WELCOME TO THE BLOG SERBA SERBI.

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Agustus 2013

Iman

arifuddinali.blogspot.com - Iman (bahasa Arab:الإيمان) secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman (إيمان) diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yukminu' (يؤمن) yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'.

Pandangan Islam

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Iman dan Hadits Jibril 

Perkataan iman yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman." Iman itu ditujukan kepada Allah , kitab kitab dan Rasul. Iman itu ada dua Iman Hak dan Iman Batil.

Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.

Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."

Pandangan Kristen

Etimologi

Iman (bahasa Yunani:  pisti) adalah rasa percaya kepada Tuhan. Iman sering dimaknai "percaya" (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai kepercayaan (kata benda). Alkitab Terjemahan Baru (TB) mencatat kata "iman" sebanyak 155 kali. Menurut Paulus, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1).

Menurut beberapa versi terjemahan Alkitab, kata "iman" yang dalam bahasa Yunani tertulis sebagai πίστιν (baca "pistin") Namun dalam beberapa versi terjemahan Alkitab, kata "iman" dan kata "percaya" diterjemahkan juga dari kata Yunani "πίστις" (baca "pistis").

Terjemahan Lukas 8:25

25 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Di manakah kepercayaanmu?" Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?". (Lukas 8:25 - versi LAI Terjemahan Baru)

25 Lalu Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, "Mengapa kalian tidak percaya kepada-Ku?" Mereka menjadi heran dan takut. Dan berkatalah mereka satu sama lain, "Siapa sebenarnya orang ini sampai memberi perintah kepada angin dan ombak, dan Ia pun ditaati!" (Lukas 8:25 - versi Alkitab Kabar Baik BIS)

25 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Di mana imanmu?" Mereka ketakutan dan heran. Mereka berkata satu sama lain, "Orang yang bagaimanakah Itu sehingga dapat memerintah angin ribut dan air, dan taat kepada-Nya?" (Lukas 8:25 - versi Perjanjian Baru WBTC)

25 Maka kata-Nya kepada mereka itu, "Di manakah imanmu?" Maka takutlah mereka itu serta heran sambil berkata seorang kepada seorang, "Siapakah Ia ini, yang memerintah angin dan air, sehingga menurut Dia?" (Lukas 8:25 - versi Alkitab Terjemahan Lama).

Atas dasar terjemahan-terjemahan tersebut, maka "Iman" menurut kepercayaan Kristen dapat dimaknai sebagai "percaya".

Dari mana Iman timbul

  • Iman timbul karena seseorang mendengar firman Kristus :
    • Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
  • Iman timbul dari Berita Injil:
    • Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, (Filipi 1:27)
Sebuah contoh menarik soal bagaimana iman dapat tumbuh, dapat dilihat pada kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Markus 5:25-29)

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Kalimat "Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus," menjelaskan darimana iman perempuan itu mulai tumbuh. Kabar-kabar yang dia dengar dari banyak orang bahwa Yesus menyembuhkan semua orang dan semua penyakit membuat perempuan malang itu memiliki harapan baru dan keyakinan baru bahwa penyakitnya pasti dapat sembuh asalkan dia ketemu Yesus Kristus, bahkan dia berkata dalam hati "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." (ayat 28).


Hadits Jibril

Hadits Jibril adalah Hadits agung yang menjadi pondasi agama Islam, memuat definisi tentang Islam, Iman dan Ihsan. Hadits ini diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab, dia berkata:



Teksnya

“Tatkala kami tengah duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Hingga dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam lalu menyandarkan lututnya pada lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya pada paha beliau, kemudian dia bertanya, “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menjawab, “Kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.” Dia berkata, “Kamu benar,” Umar berkata, “Maka kami kaget terhadapnya, karena dia yang bertanya tapi dia juga yang membenarkannya.” Dia bertanya lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk,” dia berkata, “Kamu benar.” Dia bertanya, “Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan?” Beliau menjawab, “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya maka yakinlah sesungguhnya Dia melihatmu.” Dia bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku kapan hari (kiamat) itu?” Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya itu (saya) lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (kamu).” Dia bertanya, “Kalau begitu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?” Beliau menjawab, “Apabila seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.” Kemudian setelah itu dia beranjak pergi, dan aku tidak bertanya kepada Nabi tentang itu selama beberapa saat. Tidak berselang lama kemudian beliau bersabda, “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Itu tadi adalah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.”
(HR. Muslim no. 8)

Konteks keimanan

Iman, Islam, dan Ihsan diakui sebagai perbendaharaan kunci dalam pola keberagaman Islam. Pada awalnya, konsep keimanan tersebut didasarkan kepada sebuah hadits terkenal di atas yang dikenal sebagai Hadits Jibril. Hadits ini memberi ide kepada kaum Sunni perihal adanya 6 rukun iman, lima rukun Islam dan satu ajaran tentang penghayatan terhadap Allah Azza Wa Jalla. Akan tetapi, dalam dimensi terdalam iman tidak cukup hanya dengan percaya atau mempercayai sesuatu yang belaka, tapi ia juga perlu perwujudan/eksternalisasi dalam pola perilakunya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW menyabdakan bahwa iman memiliki lebih dari tujuhpuluh tingkat sedari ucapan tahlil sampai menyingkirkan batu dari jalanan


Pranala luar


---wiki---

Jumat, 12 Juli 2013

Matahari Tepat di Atas Mekkah, Cek Arah Kiblat 14-16 Juli!

arifuddinali.blogspot.com - Sejenak mari kita mengalihkan perhatian dari seluk-beluk awal Ramadhan dan hari raya yang kerap berbeda, ke salah satu peristiwa menarik lainnya yang bakal terjadi dalam bulan suci Ramadhan 1434 H, khususnya sepanjang 14-16 Juli 2013. Inilah momen penting di mana Umat Islam berkesempatan untuk mengkalibrasi kembali arah masjid/musalanya agar berimpit dengan arah kiblat.

Saat ini juga momen untuk menyegarkan kembali ingatan kita bahwa khasanah astronomi dalam Islam tak melulu berkutat pada kalender maupun penentuan awal bulan kalender Hijriah semata, tetapi juga meliputi sejumlah aspek lain termasuk arah kiblat. Pun inilah momen yang mengingatkan kita kembali betapa hisab dan rukyat merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan sehingga menceraikannya akan berakibat serius.

Pada Minggu 14 Juli hingga Selasa 16 Juli 2013, tepatnya pada pukul 12:27 waktu Mekkah yang bertepatan dengan pukul 16:27 WIB di Indonesia, bakal terjadi peristiwa istimewa di mana Matahari akan berkedudukan di titik zenith dalam bola langit horizon kota suci Mekkah.

Sederhananya, saat itu Matahari persis berada di atas kiblat sehingga segala jenis benda yang tersinarinya pada saat itu akan tepat sejajar dengan arah kiblat pada akurasi yang cukup tinggi, sepanjang benda tersebut tepat tegak lurus paras air rata-rata.

Fenomena ini menarik untuk dicermati, mengingat dalam realitasnya jumlah masjid/musala yang arahnya belum berimpit dengan arah kiblat bagi Indonesia masih cukup besar. Yakni merentang antara 60 hingga 80 %, merujuk pada survei cepat yang pernah dilakukan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) DIY dan BHR Daerah Kebumen (Jawa Tengah) secara terpisah di daerahnya masing-masing.

Arah kiblat Indonesia

Kiblat merupakan hal esensial bagi Umat Islam, mengingat shalat hanya bisa dinyatakan sah bila telah menghadap kiblat. Dan segenap ulama dan cendekiawan Muslim bersepakat bahwa kiblat berporos pada Ka’bah, bangunan suci peninggalan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS.

