Senin, 25 Maret 2013

Sejarah Sidenreng Rappang

arifuddinali.blogspot.com - Dalam konteks sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, diawali dengan kehadiran To Manurung yaitu orang yang datang secara tiba-tiba dan tidak diketahui asal usulnya. Oleh karena kemisteriusannya, masyarakat mengambil kesimpulan bahwa To Manurung berasal dari kayangan.

To Manurung berasal dari bahasa Bugis yang terdiri atas 2 kata yaitu, to yang berarti orang dan Manurung yang berarti turun. Dalam kebudayaan Bugis yang dimaksud To Manurung ialah manusia pertama yang diturunkan dari langit untuk menjadi penguasa di bumi.

Menurut para peneliti lontaraq berpendapat bahwa timbulnya mitos To Manurung yang menurunkan raja-raja Bugis Makassar merupakan bentuk pengetahuan masyarakat untuk membenarkan ketinggian status sosial para raja. Karena dengan mitos tersebut, maka para raja mendapatkan martabat kebangsawanannya. Hal ini juga diperkuat bahwa para raja merupakan orang-orang piihan yang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan masyarakat biasa. Kelebihan-kelebihan tersebut misalnya seorang raja haruslah berani (To Barani), pintar (To Maccae), jujur (lempu) dan lain-lain. Sehingga dengan kelebihannya tersebut, masyarakat menganggap bahwa para raja bukanlah manusia biasa, melainkan turunan dari langit (To Manurung).

Kerajaan Sidenreng

Sebelum menceritakan asal mulanya daerah Sidenreng, di awal tulisan lontaraq tertulis :
Tidak aku berdosa, tidak aku terkutuk, tidak aku celaka, menyebut-nyebut nama Sang Agung, kisah cerita orang yang mulia, turunan bangsawan yang bertahta. Dialah disebut orang yang tinggal di Sidenreng bagian barat, yang oleh orang Bone dan orang Soppeng menamakan Toraja yang menempati danau

Dalam versi lontaraq yang lain, ditulis :
Mohonlah kami kepada Tuhan, supaya kami jangan kena sumpah, janganlah mendapat bahaya, jangan bermati-matian bersanak saudara dan berfamili, menyebut namanya Manurungnge ri Sidenreng, Manurungnge ri Bacukiki dan TempoE ri La Waramparang

Sedangkan menurut Lontaraq Sidenreng, ditulis :
Kiranya aku tak celaka, tak busung, tak haus dan lapar karena aku menyebut-nyebut nama tuanku dan membicarakan tuanku


Berikut beberapa pendapat peneliti dari Eropa mengenai Sidenreng, yaitu :

1. Catatan seorang Portugis pada abad ke-16 M yang menggambarkan Sidenreng sebagai “...Sebuah kota besar dan terkenal, berpusat di sebuah danau yang dapat dilayari dan dikelilingi tempat-tempat pemukiman.” (Tiele 1880, IV : 413)

Manuel Pinto yang berkebangsaan Portugis sempat menetap selama 8 (delapan) bulan di Kerajaan Sidenreng pada Tahun 1548 M. Manuel Pinto menulis, “Sebuah fusta besar (kapal layar Portugis yang panjang dan dilengkapi deretan dayung di kedua sisinya) dapat berlayar dari laut menuju Sidenreng.” (Wicki, Documents Indica, II : 420-2).

2. Kemudian seorang sejarawan asing yang bernama Crawfurd, pada 1828 (Descriptive Dictionary : 74, 441) menulis, “pada kampung-kampung di tepi danau…berlangsung perdagangan luar negeri yang pesat. Perahu-perahu dagang dihela ke hulu Sungai Cenrana…Kecuali pada musim kemarau, airnya cukup dalam untuk dilewati perahu-perahu paling besar sekalipun.”


1 . Kerajaan Sidenreng menurut Lontaraq MULA RI TIMPAKNA TANA’E RI SIDENRENG.

