4

8. Al-Mu'tasim

Abu Ishaq al-Mu'tasim bin Harun (أبو إسحاق المعتصم بن هارون ʾAbū ʾIsḥāq al-Muʿtaṣim ibn Hārūn, 794 – 5 Januari 842) ialah Khalifah Bani Abbasiyah (833 - 842). Ia menggantikan kerabatnya al-Ma'mun.

Ghilman (tunggal: ghulam) diperkenalkan di negeri khilafah selama masa al-Mu'tasim. Ghilman ialah prajurit budak yang diambil sebagai anak-anak dari daerah yang ditaklukkan, dalam mengantisipasi sistem devshirme Ottoman. Ghilman, secara pribadi hanya bertanggung jawab kepada khalifah, memberontak selama masa ar-Radi.

Ghilman, bersama dengan syakiriyah yang telah diperkenalkan pada masa al-Ma'mun, telah mengganggu prajurit reguler Arab dari pasukan kholifah. Ghilman Turki dan Armenia membuat marah warga kota Baghdad, memancing huru-hara pada 836. Ibukota dipindahkan ke kota baru Samarrah kemudian di tahun itui, dan tetap di sana sampai 892 saat kembali ke Baghdad oleh al-Mu'tamid.

Kesultanan Tahiriah, yang telah menonjol selama masa al-Ma'mun setelah provinsi militer Khurasan diakui Tahir bin Husain, terus mengembangkan kekuasaan. Mereka menerima kegubernuran Samarqand, Farghana, dan Herat. Tak seperti kebanyakan provinsi pada masa Khilafah Abbasiyah, yang secara dekat diperintah Baghdad dan Samarrah, provinsi yang di bawah kendali Tahiriah dibebaskan dari banyak fungsi upeti dan kesalahan. Kemerdekaan Tahiriah memberi andil besar terhadap turunnya supremasi Abbasiyah di timur.

Itu selama masa al-Mu'tasim bahwa kemunduran dalam Khilafah Abbasiyah mulai nyata. al-Mu'tasim harus menanggulangi Khurramiyyah di daerah Tabriz. Dipimpin oleh orang bid’ah Babak, Khurramiyyah tak pernah secara penuh ditaklukkan, walau lambat laun hilang selama masa kholifah berikutnya.

Walaupun begitu, kekholifahan masih tetap tangguh dalam melindungi penduduknya. Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi, kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim billah dengan lafadz yang legendaris: waa mu'tashimaah!. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amoria dan melibas semua orang kafir yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari istana khalifah hingga kota Amoria, karena besarnya pasukan. Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku ?". Dan sang budak wanita inipun dibebaskan oleh khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.

Matematikawan muslim terbesar al-Kindi dipekerjakan oleh al-Mu'tasim, dan mengajari putra kholifah. al-Kindi telah bertugas di Baitul Hikmah, atau Rumah Kebijaksanaan. Ia melanjutkan belajar geometri dan aljabar Yunani di bawah naungan kholifah.

al-Mu'tasim Billah meninggal pada 842 dan digantikan putranya al-Watsiq.



9. Al-Watsiq

Watsiq bin Mu’tasim (m. 847) ialah Khalifah Bani Abbasiyah yang menjabat antara 842 sampai 847. Ia menggantikan ayahnya al-Mu'tasim Billah, dan menunjukkan ketertarikan yang mirip dalam belajar; sehingga ialah pelindung besar para sarjana, seperti seniman. Ia termasyhur karena bakat musiknya sendiri, dan dianggap telah menyusun lebih dari 100 lagu.

Selama masa pemerintahannya, sejumlah pergolakan berkobar, yang terbesar ialah di Suriah dan Palestina. Pergolakan itu ialah akibat bertambahnya jurang besar antara penduduk Arab dan prajurit Turki yang terbentuk oleh ayah al-Watsiq, al-Mutasim. Pergolakan itu dipadamkan, namun antagonisme antara kedua kelompok itu terus meluas dengan angkatan Turki mendapatkan kekuasaan.

Al-Watsiq meninggal pada 847 karena demam tinggi, dan digantikan saudaranya al-Mutawakkil.


10. Al-Mutawakkil

Al-Mutawakkil (821-861) adalah khalifah ke-10 Bani Abbasiyah (847-861).
Ja'far al-Mutawakkil adalah putra al-Mu'tasim Billah (833-842) dan seorang wanita Persia. Ia menggantikan saudaranya al-Watsiq (842-847) dan dikenal menyelenggarakan "mihnah", percobaan seperti inkuisisi untuk menegakkan satu versi murni Islam. Selama masa pemerintahan, pengaruh Mu'tazilah berkurang dan masalah kemakhlukan al-Qur'an berakhir. Selama tahun-tahun pertama pemerintahannya, al-Mutawakkil menunjukkan rasa toleran terhadap Imam Syi'ah yang mengajar dan berdoa di Madinah. Setelah meninggalnya al-Mutawakkil, Syi'ah mengalami penindasan; makam Husain bin Ali di Karbala dihancurkan.

Al-Mutawakkil terus mengandalkan negarawan Turki dan pasukan budak untuk meredam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi kekuasaan asing, seperti Bizantium yang wilayahnya di Sisilia berhasil direbut. Wazirnya al-Fath bin Khaqan, seorang Turki, adalah tokoh terkenal pada masa pemerintahannya. Namun, kepercayaannya pada orang Turki berbalik menghantuinya. Ia menitahkan pembunuhan terhadap panglima tertingginya yang notabene orang Turki. Hal ini menyebabkan pengaruhnya melorot drastis.

Al-Mutawakkil dibunuh oleh seorang prajurit Turki pada tanggal 11 Desember 861. Konon, pembunuhan ini merupakan bagian dari plot yang direncanakan oleh putranya al-Muntashir, yang menjadi jauh dari ayahandanya.

Pemerintahan al-Mutawakkil diingat akan reformasi-reformasinya dan dipandang sebagai masa keemasan Bani Abbasiyah. Ia adalah khalifah terbesar terakhir Abbasiyah; setelah kematiannya khilafah mulai mundur.