Arah hadap ke kiblat dikenal sebagai arah kiblat dan menjadi elemen terpenting bagi masjid/musala di mana pun.

Dengan Ka’bah sebagai bangunan kecil di tengah keluasan muka Bumi, pengukuran arah kiblat dari titik-titik yang berjarak sangat jauh dari kota suci Makkah, akan menemui kesulitan besar yang melampaui batas toleransi alat ukur. Sebagai kompensasinya, kiblat perlu didefinisikan secara tersendiri dibanding Ka’bah. Sehingga, bila pengukuran dilakukan, kaidah tidak memberatkan dalam beragama tetap terpenuhi. Namun kiblat masih tetap berhubungan erat dengan Ka’bah.

Dalam konteks ini, saya, Muh. Ma’rufin Sudibyo (2011) melontarkan gagasan untuk mendefinisikan ulang kiblat sebagai area lingkaran beradius 45 km berpusat di Ka’bah yang melingkupi segenap batas-batas tanah suci Mekkah. Usulan ini didasarkan fakta bahwa arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’, dua masjid bersejarah yang dibangun sendiri oleh Nabi SAW, ternyata menyudut terhadap arah kiblat masing-masing sebesar 3 dan 7,5 derajat.

Dengan status Nabi SAW yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) dan perbuatan/kata-katanya menjadi salah satu sumber hukum, maka realitas arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ menjadi acuan mengonstruksi definisi baru tentang kiblat.

Arah kiblat tak bisa lepas dari jarak terdekat antara sebuah titik di muka Bumi dengan kiblat. Secara umum, jarak terdekat antara dua titik di permukaannya adalah melalui busur lingkaran besar (orthodrom), bukan melewati sisi miring yang mematuhi teorema Phytagoras dalam bidang datar (loksodrom). Hal ini karena bentuk Bumi yang bulat pepat (geoida), sehingga permukaannya melengkung.

Penggunaan konsep loksodrom bagi muka Bumi akan membuat jarak yang terhitung jauh lebih besar dibanding senyatanya. Misalnya, dalam kasus jarak antara Sabang (Indonesia) dan Mekkah (Saudi Arabia), yang sejatinya hanya 6.214 km. Namun, jika konsep loksodrom dipaksakan maka akan diperoleh nilai 8.063 km atau 1.849 km lebih besar.

Dengan mengikuti jarak terdekat itu, maka arah kiblat merupakan besaran azimuth dengan nilai tertentu dalam bola langit horizon.

Arah kiblat di Indonesia bervariasi di antara nilai azimuth 290,15 hingga 295,55 dengan toleransi yang diperbolehkan bagi setiap titik hanyalah sebesar 0,5 derajat. Untuk mempermudah menerjemahkan angka-angka ini, secara sederhana konsep azimuth dapat kita bayangkan seperti arah-arah mata angin, hanya saja tiap arah dipatok pada nilai tertentu.

Arah utara memiliki azimuth 0, sementara timur azimuth 90, selatan dengan azimuth 180 dan barat mempunyai azimuth 270. Nilai terkecil arah kiblat Indonesia terjadi di Kabupaten Merauke (Papua) sementara yang terbesar adalah Kabupaten Manna (Bengkulu).

Rukyat arah Kiblat

Layaknya yang terjadi dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya, salah satu masalah dalam khasanah arah kiblat di Indonesia adalah dipaksa pisahnya hisab terhadap rukyat arah kiblat.

Perbedaan dalam sistem hisab arah kiblat memang nyaris tak dijumpai, tak seperti penentuan awal bulan kalender Hijriyyah yang ragamnya sampai 26 macam. Tetapi, akibat kurang dipahaminya tata cara rukyat arah kibla,t membuat masjid/musala di Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 800.000 buah (hanya yang terdaftar di Kementerian Agama) didominasi oleh masjid/musala yang arahnya menyudut (tak berimpit) terhadap arah kiblat Indonesia.