Dalam buku Lontaraq MULA RI TIMPAKNA TANA’E RI SIDENRENG, halaman 147, konon Raja Sangalla, seorang raja di Tana Toraja (waktu itu Tana Toraja masih dalam wilayah Kerajaan Luwu) mempunyai 9 (sembilan) orang anak yaitu

1. La Maddaremmeng
2. La Wewanriwu
3. La Togellipu
4. La Pasampoi
5. La Pakolongi
6. La Pababbari
7. La Panaungi
8. La Mappasessu
9. La Mappatunru

Dalam lontaraq yang lain disebutkan ada 8 (delapan) orang bersaudara dari Sangalla, yaitu; La Maddaremmeng, La Wewanriu, La Tongeq Lipu, La Pasompai, La Pakolongi, La Pabebbareng, La Mappasessuq dan La Mappatunruq.

Dalam kehidupan sehari-hari, La Maddaremmeng selalu menekan terus serta mengintimidasi kedelapan adik-adiknya seperti adik tiri semua, sehingga sering terjadi perselisihan diantara mereka dengan kakaknya. Daerah kerajaan kedelapan adik-adiknya semuanya dirampas oleh La Maddaremmeng.

Karena semua adik-adiknya sakit hati dan sudah tidak tahan lagi melihat perlakuan kakaknya (La Maddaremmeng), maka mereka sepakat meninggalkan Tana Toraja turun menuruni lembah dataran, jalan entah kemana tujuannya. Ketika tiba di Dea Kaju suatu tempat antara Banti di Baraka dengan Bunging Riase di Maiwa, mereka melihat hamparan air di arah selatan, kesanalah menuju menuruni gunung-gunung ke arah selatan, akhirnya tibalah dilembah sebelah barat genangan air itu, rupanya hamparan air ini adalah danau. Karena perjalanan yang melelahkan, mereka pun kehausan ingin sekali minum, oleh karena itu mereka mencari jalan ke tepi genangan air yang ketika itu pinggir danau masih merupakan hutan belukar yang lebat sehingga sulit sampai ke tepi danau.

Karena harus menembus belukar lebat, mereka pun Sirenreng-Renreng Aruwa Mappadaorowane (Artinya : Mereka bergandengan tangan berpegangan-pegangan delapan bersaudara) ke arah timur di sela-sela belukar mencari jalan, akhirnya menemukan jalan dari arah barat menuju ke timur sampai ke danau. Mereka minum sepuas-puasnya dan duduk beristirahat kemudian mandi-mandi.

Setelah puas mandi, sambil istirahat mereka bertukar pikiran, memikirkan dan merenungi nasibnya, akhirnya semua sepakat : Okkini’e Ri Orai Tappareng Madeceng Pada Monro(Artinya : Sebaiknya disebelah barat danau inilah kita tinggal membuat perkampungan).

Mulailah saat itu kedelapan bersaudara orang Toraja ini bermukim di tempat yang bernama Sidenreng, yang berasal dari kata Sirenreng-renreng, sebab disitulah mereka mencari jalan ke tepi danau dan tersebutlah danau itu disebut dengan Danau Sidenreng. Kedelapan anak Raja Sangalla ini memulai kehidupan baru mereka dengan bertani, berkebun, beternak dan menangkap ikan. Selang 3 (tiga) tahun bercocok tanam, sudah melimpah ruah hasil tani dan ternaknya, pengikut-pengikut pun sudah semakin banyak dan berkatalah salah seorang diantaranya : Pada Mabbempaga Sipulunni (Artinya : Pengikut-pengikut kita sudah semakin banyak berkumpul bersama, kita bersatu menyemangati daerah ini).

Mulailah pada saat itu tempat disebelah utara Sidenreng bernama Empaga’e yang berasal dari kata Mabbempaga karena pertambahan penduduk pada saat itu bertumbuh ke utara.

Penduduk di negeri ini semakin besar, tetapi belum ada yang diangkat sebagai pemimpin, maka kedelapan orang kakak beradik ini dari Sangalla sepakat bahwa kita semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama, tapi yang kakak tetap kakak dan yang adik tetap adik.