11. Al-Muntashir

Al-Muntashir (bahasa Arab: المنتصر ) (meninggal 862) ialah khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 861 hingga 862.

Al-Muntashir naik secara mulus ke tahta kekholifahan pada 861 dengan dukungan faksi Turki setelah pembunuhan ayahandanya oleh seorang perwira Turki. Al-Muntashir terlibat dalam kejahatan. Partai Turki kemudian membujuk al-Muntashir menyingkirkan saudaranya dari suksesi, takut akan balas dendam atas pembunuhan ayah mereka. Di tempat mereka, ia akan mengangkat puteranya sebagai pewaris tahta.
Al-Muntashir dipuji karena, tak seperti ayahnya, mencintai dinasti ˤAlī (Shīˤa) dan mencabut larangan ziarah ke makam Hassan dan Hussayn.

Pemerintahan Al-Muntashir berlangsung kurang dari setengah tahun; berakhir dengan kematiannya yang tak diketahui pada 862. Ia adalah khalifah Bani Abbasiyah perama yang makamnya diketahui; dibuat oleh ibundanya, budak asal Yunani. Khalifah sebelumnya mengharapkan makamnya dirahasiakan agar tidak disembah-sembah.

12. Al-Musta'in

Al-Musta'in (Arab: المستعين) (m. 866) adalah khalifah Abbasiyah dari tahun 862 hingga 866. Setelah mangkatnya pendahulunya al-Muntashir, para tetua Turki membentuk dewan untuk menentukan penggantinya: bukan al-Mu'tazz, ataupun saudaranya yang lain; sehingga mereka memilih al-Musta'in, cucu al-Mu'tasim Billah yang lain.
Ia dihukum mati pada tahun 866, atas perintah al-Mu'tazz yang mengkhianatinya.

13. Al-Mu'tazz

Al-Mu'tazz (Arab: المعتز) (m. 869) adalah gelar untuk khalifah Abbasiyah yang memerintah antara 866-869. Naik tahta atas bantuan orang Turki, ia terbukti tepat sebagai murid orang Turki. Ia dikelilingi oleh kelompok-kelompok yang saling cemburu satu sama lain: Di Samarrah, bangsa Turki bermasalah dengan "bangsa Timur" (Berber dan Moor); sedangkan orang Arab dan Persia di Baghdad, yang telah mendukung al-Musta'in, saling membenci satu sama lain.

Pertama kali khalifah ini memerintahkan pembunuhan khalifah sebelumnya al-Musta'in. Lalu saudaranya sendiri yang menjadi pewaris berikutnya. Saudaranya yang lain, Abu Ahmad, yang dengan gagah berani memimpin pasukan di perang terakhir di pihaknya, dimasukkan ke dalam penjara.

14. Al-Muhtadi

Al-Muhtadi (bahasa Arab: المهتدي) (m. Juni 870) ialah khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 869 hingga 870.

Setelah kematian al-Mu'tazz, orang Turki memilih sepupunya Al Muhtadi bin Al Watsiq dari gadis budak Yunani, sebagai khalifah baru. Al-Muhtadi menjadi tegas dan saleh dibandingkan dengan beberapa khalifah sebelumnya. Jika ia ada lebih awal, mungkin ia mesti memperbaiki diri pada kekhalifahan; namun, dari kini orang Turki memegang kekuasaan.

Di bawahnya, pengadilan segera menyaksikan transformasi. Gadis penyanyi dan musikus diusir; pengadilan dilakukan secara terbuka; anggur dan judi dilarang. Ia mencontohkan 'Umar bin 'Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah, sebagai model.

Namun pemerintahannya berlangsung kurang dari setahun. Setelah beberapa ketidaksetujuan dan persekongkolan, ia terbunuh oleh orang Turki pada 256 AH (Juni 870); saat itu ia berusia 38 tahun. Penulis Arab masa awal memuji keadilan dan kesalehannya; dan jika ia tak terbunuh cepat, ia bisa ditempatkan di antara yang terbaik dari Khalifah Abbasiyah.

15. Al-Mu'tamid

Abul 'Abbas Ahmad Al-Mu'tamid 'Alallah (± 845 - Oktober 892) adalah seorang khalifah Bani Abbasiyah yang memerintah antara 870-892.
Satu-satunya anak al-Mutawakkil yang masih hidup, semasa pemerintahan al-Muhtadi, ia dibuang di Samarrah dan bebas setelah al-Muhtadi kehilangan kekuasaan.

15.1. Ulama-ulama

Orang-orang penting yang meninggal pada jamannya cukup banyak, diantaranya adalah:
  • Hasan al-Asykari, Imam Syi'ah Dua Belas Imam ke-11, yang terbunuh atas perintah khalifah.
  • Imam Bukhari
  • Imam Muslim
  • Imam Abu Daud
  • Imam Tirmidzi
  • Imam Ibnu Majah

16. Al-Mu'tadhid

Al-Mu'tadhid Billah (857-902) (bahasa Arab: المعتضد بالله) adalah Khalifah Bani Abbasiyah Baghdad dari 892 hingga 902. Sebelum ia iangkat sebagai khalifah, ia sudah memiliki kekuasaan tinggi, dan berlanjut sebagai khalifah ia sanggup mengatur pemerintahan. Mesir kembali ke pangkuan khilafah.

Di Mesopotamia, sang Khalifah dan puterandanya sudah lama memerangi Khawarij. Di ujung kawasan ini, yang sudah lama gonjang-ganjing, sebagian karena gerombolan pemberontak, sebagian karena persaingan antara Mesir dan jenderal negeri, masalah itu harus diselesaikan.