Inilah yang memicu heboh arah kiblat pada 2010 silam, saat arah kiblat dianggap bergeser karena beragam sebab.Padahal, yang terjadi adalah masjid/musala itu sejak awal pembangunannya memang tidak berimpit dengan arah kiblat.

Masjid/musala di Indonesia umumnya berdiri di atas lahan yang terbatas. Sehingga, arsitektur bangunannya disesuaikan dengan luasan lahan dan hanya barisan shalat (shaff)-nya yang disesuaikan terhadap arah kiblat. Rukyat arah kiblat yang terpopuler adalah yang berdasarkan kompas magnetik.

Namun, harus digarisbawahi bahwa penggunaan kompas magnetik mengandung risiko tersendiri, mengingat kinerjanya yang sangat dipengaruhi oleh garis-garis medan magnet Bumi setempat. Kontur lahan tak rata, konsentrasi logam ferromagnetik dalam tanah/bangunan, tidak berimpitnya kutub utara Bumi dengan kutub utara magnetik Bumi, kedekatan dengan jaringan listrik bertegangan sangat tinggi hingga aktivitas cuaca antariksa dalam wujud badai Matahari merupakan variabel-variabel yang dapat mengganggu jarum kompas hingga demikian signifikan.

Untuk meminimalisir gangguan-gangguan tersebut, rukyat arah kiblat umumnya memanfaatkan benda-benda langit tertentu sebagai patokan azimuth. Salah satunya adalah Matahari. Bila menggunakan Matahari, terdapat momen khusus pada akhir Mei dan pertengahan Juli di setiap tahun Masehi (Tarikh Umum). Sebab, pada saat itu, Matahari berkedudukan persis di atas kiblat.

Cukup dengan menggunakan pendulum berbobot cukup yang tergantung pada sebuah stasioner dan jam yang telah dikalibrasikan terhadap waktu standar, rukyat arah kiblat dapat dilaksanakan.

Pada 14 hingga 16 Juli 2013, jika jam tepat menunjukkan pukul 16:27 WIB atau 17:27 WITA, bayang-bayang pendulum tepat berimpit dengan arah kiblat setempat. Inilah rukyat arah kiblat yang sederhana dan praktis, namun terjamin akurasinya.

* Muh Ma'rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen (Muh. Ma'rufin Sudibyo*)

Sumber: ramadhan.kompas.com - Jum'at, 12 Juli 2013

Kamis, 06 Juni 2013

Lebih dari 100 Ribu Massa HTI Penuhi GBK

arifuddinali.blogspot.com


Metrotvnews.com, Jakarta: Lebih dari 100 ribu anggota Hizbut Tahrir Indonesia memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Ahad (2/6). Mereka datang untuk menghadiri puncak perayaan Muktamar Khilafah 2013.

Massa HTI tersebut sudah berkumpul sejak pagi hari. Mereka datang tidak hanya dari Jabodetabek, tapi juga dari daerah provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah dan Sumatra. Bahkan hadir pula sejumlah tokoh pejuang khilafah dari luar negeri, seperti Yaman, Lebanon, dan Inggris.

Muktamar HTI ini mengambil tema perubahan besar dunia menuju khalifah. Selain di Jakarta, muktamar khilafah juga sebelumnya digelar di 30 kota di seluruh Indonesia selama Mei lalu.

HTI menyerukan kepada Pemerintah Indonesia agar tetap menjamin ekspresi dan apresiasi umat Islam yang dijamin oleh undang-undang, serta mengajak aparat keamanan untuk tetap menjaga keamanan.
Sumber:  Metrotvnews.com - Senin, 03 Juni 2013

Minggu, 19 Agustus 2012

Seputar Sholat Ied 1433 H

 

Presiden Shalat Ied di Istiqlal

Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Boediono, mengikuti shalat Idul Fitri 1433 Hijriah, di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (19/8/2011). Umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa pada Ramadhan.  
 