Namun apapun yang diputuskan oleh kakak maka itulah yang harus ditaati dan kalau diantara pengikut-pengikut kita ada permasalahan, kitalah yang 7 (tujuh) orang adik ini mencari jalan keluarnya. Apabila kita tidak dapat memecahkannya, barulah dibawa kepada kakak tertua untuk memutuskannya dan keputusannya adalah mutlak dan bersifat tetap. Demikian pula bilamana diantara kita (7 orang adik) ini ada permasalahan, kita serahkan pula pemecahannya kepada kakak tertua dan harus ditaati hasil keputusannya.

Karena penduduk semakin hari kian bertumbuh dan ramai bermukim di ri Wattang Tappareng dan hasil tani dan ternaknya semakin melimpah mulailah saat itu penduduknya digelari oleh orang Bone dan Soppeng dengan nama Toraja Matappareng (Artinya : Orang Toraja yang bermukim di pesisir danau). Berangkat dari istilah Toraja Mattappareng itulah sehingga wilayah ini kemudian dinamakan AJATTAPPARENG.

Dalam lontaraq lain disebutkan bahwa ketenaran nama Sidenreng diketahui oleh La Maddaremmeng, kakak tertua. Oleh karena La Maddaremmeng sudah sekian lama merindukan adik-adiknya, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan tahta kerajaannya dan menyerahkan kepada anaknya yang bernama We Bolong Pattina. Akhirnya La Maddaremmeng bertemu dengan adik-adiknya dan mereka saling bertangis-tangisan serta tidak memiliki perasaan dendam kepada kakaknya.

Adik-adik La Maddaremmeng kemudian berkata: “Tinggallah disini Puang! Kamilah yang menjagamu, kau mencarikan kami keselamatan dan kami mencarikan yang dapat mengagungkanmu”. Berkatalah La Maddaremmeng: “Wahai adikku, kemauan kalianlah yang jadi. Ucapanmulah yang benar kepadaku!”. Adiknya berkata lagi: “Kamulah angin dan kami daun kayu, kemana engkau berhembus di sanalah kami rebah”.

Setelah kedelapan putra Raja Sangalla dari Tana Toraja yang bermukim di Wattang Tappareng ini meninggal dunia semua, mulailah era baru di daerah Sidenreng Rappang ini. Adalah Datu Patila yang menderita penyakit kulit mengasingkan diri ketempat yang jauh akhirnya tiba di Tana Toraja, disanalah kemudian Datu Patila mempersunting We Bolong Pattina (putri sulung La Maddaremmeng, kemenakan kedelapan Toraja Mattapparengnge, cucu Raja Sangalla). Tidak lama kemudian Datu Patila bersama permaisurinya meninggalkan Tana Toraja dan singgah bermukim di Rappang. Jadilah Datu Patila sebagai raja di Rappang dan We Bolong Pattina menjadi Addaowang (Raja) Sidenreng Pertama di Sidenreng



2 . Kerajaan Sidenreng menurut Panduan Maccera Arajang di Massepe

Dalam buku Panduan Maccera Arajang di Massepe Tahun 2006, dijelaskan bahwa Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang adalah kerajaan kembar yang diperintah oleh 2 orang Raja, kakak beradik, oleh karena tidak ada batas yang tegas yang memisahkan kedua wilayah kerajaan tersebut.

Lontara hanya menggambarkan bahwa penduduk Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang hanya dapat dibedakan pada waktu panen. Yang menyangkut padinya ke utara, itulah rakyat Kerajaan Rappang, sedangkan yang menyangkut padinya ke selatan itulah rakyat Kerajaan Sidenreng.

Selain itu, kedua rajanya juga membuat ikrar, yaitu Mate Elei Rappang, Mate Arawengngi Sidenreng. Mate Arawengngi Rappang, Mate Elei Sidenreng. Yang berarti Mati Pagi Rappang, mati sore Sidenreng. Mati sore Rappang, Mati Pagi Sidenreng.