Al-Mu'tadhid adalah penguasa pemberani dan energik. Ia juga begitu toleran terhadap masyarakat Syi'ah yang dibuktikan dengan hadiah besar kepada mereka dari pangeran Tabaristan, ia tidak menunjukkan sikap yang tak menyenangkan, seperti yang dilakukan pendahulunya; namun hanya perintah untuk melakukannya secara terbuka. TIdak seperti terhadap Bani Umayyah, ia memerintahkan Bani Umayyah dicela di doa umum dan melarang semua sebutan yang memuji mereka di debat-debat kelompok agama. Baghdad dipermalukan atas hal ini; dan pada akhirnya khalifah menarik titahnya tersebut.

Setelah pemerintahan yang makmur selama 10 tahun, al-Mu'tadhid mangkat; dan al-Muktafi, puterandanya dari seorang budak Turki, naik tahta.

16.1. Rujukan


17. Al-Muktafi

Al-Muktafi (* 875; † 908) adalah khalifah ke-17 Bani Abbasiyah (902-908).
Abu Muhammad Ali bin al-Mu'tadhid al-Muktafi adalah anak al-Mu'tadhid (892-902) dengan seorang budak Turki. Dengan pimpinan ar Raqqah saat kematian ayahandanya, ia kembali ke ibukota, di mana ia dikagumi khayalak karena kemurahan hatinya, dan menghapuskan penjara-penjara rahasia ayahandanya. Selama masa pemerintahannya yang sekitar 6 tahun, khilafah mendapat ancaman dari sejumlah bahaya yang dengan gagah berani dihadapi dan dipecahkan. Yang paling utama berasal dari Qaramitha, salah satu cabang Ismailiyah yang mulai berkembang selama tahun-tahun terakhir.

Setelah masa pemerintahan bergolak selama 6-7 tahun, al-Muktafi bisa melihat-lihat dan mengetahui bahwa khilafah lebih aman daripada masa pemerintahan al-Mu'tasim Billah. Salah satu tindakan terakhirnya aalah kematian pangeran Samaniyan, yang mengakui suksesi puterandanya di Khorasan, dan menyampaikan padanya bendera yang ditempelkan dengan tangannya sendiri.
al-Muktafi digantikan oleh saudaranya al-Muqtadir (908-932).


18. Al-Muqtadir

Al-Muqtadir (* 895; † 932) adalah khalifah ke-18 Abbasiyah (908–932).
Setelah khalifah sebelumnya, al-Muktafi, dikurung selama beberapa bulan di kamarnya, terjadi intrik yang menyangkut masa depan khilafah. Dari 2 calon, adinda al-Muktafi yang disukai khalifah dan keturunan al-Mu'tazz yang baru berusia 13 tahun, akhirnya dipilih al-Muqtadir, adinda al-Muktafi.

Sejak masa pemerintahannya, Abbasiyah terus menurun. Di saat yang sama, banyak nama terkenal di bidang sastra dan IPTek bermunculan. Yang terkenal: Ishaq bin Hunain (m. 911) (anak Hunain bin Ishaq), dokter dan penerjemah tulisan-tulisan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab; Ibnu Fadhlan, penjelajah; Muhammad bin Jabir bin Sinan al-Battani (m. 923), astronom; Thabari (m. 923), sejarawan dan agamawan; Abu Bakr ar-Razi (m. 930), filsuf yang memberikan sumbangan mendasar dan abadi di bidang kedokteran dan kimia; Abu Nashr Muhammad al-Farabi (m. 950), kimiawan dan filsuf; Abu Nashr Mansur (m. 1036), matematikawan; Al-Haitsam (m. 1040), matematikawan; Abu Raihan al-Biruni (m. 1048), matematikawan, astronom, fisikawan; Omar Khayyám (m. 1123), penyair, matematikawan, dan astronom.

Ada peperangan beberapa tahun antara kaum Muslimin dan Yunani di Asia, dengan kekalahan besar di sisi kaum Muslim yang banyak dijadikan tawanan. Nmaun, perbatasan Bizantium, mulai terancam gerombolan Bulgaria Volga; sehingga Kaisar Zoe Karbonopsina mengirim 2 DuBes ke Baghdad untuk menjamin gencatan senjata, dan membagikan ransum buat tawanan muslim. Mereka diterima dengan tangan terbuka dan perdamaian dipulihkan. 120.000 lempengan emas dibayarkan untuk kebebasan tahanan itu.

12 tahun kemudian, untuk yang kedua kalinya al-Muqtadir menjadi sasaran kudeta. Anggota istana terkemuka yang telah bersekongkol terhadapnya, memaksanya turun tahta demi saudaranya al-Qahir, namun setelah terjadi sejumlah penjarahan dan pembunuhan, para konspirator itu menyadari mereka tak mendapat dukungan senjata, sehingga al-Muqtadir bisa memerintah lagi.

Pada tahun 932 Al-Muqtadir dibunuh oleh penjaga kota di Mosul. Ia digantikan oleh saudaranya al-Qahir (932–934).

19. Al-Qahir

Al-Qahir Billah (Arab: القاهر بالله) Abu Manshur Muhammad Al-Qahir Billah (Arab: أبو منصور محمد القاهر بالله) merupakan Khalifah Bani Abbasiyah[1] di Baghdad dari tahun 932 sampai 934. Ia dilahirkan pada tahun 286 Hijriyah atau 899 dan meninggal pada tahun 339 Hijriyah atau 950.

19.1. Referensi


20. Ar-Radhi

Ar-Radhi Billah (Arab: الراضي) bernama lengkap Abu al-Abbas Muhammad bin al-Muqtadir bin al-Mu'tadhid bin Thalhah bin al-Mutawakkil, merupakan Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari tahun 934 sampai kematiannya tahun 940 pada umur 33 tahun. Diperkirakan lahir pada tahun 297 Hijriyah atau 910, dari seorang ibu yang merupakan mantan budak dari Romawi bernama Zhalum. Ia dilantik pada saat pencopotan al-Qahir dari kursi kekhalifahan. Kemudian ia memerintahkan Ibnu Muqlat untuk menulis semua kejahatan yang dilakukan oleh al-Qahir dan memerintahkannya untuk membacakannya di depan khalayak ramai. Ar-Radhi Billah, Abu al-Abbas Muhammad bin Al-Muqtadir bin al-Mu’tadhid bin Thalhah bin al-Mutawakkil.

