WELCOME TO THE BLOG SERBA SERBI.

Rabu, 12 Desember 2012

Kondisi Perekonomian Daerah Nunukan

BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 
B. KONDISI PEREKONOMIAN DAERAH

1. Kinerja Perekonomian Daerah

Kebijakan desentralisasi pemerintah pusat melalui Undang - Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang - Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, ikut memacu pergerakan ekonomi daerah kearah kondisi pertumbuhan dan pemerataan perekonomian yang semakin baik yang mendukung tercapainya pembangunan wilayah dan masyarakat.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan dari berbagai aktifitas ekonomi suatu wilayah (BPS Kabupaten Nunukan Tahun 2005). Data PDRB tersebut menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola 4 faktor produksi yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya modal (kapital) dan manajemen. Sehingga, nilai PDRB menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan dalam kurun waktu tertentu.
Perkembangan PDRB mulai tahun 2000 s/d 2005 cenderung mengalami fluktuasi. Hal ini merupakan dampak dari perkembangan produksi barang dan jasa dari 9 sektor penyusun PDRB. Pertumbuhan PDRB dengan migas baik berdasarkan harga konstan maupun harga berlaku sangat besar dibandingkan tanpa migas. Hal ini mengindikasikan hasil produksi migas beserta produksi turunan lainnya memiliki nilai yang sangat tinggi, walaupun biaya ekplorasi maupun ekploitasinya juga membutuhkan investasi yang mahal namun hal ini dapat tertutupi oleh nilai produksi sehingga mampu menghasilkan profit yang tinggi.
Perkembangan nilai PDRB Kabupaten Nunukan 2000 s/d 2005 (jutaan rupiah) disajikan pada Tabel berikut.


Tabel 4.
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Nunukan
Tahun 2000 s/d 2005 (dalam jutaan rupiah)


Tahun 2000
Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas 637.676 Tanpa Migas 432.194
Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 637.676 Tanpa Migas 432.194

Tahun 2001
Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas 904.881 Tanpa Migas 552.770
Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 855.532 Tanpa Migas 508.464

Tahun 2002
Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas 1.019.135 Tanpa Migas 635.770
Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 935.858 Tanpa Migas 559.687

Tahun 2003
Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas 1.124.931 Tanpa Migas 698.130
Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 991.752 Tanpa Migas 597.835

Tahun 2004
Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas 1.284.077 Tanpa Migas 804.897
Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 1.082.855 Tanpa Migas 675.652



Tahun 2005
Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas 2.102.176 Tanpa Migas 1.024.653
Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 1.183.680 Tanpa Migas 782.878


Laju pertumbuhan ekonomi berdasarkan indikator PDRB harga konstan baik berdasarkan perhitungan migas maupun tanpa migas periode tahun 2000 s/d 2005 berfluktuasi dan menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun 2002 s/d 2004. Pertumbuhan maksimal dengan migas dan tanpa migas berturut-turut sebesar 34,16% dan 17,65%, terjadi pada tahun 2001. Pertumbuhan minimal terjadi pada tahun 2004 berturut-turut 9,19% dan 13,02%. Pertumbuhan dengan migas pada tahun 2004 relatif kecil dibandingkan tanpa migas. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor migas di kabupaten Nunukan belum berkembang dengan baik sehingga kontribusinya dalam pembentukan struktur perekonomian regional (PDRB) relatif kecil dibandingkan sektor-sektor non migas lainnya yang menunjukkan perkembangan yang lebih baik (dihitung dari data PDRB non migas).