Ada versi yang mengatakan bahwa Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang berasal dari Tomanurung, seperti halnya mitos raja-raja yang memerintah di berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan. Dalam versi lain, asal mula Sidenreng berasal dari sebuah kelompok dari Sangalla, Tana Toraja, yang meninggalkan daerahnya akibat kezaliman Rajanya, La Maddaremmeng, yang tidak lain adalah saudara dari mereka sendiri.

Rombongan tersebut dipimpin oleh 8 bersaudara yang terdiri dari; La Wewangriu, La Togelipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mappasessu dan La Mappatunru. Menilik dari nama-nama mereka tersebut yang tidak bercirikan nama Toraja, maka diduga mereka itu bukanlah penduduk asli Sangalla (Toraja), melainkan mungkin berasal dari Kerajaan Luwu. Hal ini diperkuat oleh sebuah sumber yang mengatakan bahwa Sangalla pada zaman dahulu pernah berada dibawah Payung Kerajaan Luwu.

Pemberian nama Sidenreng adalah untuk memperingati awal mula kedatangan mereka ditempat itu pada saat berbimbingan tangan mendatangi danau untuk mandi dan mengambil air. Tempat itu sekarang disebut Kampung Sidenreng. Namun daerah batu itu disebut sebagai Tanae Aja Tappareng oleh orang Wajo, Soppeng dan Bone.

Dimana Tanae Aja Tappareng berarti daerah yang berada di sebelah barat danau, yang sekarang dikenal dengan nama Danau Sidenreng. Kemudian di daerah Aja Tappareng ini terbentuk 5 kerajaan, yaitu
  • Sidenreng,
  • Rappang,
  • Sawitto,
  • Suppa dan
  • Alitta.
Kerajaan-kerajaan ini yang sesungguhnya disebut Lima Aja Tappareng. Sekarang Lima Aja Tappareng ini nampaknya diperluas wilayahnya yang meliputi bekas afdeling Pare-pare, yakni
  • Kabupaten Barru,
  • Kota Madya Pare-pare,
  • Kabupaten Pinrang,
  • Kabupaten Sidrap dan
  • Kabupaten Enrekang. 

--1. La Mallibureng, Addaowang I. Versi lain mengatakan bahwa Addaowang I Sidenreng adalah Manurungnge ri Lowa (Bululowa)

--2. La Pawawoi, Addaowang II, anak dari La Mallibureng. Versi lain mengatakan Songkopulawengnge, anak dari Manurungnge ri Lowa

--3. La Makkarakka, Addaowang III, anak dari La Pawawoi

Pada masa pemerintahan Addaowang III Sidenreng, La Makkarakka, maka dalam rangka mengatur kehidupan sosial masyarakatnya, kemudian bermufakatlah raja, pemangku adat dan masyarakat untuk menetapkan suatu kebijakan umum pemerintahan yang dalam lontaraq disebut Ade Puronrona Sidenreng, yang terdiri dari 5 (lima) pasal, yaitu :
  1. Ade Mappuronro, maksudnya adat yang tetap utuh (tidak berubah)
  2. Wari Rialitutui, yaitu kebiasaan-kebiasaan baik harus dipelihara
  3. Janci Rippeaseri, artinya janji harus dipegang teguh/tidak diingkari
  4. Rapang Ripasanre, maksudnya semacam yurisprudensi
  5. Agama Ritarenre Maberre, yakni agama harus diagungkan

Selain Ade Puronrona Sidenreng, Addaowang III Sidenreng juga menetapkan aturan-aturan yang harus ditaati, yang disebut Taro Bicarana Sidenreng yang merupakan ketentuan pelaksanaan dari pada Ade Puronrona Sidenreng, yaitu :
  1. Maluka Taro Ade, Temmaluka Taro Anang, yaitu keputusan adat bisa berubah, tetapi keputusan keluarga tidak dapat dirubah
  2. Maluka Taro Anang, Temmaluka Taro Maranang, yaitu keputusan keluarga dapat berubah tetapi kesepakatan keluarga besar atau masyarakat tidak dapat dirubah
Setelah ditetapkan kebijakan pokok dan aturan hukum tersebut, maka raja, pemangku adat dan masyarakat membuat perjanjian atau ikrar, yang dalam bahasa lontaraq disebut Assijanciangenna Arungnge Sibawa AdeE Neniya PabbanuaE. Adapun ikrar tersebut diucapkan pada saat penobatan Addaowang III Sidenreng La Makkarakka, yaitu sebagai berikut :