Dia dilahirkan pada tahun 297 H.Ibunya adalah mantan budak yang berasal dari Romawi bernama Zhalum.Dia dilantik menjadi khalifah pada saat al-Qahir diberhentikan dari jabatannya.Kemudian dia memerintahkan kepada Ibnu Muqlat untuk menuliskan kejahatan yang dilakukan oleh al-Qahir dan memerintahkannya untuk membacakannya dihadapan orang-orang.

Pada tahun 322 orang yang bernama Mardawaij, salah seorang pemuka Dailam asala Asfahan meninggal dunia.Pada saat itu dia telah mempunyai pengaruh yang kuat dan telah tersebar kabar bahwasannya dia akan datang dan menyerang kota Baghdad.Dia pun mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Majusi.Dia pernah berkata : “Saya akan mengembalikan kerajaan-kerajaan asing tersebut dan akan maenghancurkan kerajaan Arab.”

Pada tahun ini Ali bin Buwaih mengutus seorang utusan kepada ar-Radhi dia hendak menuntut bagian uang kepadanya sebesar delapan belas juta dirhamm pertahun dari wilayah yang dia kuasai.Kemudian ar-Radhi mengirimkan bendera kebesaran dan menyatakan Ibnu Buwaih dicopot dari jabatannya.Sejak saat itulah Ibnu Buwaih mengulur-ulur pembayaran yang harus dibayarkan kepada ar-Radhi.

Pada tahun ini al-Mahdi yang telah berkuasa di Maghrib meninggal dunia.Dia telah berkuasa di tempat tersebut selama dua puluh lima tahun.Al-Mahdi merupakan nenek moyang para khalifah Mesir yang dinamakan oleh orang-orang bodoh sebagai kaum Fathimiyyah.Al-Mahdi menganggap dirinya sebagai keturunan ’Alawi, padahal dia adalah seorang yang berasal dari keturunan Majusi.

Qadhi Abu Bakar al-Baqlani berkata : “Kakek dari Ubaidillah yang bergelar al-Mahdi tersebut adalah seorang Majusi.Pada saat Ubaidillah memasuki wilayah Maghrib, dia menyebut dirinya sebagai keturunan Alawiyyin, padahal tidak seorang pun para ahli silsilah menyatakan bahwa dia adalah keturunan Ali.Dia adalah seorang penganut paham kebatinan yang kotor yang berusaha untuk menghancurkan Islam.Dia tidak segan-segan memenggal kepala para ulama dan fuqaha dengan tujuan agar tidak ada seorang pun yang menghalangi ambisinya tersebut.

Demukian juga yang dilakukan oleh anak-anak dan penerusnya.Mereka menghalalkan minuman keras dan perzinahan.Mereka sebarkan akidah Rafidhah yang menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman.Setelah meninggal dia digantikan oleh anaknya yangbernama al-Qaim Biamrillah yang bernama asli Muhammad.

Pada tahun ini muncul gerakan Muhammad bin Ali as-Sam’ani yang terkenal dengan sebutan Abu al-Azafir.Telah tersebar kabar bahwasannya dia adalah seseorang yang mengaku sebagai Tuhan dan bahwa dia mampu menghidupkan orang mati., oleh karena itu dia dibunuh dan disalib bersama-sama para pengikutnya.

Pada tahun ini pula Abu Ja’far as-Sajzi salah seorang pembantu dekatnya meninggal dunia.Diriwayatkan bahwa dia meninggal pada usia 140 tahun dan panca inderanya masih normal.

Pada tahun ini perjalanan ibadah haji tidak bisa dilakukan hingga tahun 329 H.

Pada tahun 323 H.Ar-Radhi mengendalikan pemerintahannya dengan tenang.Pada tahun ini dia membagikan kekuasaan kepada anaknya.Dia memberi tugas kepada anaknya Abu al-Fadhl untuk mengatur wilayah kekuasaannyadi sebelah timur, sedangkan Abu JA’far ditugaskan untuk mengatur wilayah bagian barat.
Pada tahun ini terjadi peristiwa bersejarah yang terkenal dengan sebutan peristiwa Syannabud.Yaitu peristiwa tobatnya Syannabud dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari al-Qur’an.Peristiwa pertobatan tersebut dihadiri oleh Abu Ali bin Muqlat.

Pada bulan Jumadil Ula tahun ini angin besar bertiup dengan kencangnya di Baghdad.Dunia seakan gelap mulai dari waktu Ashar hingga Maghrib.

Pada bulan Dzulqa’dah tahun ini binatang-binatang banyak yang mati sepanjang malam.Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada tahun 324 H, Muhammad bin Raiq mampu menguasai Wasith dan wilayah-wilayah sekitarnya.Sejak saat itu pemerintahan tidak berjalan dengan normal dan kantor-kantor tutup karena semua medan telah dikuasai oleh Raiq.Dan harta yang dihasilkan dari wilayah tersebut disetorkan kepada Raiq.Ar-Radhi pada saat itu hanyalah sebuah simbol yang tidak mempunyai kekuatan dalam kekuasaannya.

Pada tahun 325 H, pemerintahan ar-Radhi lemah tak berdaya.Sehingga kekuasaan khilafah saat itu seringkali berada ditangan para pemberontak, atau para pejabat yang tidak membawa apa-apa.Mereka laksana raja-raja kecil, saat itulah tidak tersisa kekuasaan ar-Radhi kecuali di Baghdad dan Suwad walaupun pada hakikatnya Ibnu Raiq sangat berpengaruh jika dibandingkan dengan Radhi sendiri.

Pada saat kekuatan dinasti Bani Abbas menurun drastis karena gerakan pemberontakan Qaramithah serta kelompok Ahli Bid’ah di berbagai wilayah, maka muncullah kemauan yang kuat dari Bani Umayyah, yang ada diwilayah Andalusia yang berada dibawah pimpinan Amir Abdur Rahman bin Muhammad al-Umawi al-Marwani untuk memdirikan pemerintahan sendiri.Dia berkata : “Saya jauh lebih berhak untuk memegang kendali khilafah daripada Bani Abbas.”