Editorial: Presiden Sholat Idul Fitri


Presiden Shalat Ied di Istiqlal
19 August 2012 | 10:11
 
 
Presiden Shalat Ied di Istiqlal
19 August 2012 | 10:11
 
 
Presiden Shalat Ied di Istiqlal
19 August 2012 | 10:10
 
 
Presiden Shalat Ied di Istiqlal
19 August 2012 | 10:10
 
 

5000 masyarakat Indonesia hadiri halal bi halal dan silaturahmi di KBRI Riyadh


 Tepat pukul 05.45 waktu Arab Saudi, saat rona merah fajar tengah menyingsing, 250 orang masyarakat Indonesia termasuk seluruh jajaran staff KBRI Riyadh berbondong-bondong menuju lapangan terbuka KBRI Riyadh untuk menjalankan ibadah Sholat Iedul Fitri bersama. Bertindak sebagai imam Sholat Ied adalah Ustadz Muhammad Gufran dan Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur selaku Khatib. selanjutnya .......
 
 

Open House Gubernur DKI Jakarta 

Open House Gubernur DKI Jakarta
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo bersama istri menyambut tamu yang hadir dalam open house di kediamannya di kawasan Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (19/8/2012). Open House untuk menyambut Idul Fitri 1433 H tersebut juga dihadiri oleh 5 pemuka agama di Jakarta (lihat)
 
 
 BALIKPAPAN,
20120819ami009_Sholat_Id_di_Bandara_Sepinggan_TribunKaltim1.jpg
Warga melaksanakan Shalat Ied  di pelataran Bandara Sepinggan dengan khusyuk meskipun hujan turun, Minggu (19/8/2012). Shalat Ied diwarnai dengan hujan deras yang turun sejak subuh. - Tribun Kaltim


TANJUNG REDEP
1908.BRU_GEAFRY_NECOLSEN_.jpeg
Sekitar 11.000 umat Muslim di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau melaksanakan shalat Ied di Masjid Agung  Baitul Hikmah. Tanjung Redep
 
 
NUNUKAN
Open_House_Nunukan_NIKO.jpg
 
Bupati Nunukan Basri bersama keluarga, menerima tamu di kediaman pribadi Jalan Sungai Fatimah Nunukan. - Nunukan


TENGGARONG
kambing_guling_di_Kukar_TAUFIK.jpg
Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari menyiapkan beragam menu dalam open house di Pendopo Odah Etam,-  Kutai kartanegara
 
 

NU dan Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 19 Agustus 2012 

Setelah berbeda dalam penentuan awal puasa Ramadan, warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) akan merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersamaan. Dalam kalender kedua ormas Islam tersebut, 1 Syawal 1433 H ditetapkan pada tanggal yang sama, yakni 19 Agustus 2012.  
 

Khutbah Idul Fitri 1433 H: 

Mencari Pemimpin untuk Perubahan dan Pembaruan: Revitalisasi Lembaga Kepemimpinan


اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ 
اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ
اَللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا، وَالْحَمْدُلله ِكَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَاَصِيْلاَ
لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهْ، وَنَصَرَعَبْدَهْ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهْ
لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهْ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْن
لآاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَالله ُاَكْبَرْ. اَلله ُاَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْد
نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ حَقَّ شُكْرَهْ
اَشْهَدُاَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهْ
فَيَاعِبَادَالله، اُصِيْكُمْ وَاِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهْ
بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهْ


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Saudara-saudara kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.


Di hari yang fitri ini, tak ada yang lebih indah untuk kita lafadzkan selain untaian puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Maha Bijaksana yang menganugerahi kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Dengan ketiga nikmat itulah, kita memiliki kekuatan untuk menunaikan ibadah puasa sebulan penuh. Ibadah yang berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk mengasah spritualitas kita menjadi pribadi bertakwa. Pribadi yang menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan, sekaligus menginsyafi tujuan penciptaannya di muka bumi sebagai khalifah.

إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ.
“Sungguh, Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS Shaad [38]: 26)

Indikasi Keberhasilan Puasa
Kesadaran ini merupakan tanda keberhasilan kita menjalankan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. Puasa, tarawih, tadarus, zakat, dan sedekah hakikatnya adalah media metamorfosa yang disediakan Allah untuk kita. Jika semuanya dijalankan dengan baik dan penuh penghayatan, maka pada hari ini kita akan menjadi sosok baru yang berbeda dari sebelumnya. Kita akan menjadi muslim sejati yang bersih dari noda dosa sebagaimana dilukiskan Rasulullah melalui sabdanya:

فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
“Orang yang berpuasa dan mendirikan shalat malam dengan dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan terbebas dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Namun sebaliknya, jika ibadah puasa dilaksanakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, maka kita takkan mendapatkan keistimewaan Ramadhan. Ibadah Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang tak membawa perubahan apa-apa. Ibadah puasa takkan memperbarui diri dan kepribadian kita menjadi lebih baik. Janganlah sampai kita termasuk orang-orang yang rugi seperti disabdakan Rasulullah Saw. dalam hadistnya:

رُبَّ صَائِمٌ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعْ وَالْعَطَشْ.
”Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR Nasai dan Ibnu Majah)

Kesuksesan menjalankan ibadah puasa bukan terletak pada kekuatan menjauhi faktor yang membatalkannya sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Tapi harus tercermin dari sikap dan perilaku kita sebelas bulan berikutnya. Sejak hari ini sampai Ramadhan yang akan datang. Oleh sebab itu, mari jadikan hari kemenangan ini sebagai momentum perubahan. Patrikan niat untuk mengisi hari-hari di masa depan, dengan aktivitas multiguna yang bernilai ibadah. Kuatkan tekad untuk menjadi pembaharu, lalu hadirkan perubahan positif bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat. Amien ya rabbal ‘alamien.

Shalawat dan Salam
Selanjutnya mari kita haturkan shalawat beriring salam kepada Nabi Muhammad Saw. Nabi terakhir yang istikamah menyadarkan manusia bahwa kedudukan mereka setara di depan Tuhan. Nabi, pemimpin, sekaligus kepala negara yang disayangi kawan dan disegani lawan. Teladan ideal dalam berdemokrasi dengan menyelesaikan semua masalah duniawi melalui musyawarah. Dialah kekasih Tuhan yang sukses mengubah bangsa Arab yang jahiliah menjadi madaniah, yang barbar menjadi penyabar, dan yang sektarian menjadi egalitarian.

Prestasi Rasulullah ini telah menginspirasi jutaan tokoh lain di dunia dalam melakukan perubahan dan menggerakkan pembaruan. Jadi, adalah sebuah keharusan bagi kita sebagai umatnya, untuk menjadikan beliau sebagai rujukan utama dalam seluruh aspek kehidupan. Sifat, sikap, tindakan, dan ucapan kita sebisa mungkin selaras dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw. Karena hanya dengan begitu kita akan diakui sebagai umatnya, sehingga berhak mendapatkan syafaatnya pada hari Kiamat.

Realitas Pemimpin Masa Kini
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Saudara-saudara kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.
Sambil terus mengumandangkan kalimah-kalimah thayyibah rasa syukur kita kepada Tuhan, khatib al-faqir ingin mengajak kita semua untuk merenung sejenak. Merefleksikan situasi bangsa dan kondisi negara setelah 67 tahun merdeka. Refleksi ini menjadi penting mengingat Idul Fitri tahun ini, kita rayakan selang dua hari setelah hari proklamasi kemerdekaan RI. Terlebih lagi kita merayakannya di pelataran Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman. Salah seorang putra terbaik bangsa yang mengabdikan jiwa dan raganya untuk kepentingan negara. Pemimpin sejati yang tak pernah lelah berjuang, meskipun paru-parunya tinggal sebelah. Pribadi luhur yang benar-benar memahami amanah kepemimpinan sebagaimana diinginkan Allah melalui firman-Nya ;