IKRAR RAJA
E….Sininna PabbanuaE ri Sidenreng, Issengngi Sininna Atoreng Pura RipattentuE Temmakkeinai, Temaakke Amai, Temmakke Anai. Mappenigi-nigi Temmappe Niga-niga. Adakku Nenniya Eloku Tongeng. Iyami Nade Natongeng Narekko Natumpai AdeE
Artinya : Hai semua rakyat Sidenreng ! ketahuilah bahwa semua aturan yang telah ditetapkan, tidak memandang ibu, bapak atau anak, tidak ada pengecualian. Ucapanku dan kehendakku yang benar hanya bisa salah kalau melanggar adat.

IKRAR PEMANGKU ADAT
Malilu Ipakainge, Rebba Sipatokkong, Mali Siparappa, Tasi Akkoling-kolingeng.. Mauni Massorong Pawo, Nakkasolang ri PabbanuaE Napagilingngi AdeE
Artinya : Saling mengingatkan dalam kekeliruan, saling mengangkat bila jatuh, saling memintasi bila hanyut, hubungan baik tetap dipelihara, meskipun kehendak dari atas (Raja), tetapi dapat merusak orang banyak, maka adat harus membetulkan.

IKRAR RAKYAT
Tenri Cacca MupojiE (Raja), Tenri Poji MucaccaE. Anging-ko ki-raukkaju, salokko naki batang. Lompo-lompo mutettongi. Lompo-lompo kilewo-ilewo. Bulu-bulu mulettongi bulu-bulu ki lewo-lewo. Makkedako mutenri bali, mettekko mutenri sumpala
Artinya : Takkan kami tolak yang engkau sukai, takkan kami sukai yang engkau tolak. Ibarat engkau arus, maka kami batang yang hanyut. Jika lembah tempatmu (Raja) berpijak, maka lembah jua yang kami pagari. Jika bukit tempatmu berpijak, maka bukit itu pula yang kami pagari. Perintahmu kami ikuti, sabdamu kami patuhi.

--4. We Tipulinge, Addaowang IV, putri dari La Makkarakka

--5. We Pawawoi, Addaowang V, putri We Tipulinge dengan Manurungnge Bacukiki, La Bangenge

--6. La Batara, Addaowang VI, putra dari We Pawawoi

--7. La Pasampoi, Addaowang VII, putra dari La Batara

--8. La Pateddungi, Addaowang VIII, putra dari La Pasampoi. Raja ini didampingi seorang cendekiawan/penasehat yang bernama La Pagala/Nene Mallomo, yang ahli dalam bidang hukum, pemerintahan dan ekonomi. Ia meninggal Tahun 1654 M di Allakuang. Salah satu mottonya yang menjadi motivasi kerja adalah Resopa Temmangingngi Namollomo Naletei Pammase Dewata

--9. La Patiroi, Addaowang IX, putra dari La Pateddungi.
Pada masa pemerintahan La Patiroi, Tahun 1634 H, sekelompok orang Wani dari Wajo yang meninggalkan daerahnya karena diminta oleh Arung Matoa Wajo untuk memeluk agama Islam, padahal mereka tidak sudi meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya. Merekapun minta izin tinggal disekitar Amparita.

Oleh La Patiroi menerima permohonan mereka, dengan syarat harus mematuhi Ade Puronrona Sidenreng. Kemudian masyarakat ini diberi nama Tolotang, yang berasal dari kata Tau Lautang, yang berarti orang yang bermukim di sebelah selatan. Sekarang orang menyebutnya Towani Tolotang.