Dia menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin an-Nashir Lidinillah.Dia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Andalusia.Dia mempunyai wibawa yang sangat besar, semangat jihad yang tinggi dan mampu melakukan penaklukan-penaklukan serta mempunyai kepribadian yang sangat menawan dan menakjubkan.Dia mampu menaklukkan para pemberontak dan mampu menguasaai tujuh puluh benteng.Dengan demikian ada tiga orang pada saat itu yang menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin Yaitu khalifah yang ada di Baghdad (ar-Radhi, kemudian penguasa al-Umawi di Andalusia dan al-Mahdi di Qairawan.

Paada tahun 326 H, Yahkam melakukan pemberontakan pada Ibnu Raiq dan dia berhasil mengalahkannya.Ibnu Raiq bersembunyi dan Yahkam akhirnya dapat memasuki Baghdad.Pada saat kedatangannya ke Baghdad ar-Radhi melakukan penghormatan yang besar dengan kedatangannya dan memberikan kepadanya posisi yang tinggi serta memberinya gelar Amirul Umara.Lalu dia diperintahkan untuk memimpin wilayah baghdad dan Khurasan.

Pada tahun 327 H, Abu Ali Umar bin Yahya al-Alawi menulis surat kepada al-Qirmithi untuk membukakan jalan-jalan menuju Makkah, dan dia mengatakan bahwa setiap orang yang melewati jalan yang dikuasainya harus membayar pajak sebesar lima dinar.Dengan car seperti itu akan membuat kaum muslimin dapat kembali melaksanakan ibadah haji.Dan ini adalah bea cukai pertama kali yang dipungut kepada para jama’ah Haji.

Pada tahun 328 H, di Baghdad terjadi banjir yang ketinggian airnya mencapai tujuh belas depa.Banyak manusia dan binatang yang mati akabita banjir ini.

Pada tahun 329 H, ar-Radhi sakit dan meninggal pada bulan Rabiul Akhir.Pada saat meninggal dia baru berusia tiga puluh satu tahun setengah.

Ar-Radhi dikenal sebagai seorang yang terbuka dan dermawan, ilmunya luas dan seorang penyair yang fasih serta senang baergaul dengan para ulama.Dia memiliki syair yang dibukukan.Disamping itu, dia sempat mendengar hadits dari Imam al-Baghawi.

Al-Khatib berkata : “Ar-Radhi memiliki banyak keutamaan.Antara lain adalah khalifah terakhir yang memiliki syair yang dibukukan, dan khalifah terakhir yang mampu melakukan khutbah Jum’at.Dia adalah khalifah pertama yang duduk bersama rakyat (egaliter).Dia banyak melakukan langkah-langkah orang terdahulu.Bahkan dalam berpakaian dia selalu meniru orang-orang dahulu.

Di antara syair yang pernah diucapkannya adalah :

Setiap yang bersih kan menjadi kotor
Semua perkara kan binasa
Semua pemuda gagah kan menuju pada kematian

Uban adalah pertanda bagi manusia
Tuk mengambil pelajaran

Wahai orang yang penuh angan
Yang tenggelam dalam jurang tipuan

Dimanakah orang yang datang sebelum kita
Lenyaplah mereka dari kehidupannya

Ya Tuhan Ampunilah dosa ini
Wahai Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang.

Abu Hasa al-Zarqawaih meriwayatkan dari Ismail al-Khaththabi, dia berkata : Ar-Radhi memintaku datang pada malam Idul Fitri, kemudian saya datang menemuinya.Dia berkata : “Wahai Ismail, saya telah bertekad untuk melakukan salat Idul Fitri bersama dengan rakyat besok, maka apakah yang pantas untuk diucapkan setelah aku berdo’a.”

Saya merenung sejenak sambil menundukkan kepala, kemudian saya katakan : “Wahai Amirul Mukminin, jika kau telah membaca doa untuk dirimu maka katakanlah doa ini :

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan padaku dan kepada kedua orang tuakudan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau Ridhai.”
Dia berkata kepada saya : “Cukuplah bagiku apa yang kau katakan itu.”

Setelah saya pulang ada seorang pekayan yang mengikutiku dari belakang dan dia memberiku uang kepada saya sebanyak empat ratus dinar.

Beberapa tokoh yang meninggal di masa pemerintahan ar-Radhi adalah : Nafthawaih, Ibnu Mujahid seorang pakar qiraat, Ibnu Kas al-Hanafi, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Rabbih pengarang kitab al-’Iqd al-Farid, al-Ishthikhari seorang tokoh madzhab Syafi’i, Ibnu Syannabud dan Abu Bakar al-Anbari.

21. Al-Muttaqi

Al-Muttaqi Billah (Arab: المتقي) bergelar Abu Ishaq, dengan nama lengkap Ibrahim bin al-Muqtadir bin al-Mu'tadhid bin al-Muwaffaq Thalhah bin al-Mutawakkil merupakan Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari tahun 940 sampai 944. Dia dilantik sebagai khalifah setelah kematian saudaranya. Saat dilantik, ia berumur tiga puluh empat tahun. Ibunya adalah mantan budak yang bernama Khalub, ada pula yang menyebutkan nama ibunya adalah Zahrah.

22. Al-Mustakfi

Al-Mustakfi (Arab: المستكفي ) bergelar Abu al-Qasim, dengan nama asli Abdullah bin al-Muktafi bin al-Mu'tadhid merupakan Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari tahun 944 sampai 946. Dia diangkat oleh Tuzun, seorang jenderal Turki yang menurunkan dan membutakan khalifah sebelumnya al-Muttaqi.
Dia dilantik pada bulan Safar tahun 333 H atau September 944, pada saat berumur 41 tahun. Tuzun meninggal pada masa pemerintahannya. Dia kemudian dicopot dari jabatan dan dipenjarakan hingga meninggal dunia pada tahun 338 H atau tahun 950.