Tabel 5.
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Nunukan Tahun 2000 – 2005


  • Tahun 2000 Dengan Migas 15,93 Tanpa Migas  9,25
  • Tahun 2001 Dengan Migas 34,16 Tanpa Migas  17,65
  • Tahun 2002 Dengan Migas 9,39 Tanpa Migas  10.07
  • Tahun 2003 Dengan Migas 5,97 Tanpa Migas  6,82
  • Tahun 2004 Dengan Migas 9,19 Tanpa Migas  13,02
  • Tahun 2005 Dengan Migas 9,31 Tanpa Migas  15,87

Struktur perekonomian daerah masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian. Kontribusi sektor ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005, kontribusi yang diberikan dalam pembentukan nilai total PDRB berdasarkan harga konstan sebesar 62,44% atau senilai Rp. 1.312,63 miliar. Peringkat kedua disusul oleh sektor pertanian sebesar 20,88% atau senilai Rp. 438,86 miliar. Peringkat terakhir ditempati oleh sektor industri pengolahan sebesar 0,03%. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri pengolahan mengalami perkembangan yang “stagnan” atau tetap, relatif tidak mengalami kenaikan yang signifikan terhadap perkembangan total PDRB, dimana tahun pertumbuhan rata-ratanya hanya sebesar 0,03% pada periode 2000 – 2005.


Tabel 6.
Struktur Perekonomian Kabupaten Nunukan 2002-2005 (%)

Tahun 2002
Sektor Pertanian                                       : 38,25
Pertambangan dan penggalian                  : 38,49
Industri pengolahan                                   :  0,03
Listrik, gas dan air minum                        :  0,53
Bangunan                                                    :  5,72
Perdagangan, hotel dan restoran               :  9,65
Angkutan dan komunikasi                          :  2,23
Keuangan, persewaan, & jasa perusahaan :  0,18
Jasa-jasa                                                      :  4,91
TOTAL                                                         : 100,00


Tahun 2003
Sektor Pertanian                                         : 37,08
Pertambangan dan penggalian                    : 38,85
Industri pengolahan                                    :  0,04
Listrik, gas dan air minum                         :  0,6
Bangunan                                                     :  6,77
Perdagangan, hotel dan restoran               :  9,37
Angkutan dan komunikasi                          :  2,3
Keuangan, persewaan, & jasa perusahaan :  0,17
Jasa-jasa                                                       :  4,82
TOTAL                                                         : 100,00

Tahun 2004
Sektor Pertanian                                         : 33,22
Pertambangan dan penggalian                    : 42,93
Industri pengolahan                                    :   0,04
Listrik, gas dan air minum                         :   0,65
Bangunan                                                     :   6,27
Perdagangan, hotel dan restoran               :   9,82
Angkutan dan komunikasi                          :   2,33
Keuangan, persewaan, & jasa perusahaan :   0,16
Jasa-jasa                                                      :   4,58
TOTAL                                                        : 100,00

Tahun 2005
Sektor Pertanian                                        : 20,88
Pertambangan dan penggalian                   : 62,44
Industri pengolahan                                    :   0,03
Listrik, gas dan air minum                         :   0,45
Bangunan                                                    :   3,92
Perdagangan, hotel dan restoran               :   7,52
Angkutan dan komunikasi                          :   1,67
Keuangan, persewaan, & jasa perusahaan :   0,11
Jasa-jasa                                                      :   2,98
TOTAL                                                        : 100,00

Sektor Pertanian
Tahun 2002 -  38,25%
Tahun 2003 - 37,08
Tahun 2004 - 33,22
Tahun 2005 - 20,88
Rata-Rata - 32,36


Pertambangan dan penggalian
Tahun 2002 -  38,49
Tahun 2003 - 38,85
Tahun 2004 - 42,93
Tahun 2005 - 62,44
Rata-Rata - 45,68


Industri pengolahan
Tahun 2002 -  0,03
Tahun 2003 - 0,04
Tahun 2004 - 0,04
Tahun 2005 - 0,03
Rata-Rata - 0,04