--10. We Abeng, Tellu Latte I Sidenreng, anak dari La Patiroi. Inilah yang pertama membangun Istana Tellu Latte, yang mungkin dapat dipersamakan dengan sebuah otorita.

--11. La Makkarakka, Addatuang I Tahun 1634-1671 M, anak dari La Patiroi

--12. La So’ni Karaeng Massepe, Addatuang II, putra dari La Makkarakka.
Raja ini pernah mencatat sejarah berupa hubungan yang baik antara Sidenreng dengan Bone. Pada waktu Raja Bone La Tenri Tatta, Arung Palakka berperang dengan Gowa dibawah pimpinan I Mappaosong Daeng Mangewai Karaeng Be’si, anak dari I Mallombasi Sultan Hasanuddin Tahun 1675 M.

Pada waktu itu Bone nyaris kalah karena seorang panglima yang bernama Betta Senrimana Belo gugur dalam perang tersebut. Maka La Tenri Tatta minta bantuan kepada La So’ni dan berhasil mengalahkan Gowa. Atas jasa-jasanya tersebut, maka La Tenri Tatta menghadiahkan sebilah keris kepada La So’ni, yang kemudian La So’ni digelari Lamba Sidenreng. Keris ini menjadi lambang keperkasaan Sidenreng.

Dan sejak itu, Addatuang La So’ni, Lamba Sidenreng diserahterimakan pada setiap peralihan Addatuang sampai pada Addatuang terakhir, yaitu La Cibu. Jadi Lamba Sidenreng menjadi Arajang, simbol pemersatu masyarakat Sidenreng Rappang.

Kedekatan La So’ni dengan Raja Bone tersebut mengundang rasa iri anggota Hadat Bone, sehingga ia berusaha menyingkirkan La So’ni dari sisi La Tenri Tatta dengan cara menyebarkan fitnah bahwa La So’ni telah berselingkuh dengan salah seorang istri La Tenri Tatta yang bernama I Sarampa. Hal ini pun sampai ke telinga Raja Bone yang menyebabkan beliau amat murka. Iapun memerintahkan seorang algojonya dari Lise yang bernama Janggo Pance untuk membunuh La So’ni dengan cara memenggal lehernya.

Ketika Janggo Pance menyampaikan perintah itu kepada La So’ni, ia pun meminta agar sebelum dibunuh disampaikan dulu pesannya kepada Torisompae (La Tenri Tatta) sebagai berikut :

Pauwangngi Puang ri Boneta, engkanaga tolebba pole makkeda cappuni sawung kannae naribattajeng ewangngenge nariroppo wala-walae narilebbo manu katiangnge. Tennaengngerrani siya labela riwettunna tudang caradang-kadang riturungeng massamoe. Salo-salo tenna jongkari, padang-padang tennaliweng, La So’ni-mi Karaeng Massepe betta massola-solai resoi alena mangaru ritengngana padang cukkaE.

Maksudnya : sampaikan kepada Raja Bone yang dipertuan, apakah ada orang sirik yang menyampaikan bahwa perang sudah selesai, sehingga ayam laga yang andal hendak dibinasakan. Apakah tidak diingat lagi, ketika menghadapi musuh besar (Gowa), La So’ni-mi Karaeng Massepe sang pemberani tampil dalam peperangan mengamuk ditengah medan laga yang berkecamuk.

Akan tetapi Janggo Pance tidak menghiraukan lagi ucapan La So’ni dan ia tetap melaksanakan tugas memenggal leher La So’ni yang teguh memegang adat Polopang-Polopanni Narekko Elona Toriase’ta, yang berarti menerima tanpa syarat kalau itu kemauan/perintah dari Raja.

Kepala La So’ni kemudian diantar menghadap Torisompae (La Tenri Tatta). Akan tetapi kepala La So’ni tidak mau menghadap. Tiga kali diputar menghadap namun kembali membelakangi Mankaue. Janggo Pance dan anggota Hadat mulai ketakutan.