23. Al-Muthi'

Al-Muthi' Lillahi (Arab: المطيع) bergelar Abu al-Qasim dengan nama aslinya al-Fadhl bin al-Muqtadir bin al-Mu'tadhid merupakan Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa dari tahun 946 sampai 974. Dia dilahirkan pada tahun 301 H / 914, dan dilantik sebagai khalifah pada saat pencopotan al-Mustakfi bulan Jumadil Akhir 334 H atau Januari 946.

24. Ath-Tha'i

Ath-Tha'i Lillah (932 - 1003) (Arab: الطائع بالله) bergelar Abu Bakar dengan nama asli Abdul-Karim bin al-Muthi' adalah Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 974 hingga 991. Sedikit yang diketahui mengenai kehidupan pribadi dan resminya.

Semasa pemerintahannya, Suriah mengalami kekacauan akibat pertarungan 3 faksi — Fatimiyah, Turki, dan Qaramitha; sedangkan Buwaihiyah terpecah ke dalam partai-partai yang berperang sesama mereka sendiri. Melihat keadaan ini, kaisar Bizantium Yohanes Tzimisces menggempur bagian timur dalam gerakan yang berjaya pada 975. Setelah menjabat selama 17 tahun, ath-Tha'i' dijatuhkan dan ditawan oleh penguasa Buwayhiyah yang mengharapkan harta benda ath-Tha'i'.

25. Al-Qadir

Al-Qadir Billah (Arab: القادر) (m. 1031) bergelar Abu al-'Abbas dengan nama asli Ahmad bin Ishaq bin al-Muqtadir merupakan khalifah Bani Abbasiyah dari tahun 991 sampai 1031. Dia dilahirkan pada tahun 336 H atau 947 dari seorang ibu yang merupakan mantan budak bernama Tumna.

Dia dilantik sebagai khalifah setelah pengunduran diri sepupunya, ath-Tha'i dari jabatannya. Saat dilantik al-Qadir tidak berada di tempat. Dia baru datang ke Baghdad pada tanggal sepuluh Ramadan 381 H (sekitar 20 November 991), dan baru keesokan harinya secara resmi ia menjalankan roda pemerintahan.

Dia meninggal pada tanggal 11 Dzulhijjah 422 H atau 29 November 1031. Dan masa pemerintahannya berlangsung selama 41 tahun 3 bulan.

26. Al-Qa'im

Al-Qa'im Biamrillah (Arab: القائم) bergelar Abu Ja'far dengan nama aslinya Abdullah bin al-Qadir adalah Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari tahun 1031 sampai 1075. Dia dilahirkan pada bulan Dzulqa'dah tahun 391 H atau September 1001 dari seorang ibu yang mantan budak dari Armenia bernama Badr ad-Duja.

27. Al-Muqtadi

Al-Muqtadi (bahasa Arab: المقتدى ) (m. 1094) adalah Khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 1075 hingga 1094. Ia dihotmati oleh Sultan Seljuk Sultan Malik Shah, yang selama masa pemerintahannya kekhalifahan diakui sepanjang kisaran meluas dari penaklukan Seljuk. Arab, dengan Kota Sucinya diambil alih dari Fatimiyah, dipuji lagi atas yuridiksi spiritual Bani Abbasiyah. Sultan memberikan puterindanya pada khalifah; dan pada kelahiran putranya, berharap bergabung dalam tahta umum. Namun mimpi itu tak berbuah. Sang permasisuri yang tidak puas meninggalkan negeri itu ke Isfahan bersama bayuinya. Dan sultan sendiri menjadi cemburu pada campur tangan khalifah dalam urusan negara, mengharapkannya berhenti dan pensiun ke Bashrah; namun kematian Malik Shah setelah itu, membuat keinginan itu tak terwujud.

28. Al-Mustazhir

Al-Mustazhir (1078-1118) (Arab: المستظهر بالله) bergelar Abu al-'Abbas dan nama aslinya adalah Ahmad bin al-Muqtadi Billah adalah Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari tahun 1094 sampai 1118. Dia menggantikan ayahnya al-Muqtadi.

29. Al-Mustarsyid

Al-Mustarsyid Billah (1092–1135) bergelar Abu Manshur dengan nama asli al-Fadhl bin al-Mustazhir Billah adalah Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari tahun 1118 sampai 1135. Dilahirkan pada bulan Rabiul Awal 485 H atau April 1092 dari seorang ibu yang mantan budak. Dia dilantik sebagai khalifah tatkala ayahnya meninggal dunia pada bulan Rabiul Awal 512 H atau Juli 1118.
Al-Mustarsyid terbunuh di Muraghah pada hari Kamis tanggal 16 Dzulkaidah tahun 529 H / 28 Agustus 1135.

30. Ar-Rasyid

Ar-Rasyid Billah (Arab: الرشيد ) bergelar Abu Ja'far dengan nama asli Manshur bin al-Mustarsyid adalah khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 1135 hingga 1136.

Seperti ayahandanya, al-Mustarsyid, ar-Rashid membuat percobaan lain yang gagal pada kemerdekaan dari Turki Seljuk. Untuk membalaskan kematian ayahandanya, ia mengganggu perjalanan Sultan yang meminta hadiah besar, menghasut rakyat banyak untuk menjarah istananya, lalu, didukung oleh Zengi, yang sama-sama bermusuhan dengan Sultan karena pembunuhan Dubeis, menjadi saingan Sultan. Sultan Mas'ud mempercepat jalan ke ibukota dan mengepungnya. Baghdad, yang terlindungi dengan baik oleh sungai dan terusan, bertahan dari serangan itu; namun akhirnya khalifah dan Zengi, yang tidak mungkin berhasil, lari ke Mosul. Kekuasaan Sultan kembali, sebuah dewan didirikan, sang khalifah jatuh, dan pamandanya, putera al-Mustazhir, diangkat sebagai khalifah baru. Ar-Rasyid melarikan diri ke Ispahan, di mana menjadi korban pisau belati kaum Hashshashin.