Listrik, gas dan air minum
Tahun 2002 -  0,53
Tahun 2003 - 0,6
Tahun 2004 - 0,65
Tahun 2005 - 0,45
Rata-Rata - 0,56
Bangunan
Tahun 2002 -  5,72
Tahun 2003 - 6,77
Tahun 2004 - 6,27
Tahun 2005 - 3,92
Rata-Rata - 5,67
Perdagangan, hotel dan restoran
Tahun 2002 -  9,65
Tahun 2003 - 9,37
Tahun 2004 - 9,82
Tahun 2005 - 7,52
Rata-Rata - 9,09
Angkutan dan komunikasi
Tahun 2002 -  2,23
Tahun 2003 - 2,3
Tahun 2004 - 2,33
Tahun 2005 - 1,67
Rata-Rata - 2,13
Keuangan, persewaan, & jasa perusahaan
Tahun 2002 -  0,18
Tahun 2003 - 0,17
Tahun 2004 - 0,16
Tahun 2005 - 0,11
Rata-Rata - 0,16
Jasa-jasa
Tahun 2002 -  4,91
Tahun 2003 - 4,82
Tahun 2004 - 4,58
Tahun 2005 - 2,98
Rata-Rata - 0,32

1. Potensi Pertambangan

1.1 Minyak dan Gas Bumi

Minyak bumi yang diproduksi oleh PT. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd mengalami peningkatan selama 4 tahun terakhir. Selama tahun 2003, minyak bumi yang diproduksi sebesar 2.294.252 BBL yang berarti mengalami peningkatan sebesar 9% dari tahun sebelumnya sebesar 2.104.500 BBL. Pada tahun 2005, mengalami penurunan menjadi 1.759.899 BBL (11,4%). Untuk produksi gas alam cair sebenarnya sudah ada namun dalam pemasarannya PT. Perkasa Equatorial Sembakung belum mampu melakukannya. Produksi Migas periode tahun 2002 – 2005 disajikan pada Tabel 7. Potensi batu bara telah diekploitasi oleh beberapa perusahaan pertambangan sejak tahun 2004 dan cenderung mengalami peningkatan produksi setiap tahunnya.


Tabel 7.
Produksi Minyak Bumi (MMSTB) dan Gas Bumi (MMSCR),
Tahun 2002-2005

Tahun 2000
Produksi (BBL)
Minyak Bumi - 1.160.938
Gas Alam Cair- -

Tahun 2001
Produksi (BBL)
Minyak Bumi - 1.950.910
Gas Alam Cair- -

Tahun 2002
Produksi (BBL)
Minyak Bumi - 2.104.500
Gas Alam Cair- -

Tahun 2003
Produksi (BBL)
Minyak Bumi - 2.294.252
Gas Alam Cair- -

Tahun 2004
Produksi (BBL)
Minyak Bumi - 1.986.387
Gas Alam Cair- -

Tahun 2005
Produksi (BBL)
Minyak Bumi - 1.759.899
Gas Alam Cair- -


Tabel 8.
Jumlah Produksi Tambang/Mineral Tahun 2004 – 2005 (Ton)
  • Batubara 
    • Tahun 2004 - 420.460 Ton
    • Tahun 2005 - 1.087.141 Ton
  • Timah
  • Besi/baja
  • Tembaga
  • Biji nikel
  • Tembaga
  • Emas



2. Pertanian Dalam Arti Luas
2.1 Kehutanan

Luas hutan secara keseluruhan di Kabupaten Nunukan adalah 1.236.810 ha pada tahun 2004, kemudian pada tahun 2005 menjadi 1.236.837 ha. Dengan demikian, dalam kurun waktu 1 tahun, kawasan hutan mengalami konversi untuk aktivitas sebesar 27 ha.
Hutan di Kabupaten Nunukan mampu memproduksi kayu bulat. Selama tahun 2004, kayu bulat yang diproduksi dalam wilayah UPTD-KPH Nunukan sebesar 245.162,18 m3. Kemudian mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 82.973,53 m3. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi ekploitasi sumberdaya kehutanan.
Jumlah pemegang HPH selama tahun 1996 s/d 2004 tidak bertambah, yakni sebanyak 4 (empat) pemegang dengan luas areal hutan yang ada pada kurun waktu tersebut sebesar 731.482 ha. Setelah itu pada tahun 2005 jumlah pemegang HPH mengalami penurunan menjadi 1 (satu). Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan pada tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 10 berikut, sedangkan produksi hasil hutan beserta jumlah HPH yang diterbitkan disajikan pada Tabel 11 dan 12.