La Tenri Tatta pun bertanya : Apa gerangan yang terjadi ?. Janggo Pance pun berterus terang bahwa ada pesan almarhum yang tidak dihiraukan. Setelah mendengar pesan La So’ni, maka La Tenri Tatta menjadi amat murka karena mengetahui bahwa La So’ni adalah korban fitnah. Sebagai imbalannya maka Janggo Pance harus dibunuh pula tujuh turunan. La Tenri Tatta kemudian mengantar kepala La So’ni ke Massepe untuk dimakamkan.

--13. Todani, Addatuang III, sepupu sekali La So’ni

--14. La Tenri Tatta, Addatuang IV, anak Taranatie dengan We Mappanyiwi, cucu We Abeng, Tellu Latte I

--15. La Mallewai, Addatuang V, anak dari La Tenri Tippe

--16. Bau Rukiyah, Addatuang VI, putri dari La Mallewai

--17. Taranatie, Addatuang VII, anak dari Irukiya dengan Toaggamette

--18. Towappo, Addatuang VIII, saudara kandung Taranatie

--19. La Wawo, Addatuang IX, anak dari Towappo, Matinroe ri Soreang pada 1837 M.

--20. La Panguriseng, Addatuang X/Arung Rappang XIX, anak dari Muhammad Arsyad Petta Cambangnge

--21. Sumangerukka, Addatuang XI, 1889-1904 M, anak dari La Panguriseng dengan I Bangki, Arung Rappang XVIII

--22. La Sadapotto, Addatuang XII, 1904-1906, saudara kandung Sumangerukka

--23. La Cibu, Addatuang XIII dan terakhir, anak dari La Sadapotto


Kerajaan Rappang
Adapun Rappang berasal dari kata Rappeng, dalam bahasa Bugis, Rappeng berarti dahan/ranting yang hanyut. Dimana pada zaman dahulu, sungai yang mengalir di Rappang mempunyai lebar yang besar dan pada bagian hulunya banyak terdapat hutan belukar yang lebat. Dan apabila musim hujan telah tiba, maka dahan dari pohon-pohon itu hanyut dan membentuk daratan, menjadi tempat pemukiman dan kemudian diberi nama dengan Rappang.

SUSUNAN RAJA-RAJA RAPPANG

  1. We Tipu Uleng, Arung Rappeng I, saudara kandung La Mallibureng (Addaowang Sidenreng II)
  2. We Pawowoi, Arung Rappeng II, putri We Tipulinge (Addaowang IV Sidenreng)
  3. La Makkarawi, Arung Rappeng III, anak La Pute Bulu Datu Suppa
  4. Songkokpulawengnge, Arung Rappeng IV, anak Manurungnge ri Lowa (Addaowang II Sidenreng)
  5. We Cinang, Arung Rappeng V
  6. La Pasampoi, Arung Rappeng VI, putra La Batara (Addaowang VI Sidenreng)
  7. Pancaitana, Arung Rappeng VII, anak dari Lampe Welua Datu Suppa VI
  8. La Pakolongi, Arung Rappeng VIII, anak dari Pancaitana. Raja inilah yang pertama memeluk Islam, Tahun 1607/1608 M
  9. We Dangkau, Arung Rappeng IX, putra dari La Pakolongi
  10. Tonee, Arung Rappeng X
  11. We Tasi, Arung Rappeng XI, putra dari Tonee
  12. Todani, Arung Rappeng XII, anak dari we Tasi dengan La Bila Datu Citta
  13. La Tenri Tatta, Arung Rappeng XIII, menantu Todani
  14. La Toware, Arung Rappeng XIV, anak dari La Tenri Tatta
  15. We Tenri Paonang, Arung Rappeng XV, anak dari La Cella Datu Bongngo Arung Rappeng dengan I Sompa Arung Rappeng I
  16. La Pabittei, Arung Rappeng XVI, anak dari I Tenri Paonang dengan La Kasi Ponggawae ri Bone
  17. I Madditana, Arung Rappeng XVII, putri dari La Pabittei
  18. I Bangki, Arung Rappeng XVIII, putri dari I Madditana dengan La Makkulawu Arung Gilireng
  19. La Panguriseng, Arung Rappeng XIX, anak dari Muhammad Arsyad Petta Cambangnge, Arung Malolo Sidenreng
  20. La Sadapotto, Arung Rappeng XX merangkap Addatuang Sidenreng XII. Raja inilah yang menandatangani Korteverklaring (pernyataan pendek) dengan Belanda setelah mengalami kekalahan perang pada Tahun 1906 M
  21. I Tenri Fatimah, Arung Rappeng XXI, merangkap Addatuang Sawitto, sebagai Arung Rappeng terakhir, anak dari La Sadapotto