30.1. Rujukan


31. Al-Muqtafi

Al-Muqtafi Liamrillah (Arab: المكتفى) (m. 1160) bergelar Abu Abdullah dengan nama asli Muhammad bin al-Mustazhir adalah khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 1136 hingga 1160. Dia dilahirkan pada tanggal 22 Rabiul awal 489 H atau 20 Maret 1096, dari seorang ibu yang berasal dari Ethiopia.

Dilantik sebagai khalifah kala pencopotan keponakannya, ar-Rasyid. Saat pelantikan, dia berumur 40 tahun. Sebab diberinya gelar al-Muqtafi karena dia melihat Rasulullah dalam mimpinya enam hari sebelum menjadi khalifah. Dalam mimpi itu Rasulullah berkata. "Perkara ini (khilafah) akan sampai di tanganmu, maka ikutlah jalan Allah (iqtafi liamrillah)."

32. Al-Mustanjid

Al-Mustanjid (1115–1170) bergelar Abu al-Muzhaffar dengan nama asli Yusuf bin al-Muqtafi adalah khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 1160 hingga 1170. Dia dilahirkan pada tahun 508 H / 1115, dari seorang ibu yang mantan budak berasal dari Karji bernama Thawus, kemudian dinobatkan oleh ayahnya pada tahun 547 H / 1152 sebagai putera mahkota.

Salah seorang dari istri al-Muqtafi menginginkan puteranya yang menjadi khalifah. Ia memperoleh dukungan dari banyak Amir, dan mempersenjatai budak-budak perempuannya dengan pisau untuk membunuh khalifah yang baru. Al-Mustanjid mengetahui hal ini, kemudian mempenjarakan saudara dan ibu tirinya tersebut.

33. Al-Mustadhi'

Al-Mustadhi' Liamrillah (1142 - 1180) (Arab: المستضئ بأمر الله) bergelar Abu Muhammad dengan nama asli al-Hasan bin al-Mustanjid Billah adalah Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 1170 hingga 1180. Seperti pendahulunya, ia terus menduduki kedudukan yang kurang lebih independen dengan seorang wazir, dan hanya didukung oleh sebuah angkatan kecil yang cukup untuk gerakan lokal biasa.

Pada masa kekuasaannyalah hidup seorang jenderal di Mesir yang dikenal dengan nama Salahuddin al-Ayyubi, yang menjadi pahlawan Islam dalam Perang Salib.

34. An-Nashir

An-Nashir Lidinillah (1158 – 1225) (Arab: الناصر لدين الله) bergelar Abu al-Abbas dengan nama asli Ahmad bin al-Mustadhi' Biamrillah adalah Khalifah ke-34 Bani Abbasiyah di Baghdad dari 1180 hingga 1225.

Adz-Dzahabi berkata tentang masa kekuasaannya:
"Tidak seorang pun dari khalifah yang memegang kekuasaan lebih lama darinya. Karena dia berkuasa selama empat puluh tujuh tahun. Masa pemerintahannya diwarnai dengan kestabilan dan kemuliaan serta keagungan. Dia berhasil membungkam semua musuh-musunya...."

35. Azh-Zhahir

Azh-Zhahir Biamrillah (1176 - 1226) (bahasa Arab: الظاهر بأمر الله) bergelar Abu Nashr dengan nama aslinya Muhammad bin an-Nashir Lidinillah adalah Khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 1225 hingga 1226. Ia adalah putera Abul 'Abbas Ahmadun Nashir li Dinillah. Di masa pemerintahannya, ia menurunkan pajak, dan membangun pasukan yang kuat. Sedikit yang bisa diceritakan tentangnya (dan khalifah berikutnya) selain ia hangat dan saleh. Perang Salib tetap berlarut-larut, sedangkan pewaris Saladin berselisih di antara mereka sendiri. Ia meninggal pada 10 Juli 1226, 9 bulan setelah pemerintahannya.

36. Al-Mustanshir

Al-Mustanshir (1192 - 1242) (bahasa Arab: المستنصر بالله) adalah Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 1226 hingga 1242. Ia adalah putera Azh-Zhahir bi Amrillah dan cucu dari An-Nashir. Sedikit yang bisa diceritakan tentangnya selain ia hangat dan saleh. Seperti ayahandanya, ia tetap menjadi kholifah dengan sedikit pengaruh politik.

37. Al-Musta'shim

Al-Musta'shim Billah (bahasa Arab: المستعصم بالله) bergelar Abu Ahmad dan bernama lengkap Abdullah bin al-Mustanshir Billah (lahir 1213 - 20 Februari 1258) adalah khalifah terakhir Bani Abbasiyah di Baghdad; dia berkuasa dari 1242 hingga 1258.

Dilahirkan pada tahun 609 H / 1213, beribukan seorang mantan budak yang bernama Hajar. Dilantik sebagai khalifah setelah kematian ayahnya. Diriwayatkan ia merupakan sosok yang pemurah, penyabar, batinnya sehat dan agamanya baik. Pada masanya, wilayah Kedaulatan Islam sedang terancam penyerbuan bangsa Mongol, bahkan beberapa wilayah Kedaulatan Islam telah jatuh ketangan Bangsa Mongol. Sementara di Andalusia, wilayah kedaulatan Islam sudah menyempit, sehingga akhirnya tinggal Granada saja yang tersisa. Sementara pertikaian yang melanda Kesultanan Ayubiyah turut memperlemah Kedaulatan Islam.