Tabel 9.
Luas Kawasan Hutan Menurut Tata Guna Hutan Kesepakatan, Tahun 2005

Tahun 2004
Taman Nasional                :  282.794 Ha - 22,86 %
Hutan Lindung                  :    92.447 Ha - 7,47 %
Hutan Produksi Terbatas  :  135.037 Ha - 10,92 %
Hutan Produksi                 :  272.594 Ha - 22,04 %
Kawasan Non Kehutanan  :  453.937 Ha - 36,70 %
Jumlah                               : 1.236.810 Ha - 100 %

Tahun 2005
Taman Nasional                :  282.794 Ha - 23,00 %
Hutan Lindung                  :    92.447 Ha - 7,00 %
Hutan Produksi Terbatas  :  135.064 Ha - 11,00 %
Hutan Produksi                 :  272.594 Ha - 22,00 %
Kawasan Non Kehutanan  :  453.937 Ha - 37,00 %
Jumlah                               : 1.236.837 Ha - 100 %





Tabel 10.
Produksi Kayu Bulat dalam Wilayah UPTD-KPH Nunukan Tahun1997-2005

Tahun - Produksi (M3)

1997- 307.455,46

1998- 223.310,26

1999- 357.187,47

2000- 548.437,90

2001- 593.510,18

2002- 635.899,12

2003- 619.819,26

2004- 245.162,18

2005- 82.973,53



Tabel 11.
Jumlah Pemegang dan Luas Hak Pengusahaan Hutan dalam Wilayah UPTD-KPH Nunukan

Tahun - Pemegang HPH - Luas Areal (Ha)


1996- 4 - 731.482

1997 - 4 - 731.482

1998 - 4 - 731.482

1999- 4 - 731.482

2000- 4 - 731.482

2001- 4 - 731.482

2002- 4 - 731.482

2003- 4 - 731.482

2004- 4 - 731.482

2005- 1 - 22.220



2.2 Tanaman pangan

Kabupaten Nunukan memiliki beberapa komoditas untuk tanaman padi dan palawija, yaitu padi sawah, padi ladang, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Luas lahan padi dan palawija tahun 2005 masih didominasi oleh padi sawah seluas 7.946 ha, padi ladang seluas 2.087 ha dan ubi kayu seluas 841 ha. Lahan padi sawah banyak terdapat di daerah Kecamatan Krayan dengan luas 2.428 ha, lahan padi ladang dan ubi kayu banyak terdapat di Kecamatan Lumbis. Produksi terbesar selama tahun 2005 adalah padi sawah sebesar 26.391 ton, disusul ubi kayu sebesar 11.370 ton, kemudian padi ladang sebesar 5.163 ton.
Padi sawah banyak diproduksi di Kecamatan Krayan sebesar 11.288 ton, sedangkan produksi ubi kayu dan padi ladang terbesar pada Kecamatan Lumbis dengan masing-masing nilai produksi sebesar 3.411 ton dan 2.494 ton.
Selama tahun 2005, lahan tanaman sayur-sayuran terluas secara keseluruhan dimiliki oleh tanaman cabe dengan luas lahan seluas 420 ha, kacang panjang seluas 284 ha, kemudian kangkung seluas 186 ha. Untuk kacang panjang lahan terluas terdapat di Kecamatan Krayan dengan luas 78 ha, lahan cabe terluas terdapat di Kecamatan Nunukan dengan luas 134 ha, sedangkan lahan kangkung terluas terdapat di Kecamatan Nunukan seluas 64 ha. Tahun 2005 produksi sayuran didominasi oleh ketimun sebanyak 2.129 ton, terung 1.992 ton dan sawi 1.904 ton. Produksi ketimun dan sawi terbesar diperoleh di Kecamatan Nunukan sebesar 1.036 ton dan 885 ton. Kecamatan Krayan memiliki jumlah produksi terung terbesar sejumlah 988 ton. Produksi buah-buahan tahun 2005 didominasi oleh pisang sebanyak 2.502,5 ton, pepaya 545,0 ton dan rambutan 469,0 ton.

