WELCOME TO THE BLOG SERBA SERBI.

Sabtu, 17 September 2011

WHO: Tes Darah untuk TBC Tidak Akurat

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta negara-negara miskin dan berkembang untuk melarang penggunaan tes darah untuk mendeteksipenyakit tuberkulosis (TBC). Tes darah dinilai tidak akurat karena seharusnya tes TBC menggunakan tes mikrobiologi dengan mengecek bakteri di dahak.

WHO sudah melarang penggunaan tes darah untuk deteksi TBC ini sejak Juli 2011. Seperti dilansir VOANews, Senin (15/8/2011), adalah pertama kalinya WHO mengeluarkan kebijakan melarang secara terang-terangan terhadap prosedur yang telah banyak digunakan untuk pemeriksaan TBC.

Kebijakan WHO tersebut didasarkan pada dua studi terbaru yang menemukan tes darah tidak akurat dan menyesatkan. Selain karena tidak akurat dan menyesatkan, prosedur tes darah untuk mengidentifikasi TBC, malah seringkali menyebabkan penularan.

TBC membunuh 1,7 juta orang per tahun di seluruh dunia dan diperkirakan 95 persen penderita TBC berada di negara-negara berkembang. Negara yang mempunyai penderita TBC terbanyak di dunia adalah India. Pemerintah India mengatakan lebih dari 2 juta orang baru terinfeksi setiap tahunnya. Dan penggunaan tes darah untuk deteksi TBC masih merupakan pilihan utama di India.

Berdasarkan studi yang dilakukan di India, peneliti WHO berpendapat bahwa tes darah justru meningkatkan jumlah infeksi TBC di negara ini. Hasil yang didapat banyak tidak terdeteksi dengan akurat, sehingga penderita yang benar-benar terkena TBC tidak diobati. Akhirnya orang yang terinfeksi TBC karena ketidaktahuannya malah menularkan kepada orang lain.

Dr David Dowdy dari Johns Hopkins School of Public Health adalah seorang peneliti utama dalam salah satu dari dua studi tersebut. Menurut Dowdy, hasil tes darah yang rancu untuk TBC cenderung menyebabkan pasien merasa bahwa tidak terinfeksi dan menyebabkan mereka merasa tidak perlu pengobatan atau menunda pengobatan. Sehingga pasien-pasien tersebut justru akan menginfeksi orang-orang disekitarnya tanpa disadari.

Dowdy mengatakan bahwa tes mikrobiologi untuk mengetahui BTA (basil tahan asam) dengan memeriksa dahak masih merupakan cara tradisional termurah dan paling efektif untuk mendiagnosis TBC. Tetapi karena tes dahak atau sputum ini memakan waktu, sehingga tes darah menjadi pilihan utama karena lebih sederhana, mudah dan cepat untuk dilakukan.

Para ahli menunding penggunaan alat tes darah adalah merupakan bisnis dari negara-negara maju di negara-negara berkembang. WHO mengatakan lebih dari 1 juta dari tes darah dilakukan setiap tahun, meskipun mereka tidak disetujui oleh badan pengawas yang diakui.

Dasar dilakukannya tes darah ini karena dapat mengukur antibodi dalam darah terhadap TBC. Ketika seseorang terinfeksi TBC, tubuhnya akan membentuk antibodi untuk melawan TBC. Tetapi masalahnya adalah bahwa antibodi seseorang tidak akan sama dengan orang lain. Dan kenyataannya belum ada tes yang dapat mendeteksi seluruh antibodi.

Setelah WHO mengeluarkan pedoman tersebut, pemerintah India mengeluarkan pernyataan mendesak kepada dokter dan laboratorium untuk tidak bergantung pada tes darah karena diagnostik kurang akurat. Perubahan penggunaan tes tersebut mungkin akan memakan waktu lama di negara seluas India. Namun, para ahli telah menyambut kebijakan WHO dan pemerintah India telah memberikan respons positif.

TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tubercolusis. Penularan TBC terjadi melalui droplet yang tersebar di udara dari aktivitas seperti batuk, bersin, meludah, dan lainnya.

Tanda dan gejala TBC aktif meliputi:
1. Batuk
2. Penurunan berat badan
3. Kelelahan
4. Demam
5. Keringat malam
6. Menggigil
7. Kehilangan nafsu makan

DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) merupakan strategi internasional yang direkomendasikan untuk mengendalikan TBC. Indonesia telah melampaui target WHO sebesar 85 persen untuk keberhasilan pengobatan DOTS, yaitu mencapai 91 persen. Hal ini disebabkan kerjasama yang baik dari penyedia layanan kesehatan umum dan swasta.

Diagnosis TBC di Indonesia kebanyakan melalui pemeriksaan mikroskopis basil pada sputum atau BTA. Melakukan kultur basil memang mahal dan tidak praktis karena membutuhkan waktu 6 minggu, namun hasilnya jauh lebih akurat dibandingkan dengan tes darah
.
Arief

Bebas Bayar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online