Dalam keadaan seperti itu, Khalifah Al Mutashim terlalu lemah. Ia banyak tergantung kepada wazirnya, yang bernama Muayidin Al Alqami Ar Rafidhi yang diangkat pada tahun 1244. Ternyata ibnu Alqami yang beraliran Syi’ah ini berambisi merebut kekhalifahan Abbasiyah dan menyerahkannya kepada kaum Syiah. Ketika bangsa Mongol merebut wilayah-wilayah islam, Ia aktif berkores-podensi dengan mereka dan mendukung mereka agar menyerang Bagdadh. Ibnu Alqami juga melakukan demobilisasi terhadap pas-kan yang telah disiapkan mendiang Khalifah Al Mustanshir untuk menghadapi pasukan mongol. Jumlah pasukan yang mencapai seratus ribu orang, oleh ibnu Alqami dikurangi dengan cara mencoret nama-nama pasukan dari daftar Negara dan menghapus gajinya. Ia meyakinkan kepada Khalifah Al Musta’sim bahwa pasukan Mongol tidak akan menyerang Bagdad dan menasehatkannya untuk mengirim hadiah kepada pasukan mongol agar tidak menyerang Bagdad. Hadiah tersebut tidak perlu mewah. Selain itu Ibnu Alqami juga berusaha memperkecil jumlah pasukan Al Mustashim hingga tinggal sepuluh ribu personel.

37.1. Serangan Mongol

Sementera itu cucu Jengish Khan, Hulaghu bergerak dari mongol memim-pin pasukan berkekuatan besar untuk membasmi kelompok Hasyasyin(1255). Ia mengundang Khalifah untuk bekerjasama membasmi kelompok itu. Tetapi tidak mendapat tanggapan. Akhirnya sejumlah besar benteng Hasyasin termasuk pusatnya, Alamut, berhasil dihancurkan(1256). Hulagu kemudian terus maju ke Bagdad, dan tatkala sampai di Khurasan(September 1257), ia mengultimatum Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota diluar diruntuhkan. Tetapi Khalifah enggan memberikan jawaban. Tentara Mongol pimpinan Hulagu akhirnya tiba di luar kota Baghdad pada bulan November 1257. Hulagu sekali lagi mengirim utusan kepada khalifah agar menyerah, tetapi khalifah menolak dan memberi peringatan kepada Hulagu bahwa mereka akan menghadapi murka Allah jika mereka tetap menyerang kekhalifahan yang dipimpinnya.

Hulagu segera membagi pasukannya menjadi dua bagian besar untuk menyerbu Baghdad yaitu dari Barat dan Timur sungai Tigris. Awalnya pasukan muslim berhasil memukul mundur serbuan dari barat, tetapi mereka berhasil dikalahkan di pertempuran berikutnya. Serangan bangsa Mongol akhirnya berhasil menyusup ke garis belakang pasukan muslim dan tanpa ampun membantainya dan sebagian mati tenggelam.

Pada tanggal 29 Januari 1258, kota Baghdad mulai dikepung dibawah pimpinan jendral China, Guo Khan. Pada tanggal 5 Pebruari, mereka berhasil menguasai benteng disekitar baghdad. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi dengan Hulagu tetapi ditolaknya. Akhirnya pada tanggal 10 Pebruari, Baghdad resmi menyerah.

Pasukan Mongol mulai memasuki kota pada tanggal 13, dimana minggu itu merupakan minggu yang sungguh penuh darah dan jerit tangis warga kota Baghdad. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran terjadi dima-na-mana. Bangsa Mongol menjarah dan menghancurkan Masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit, dan juga banyak bangunan bersejarah. Perpustakaan kota Baghdad yang penuh dengan buku-buku sejarah, kedokteran dan astronomi dan lainnya dijarah dan semua bukunya dilempar ke sungai Tigris, para saksi mata mengatakan sungai tigris berubah warnanya menjadi hitam dikarenakan saking banyaknya buku yang terendam sehingga tintanya luntur.

Khalifah Al-Mus'tasim ditangkap dan disuruh melihat rakyatnya yang sedang disembelih dijalan-jalan dan hartanya yang dirampas. Kemudian setelah itu khalifah dibunuh dengan cara dibungkus dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua anaknya dibunuh kecuali satu yang masih kecil dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.

Sejarawan Islam, Abdullah Wassaf memperkirakan pembantaian warga kota Baghdad mencapai beberapa ratus ribu orang. Ian Frazier dari majalah The New York Worker memberi perkiraan sekitar 200 ribu sampai dengan 1 juta orang. Setelah kehancuran ini, kota Baghdad tidak pernah lagi menjadi pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan dunia.

Sebenarnya serangan Hulaghu ini adalah hanya sebagai pukulan terakhir saja dalam keruntuhan Kekhalifahan Abbasiyah yang sebenarnya telah mende-rita sakit kronis sekian lama. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kelema-han Kekhalifahan ini sehingga mencapai keruntuhannya adalah sebagai berikut :
  • Melemahnya kewibawaaan seorang Khalifah dalam memerintah, sehingga mudah dipengaruhi para pegawainya, bahkan malah pegawainya yang berkuasa, sementara Khalifah hanya berkuasa secara formalitas.
  • Persaingan antar bangsa yang saling berebut pengaruh dalam Kekha-lifahan. Seperti bangsa Persia dan Turki.
  • Merosotnya perekonomian yang disebabkan menurunnnya pendapatan negara sementara pengeluaran meningkat. Penurunan ini disebabkan oleh menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah.
  • Bermunculannya aliran-aliran keagamaan yang menimbulkan konflik, seperti kaum Syi’ah, Mu’tazilah, Zindiq dan lain-lain. Selain itu juga munculnya sikap fanatik Mazhab yang juga menimbulkan konflik.
  • Ancaman dari luar seperti ekspeisi perang Salib dan serangan bangsa Mongolia.

37.2. Dalam fiksi

Al-Musta'sim adalah kholifah yang berkuasa di masa buku O Homem que Calculava, oleh Malba Tahan (nama samaran Júlio César de Mello e Souza yang kelahiran Brazil). Akhir cerita buku ini merujuk pada kekalahannya dan Pengepungan Baghdad; namun, pimpinan penyerbu itu dikatakan Genghis Khan sendiri, bukannya Hulagu Khan, dan tidak disebutkan bahwa Al-Musta'shim dipenggal selain daripada diinjak-injak.

Terkait:
Pasukan Kekhalifahan Rasyidin 
Bani Hasyim
Bani Umayyah 
Bani Abbasiyah 

back to daftar Khalifah

Arief

Berita

Loading...

Arah Kiblat