Tabel 12.
Produksi dan Luas Lahan Padi dan Palawija 2004 – 2005 (ha)

Tahun 2004
Komoditi  :  Luas (ha)  -   Produksi (ton)
Padi sawah      : 6.415 - 28.579
Padi ladang     :  1.688 - 3.941
Jagung             :    274  -   430
Kedelai           :       40 -   42
Kacang tanah  :    139 - 143
Kacang hijau  :      73 -  66
Ubi kayu         :    687 - 9.170
Ubi jalar         :     119 - 992
Jumlah            : 9.435 - 43.363


Tahun 2005
Komoditi   : Luas (ha)  -  Produksi (ton)
Padi sawah      :  7946 - 26.391
Padi ladang     :  2.087 - 5.163
Jagung             :     981 -  1.976
Kedelai           :       55 -   61
Kacang tanah  :      205 -  213
Kacang hijau  :        70 - 70
Ubi kayu         :      841 -  11.370
Ubi jalar         :      180 -  1.603
Jumlah            : 12.365 - 46.847


Tabel 13.
Produksi dan Luas Lahan Tanaman Sayuran 2004 – 2005

Tahun 2004
Komoditi   : Luas (ha)  -  Produksi (ton)
Bawang merah  :     5 - 18
Bawang daun     :   25 - 220
Kubis                 :     3 - 90
Petai/sawi          :  152 - 2210
Kacang panjang :  267 - 604
Cabe                   :  410 - 1047
Tomat                 :  191 - 1599
Terong                :  235 - 1682
Buncis                :  181 - 2196
Ketimun             :  138 - 1730
Labu siam          :     68 - 1366
Kangkung           :   221 - 1936
Bayam                :   181 - 314
Jumlah              : 2070 - 15012


Tahun 2005
Komoditi   : Luas (ha)  -  Produksi (ton)
Bawang merah  :   10 - 62
Bawang daun     :   59 - 545
Kubis                 :   15 - 450
Petai/sawi          : 142 - 1904
Kacang panjang :  284 - 608
Cabe                   :  420 - 1004
Tomat                 :  204 - 1342
Terong                :  248 - 1992
Buncis                :  150 - 1390
Ketimun             :  164 - 2129
Labu siam          :     45 - 602
Kangkung           :  186 - 1761
Bayam                :  202 - 342
Jumlah              :2129 - 14131



2.3 Perkebunan

Sektor pertanian dan perkebunan merupakan sektor yang diharapkan mampu menggerakkan perekonomian wilayah Kabupaten Nunukan. Hal ini tidak bisa lepas dari kemampuan lahan yang tersedia untuk berbagai komoditas.
Luas lahan perkebunan di Kecamatan Nunukan selama tahun 2005 seluas 14.179,5 ha yang mengalami penambahan luas sebanyak 21,65 %. Tanaman kelapa sawit memiliki lahan terluas dengan luas 30.155,7 ha, kemudian tanaman kakao dan kopi dengan luas masing-masing 12.659,0 ha dan 3.404,6 ha. Lahan kelapa sawit terluas terdapat di Kecamatan Nunukan dengan luas 20.234,0 ha, lahan kakao terluas terdapat di Kecamatan Sebatik dengan luas 10.735,0 ha sedangkan untuk lahan tanaman kopi terluas terdapat di Kecamatan Nunukan dengan luas 1.573,0 ha. Produksi tanaman perkebunan selama tahun 2005 juga didominasi tanaman kakao sebanyak 17.073,35 ton, kemudian kelapa dalam sebanyak 7.406,60 ton dan kopi sebanyak 1.686,94 ton. Kecamatan Sebatik memiliki produksi terbesar baik untuk tanaman kakao sebesar 13.991,12 ton dan tanaman kelapa dalam sebesar 6.264,92 ton. Untuk produksi terbesar tanaman kopi terdapat di Kecamatan Nunukan sebesar 1.388,89 ton.