Dalam prosesi pengangkatan dan pemberhentian Arung Rappeng, terdapat sebuah lembaga adat yang bernama Pampawa Ade (pemangku adat) yang berfungsi memilih dan mengangkat Arung Rappeng. Dimana Pampawa Ade (pemangku adat) menggunakan sistem perwakilan calon dan diutamakan berasal dari keturunan Arung Rappeng. Namun jika tidak ada atau tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan adat, yaitu :
  1. Melempui Namatette, yaitu jujur dan tidak plin-plan
  2. Makurangngi Cai-na, yaitu tidak pemarah atau lalim
  3. Magettengngi ri ada-adanna, yaitu tegas dalam mengambil keputusan
  4. Makurang Pauwi ri Ada-ada Temmaggunae, yaitu tidak senang mengumbar kata-kata yang kurang bermanfaat atau hati-hati dalam ucapan
  5. Waranipi Linuri Ada-adanna, yaitu berani dan konsekuen dalam tindakan dan ucapan
Maka Pampawa Ade (pemangku adat) boleh mencari calon lain diluar Rappang atau Sidenreng. Dengan demikian Arung Rappeng tidak harus berasal dari keturunannya. Dalam lontaraq ditegaskan bahwa Imana Mua Tenri Appamanareng, yang maksudnya jabatan raja bisa diwarisi, tetapi tidak diwariskan. Adapun sistem pemerintahan Kerajaan Rappang adalah sebagai berikut :
  1. Arung Rappeng, sebagai pimpinan tertinggi yang melaksanakan pemerintahan kerajaan berdasarkan mandat dari rakyat. Dalam lontaraq ditulis Assamaiyako Muabbulo Sipeppa Mupaenrekengnga Inanre Manasu, yang artinya : Bermusyawarahlah dan bermufakatlah, kemudian apa yang engkau (pemangku adat & rakyat) putuskan itulah yang saya (raja) jalankan
  2. Sulewatang, yang secara harfiah berarti Pengganti Diri, tugasnya melaksanakan pemerintahan sehari-hari dan bertanggung jawab kepada Arung Rappeng
  3. Pabbicara, sebagai lembaga yang membantu raja dalam mengambil keputusan, terutama jika timbul masalah-masalah, baik menyangkut pemerintahan maupun kemasyarakatan. Pabbicara juga menjadi koordinator Pampawa Ade (pemangku adat)
  4. Kerajaan-kerajaan lokal, disamping sebagai kepala wilayah, juga mewakili daerahnya sebagai Pampawa Ade (pemangku adat). Ada 4 (empat) kerajaan lokal atau Pampawa Ade, yaitu :
    • a. Arung Lelebata
    • b. Arung Benteng
    • c. Arung Passeno
    • d. Arung Kulo
Kerajaan-kerajaan ini mempunyai otonomi, dalam lontaraq disebut Napoade-adena, Tenri Cellengi Bicaranna, yang berarti adatnya yang berlaku dan tidak diintervensi keputusannya. Setelah masuknya Pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1905 di Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, maka pengangkatan pejabat-pejabat penting harus direstui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dengan kondisi ini, maka berangsur pula kekuasaan kerajaan dan diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda.
Sumber: rappang.com

Berita

Loading...

Arah Kiblat