Tabel 14.
Luas, Produksi dan Nilai Produksi Tanaman Perkebunan
Komoditi 2004
Luas (ha) Produksi (ton) Nilai
(Rp.000)
Kelapa dalam 2.517 6.430,80 16.077.000
Kopi 1.453,8 1.412 16.944.000
Kakao 11.122 15.889,60 178.762.500
Lada 101 154,05 3.851.250
Cengkeh 22,5 0,55 14.85
Panilli 3 - -
Kelapa sawit 22.961 - -
Kayu manis 4 - -
Kemiri 53,5 4,00 38.4
Tebu 24,5 6,70 67
Jambu mete 8 7,00 280
Aren 11 19 105
Pala 5 2,70 49.95
Jumlah 38.286 23.926,40 216.189.950




Komoditi 2005
Luas (ha) Produksi (ton) Nilai 
(Rp.000)
Kelapa dalam 2.534,2 7.406,60 24.731.250
Kopi 3.404,6 1.686,94 8.001.750
Kakao 12.659,0 17.073,35 173.693.740
Lada 186,5 221,60 1.512.450
Cengkeh 45,0 50,00 17.7
Panilli 59,4 - -
Kelapa sawit 30.155,7 1.600,00 -
Kayu manis 4,0 - -
Kemiri 64,5 635,03 29.59
Tebu 38,0 32,56 3.95
Jambu mete 8,0 6,67 354.6
Aren 11,0 6,33 90.865
Pala 5,0 3,00 49.175
Jumlah 49.174,9 28.722,08 208.485.070



2.4 Peternakan

Peningkatan jumlah populasi 2002 – 2003 yang paling signifikan adalah unggas ayam ras pedaging dan petelor. Ayam ras pedaging jumlahnya meningkat dari 30.507 ekor menjadi 352.465 ekor dan ayam ras petelor meningkat drastis dari 992 ekor menjadi 173.690 ekor. Unggas itik mengalami penurunan sebanyak 2.718 ekor dari 12.900 ekor pada tahun 2002 menjadi 10.182 ekor pada tahun 2003. Produksi telur yang dihasilkan pada tahun 2003 dari jenis unggas itik tersebut adalah sebesar 30,75 ton. Pada tahun 2004, ternak babi merupakan hewan yang jumlahnya terbanyak yaitu 4.843 ekor, kemudian kerbau 3.130 ekor dengan daerah penghasil terbesar adalah kecamatan Krayan. Ternak sapi potong terdapat di 7 kecamatan, dengan daerah penghasil terbesar adalah Nunukan sebanyak 1.191. Sedangkan kambing banyak diternakkan di Kecamatan Sebatik sebesar 665 ekor.



2.5 Perikanan

Produksi perikanan selama tahun 2005 sebesar 6.558,94 ton mengalami penurunan sebesar 1.893,02 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi perikanan tersebut didominasi oleh perikanan laut yang terdapat dalam kawasan pesisir yaitu Sembakung-Nunukan-Sebatik sebesar 4.150,23 ton, sedangkan untuk perikanan darat sebesar 137,86 ton. Produksi perikanan budidaya tambak mendominasi produksi hasil perikanan darat sebesar 2.248,64 ton, diikuti kolam 18,61 ton dan produksi karamba 1,92 ton. Nilai produksi perikanan pada tahun 2005 sebesar Rp 102.066.684.000,- dimana perikanan laut memberikan kontribusi sebesar Rp 56.352.650.000,- sedangkan perikanan darat sebesar Rp 27.279.920.000,-. Rumah tangga perikanan selama tahun 2005 berjumlah 2.614 unit.

2. Kapasitas Keuangan Daerah
Perkembangan kemampuan keuangan daerah sangat ditentukan oleh kondisi ekonomi nasional, kebijakan fiskal Pemerintah Pusat serta kebijakan Pemerintah Daerah sendiri. Namun demikian, kebijakan Pemerintah Pusat masih merupakan faktor dominan dalam menentukan kemampuan keuangan daerah. Hal ini dikarenakan kapasitas keuangan daerah masih sangat bergantung kepada Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Umum (DAU). Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya mampu memberikan proporsi 2,05 % s/d 4,12 % dari seluruh pendapatan daerah.
Otonomi Daerah menuntut adanya kemandirian dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan, demikian juga dalam hal keuangan daerah. Untuk itu, dalam rangka semakin mengurangi ketergantungan keuangan daerah dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten Nunukan perlu merumuskan kebijakan-kebijakan yang kreatif dan cerdas dalam meningkatkan PAD tanpa harus mengganggu kepentingan sektor riil yang efeknya akan menggangu perkembangan ekonomi secara keseluruhan.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir jumlah PAD Kabupaten Nunukan menunjukkan kinerja peningkatan, yaitu dari 6,01 milyard pada tahun 2001 naik menjadi 16,51 milyard pada tahun 2005. Namun secara proporsi terhadap total pendapatan daerah jumlahnya relatif kecil, yaitu berkisar pada angka 2,05% s/d 4,12%. Demikian pula Pendapatan Daerah dari Dana Perimbangan menunjukan kinerja peningkatan, yaitu dari 268,02 milyar pada tahun 2001 naik menjadi 565,79 milyar pada tahun 2005 dengan tingkat poporsi terhadap Total Pendapatan Daerah berkisar pada angka 89,36% s/d 92,01%. Untuk Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah menunjukkan kinerja fluktuatif dengan proporsi terhadap Total Pendapatan Daerah berkisar 0,25% s/d 7,08%. Uraian lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 15

Pendapatan Daerah Kabupaten Nunukan Tahun 2001 s/d 2005
(Dalam jutaan rupiah)

Tahun 2001
PAD = 6.011,41 - 2,05 % 
Dana Perimbangan = 268.082,54 = 91,34%
Lain-lain Pendpt. Drh yg Sah = 19.403,05 = 6,61%
Jumlah = 293.497,00 = 100,00 %


Tahun2002
PAD = 11.862,70 = 3,55%
Dana Perimbangan =  298.242,19 = 89,36%
Lain-lain Pendpt. Drh yg Sah = 23.637,20 = 7,08%
Jumlah = 333.742,09 = 100,00%



Tahun 2003
PAD = 15.704,26 =  3,61%
Dana Perimbangan =  419.089,16 =  96,39
Lain-lain Pendpt. Drh yg Sah = 0 = 0
Jumlah = 434.793,42 =  100,00%



Tahun 2004
PAD = 16.266,50 =  4,12%
Dana Perimbangan =  377.850,09 = 95,63
Lain-lain Pendpt. Drh yg Sah = 1.000,00 = 0,25%
Jumlah = 395.116,59 = 100,00%


Tahun 2005
PAD = 16.518,85 = 2,69%
Dana Perimbangan =  565.795,62 = 92,01%
Lain-lain Pendpt. Drh yg Sah = 32.608,60 = 5,30%
Jumlah = 614.923,07 = 100,00


Dari uraian di atas dapat disimpulkan kemandirian Keuangan Daerah masih rendah. Proporsi Pendapatan Daerah masih didominasi oleh Pendapatan yang berasal dari Dana Perimbangan.
---RPJPD Kabupaten Nunukan 2005-2025---

Bebas Bayar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online