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa’ [4]: 9)
Figur seperti beliaulah yang dibutuhkan bangsa ini untuk mengawal reformasi agar tidak salah arah. Aura ketulusan yang berpadu dengan semangat juang dalam dirinya, terbukti ampuh menularkan energi positif kepada seluruh pejuang kemerdekaan. Hasilnya, ia mampu menyatukan segenap komponen bangsa, baik sipil maupun militer, untuk menggapai satu cita-cita mulia. Mewujudkan Indonesia merdeka agar rakyatnya sejahtera.

Akhlak dan Perilaku Politik Pemimpin
Ketulusan, semangat juang, serta militansi panglima besar Soedirman bersama tokoh pendiri bangsa lainnya inilah yang sulit ditemui dalam diri para pemimpin bangsa sekarang. Jadi wajar jika bangsa kita di usia kemerdekaannya yang sudah mencapai 67 tahun ini, masih belum mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sampai saat ini, masih banyak rakyat yang hidup bagaikan masih di zaman penjajahan. Terlilit kemiskinan, terbelit kebodohan, dan terjebak keterbelakangan. Kalah jauh dengan negara-negara tetangga yang baru belakangan mengecap nikmat kemerdekaan.

Ironi ini tidak perlu terjadi kalau para pemimpin negeri ini meniti jalan yang lurus. Memandang kepemimpinan sebagai media ibadah sekaligus amanah suci yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. اَْلاِ مَامُ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“Kalian adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)

Nilai-nilai luhur inilah yang mulai tercerabut dari dalam jiwa para pemimpin negeri, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara tidak pernah harmonis dan serasi. Kekacauan politik, ketidakadilan hukum, dan ketimpangan ekonomi, adalah akibat dari perilaku politik para pemimpin pada umumnya. Pemimpin yang lahir dari iklim politik yang tidak sehat atau tidak kondusif.

Dampak Kepemimpinan Transaksional
Adalah fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa banyak pemimpin yang memperoleh jabatan strategis dari hasil transaksi politik, bukan dari visi yang dimiliki, talenta yang mumpuni, atau jasa nyata yang dirasakan rakyat biasa. Akibatnya, kepemimpinan berjalan statis tanpa kreasi inovatif bagi perubahan dan pembaruan masyarakat. Kepemimpinan lebih terlihat sebagai asesoris kekuasaan yang harus ada dalam suatu negara, dibanding wadah menyalurkan ide positif dan gagasan konstruktif.

Banyak pemimpin yang mandul karena memang miskin visi, sehingga tidak bisa berbuat banyak untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Pemimpin seperti ini, cenderung sibuk membangun citra positif agar terus mendapat kepercayaan masyarakat, ketimbang meningkatkan etos kerja membangun bangsa. Menyimpang jauh dari teladan Rasulullah Saw. kala memimpin umat Islam generasi pertama.

Yang lebih miris lagi, tidak sedikit pemimpin yang terbelenggu dengan transaksi politiknya sendiri. Utang budi politik semacam inilah yang menjadi pangkal merebaknya fenomena korupsi. Perhatian pemimpin tak lagi fokus pada rakyat, tapi para kroni politiknya. Yang diperjuangkan bukan lagi kepentingan masyarakat, tapi kepentingan diri dan kelompoknya. Pada titik inilah, akhlak, etika dan moralitas politik hanya menjadi slogan yang sering diucapkan, tanpa dipraktikkan. Padahal Allah Swt. berfirman dalam surah Shaff ayat 2-3:

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَالاَ تَفْعَلُوْنَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَالاَ تَفْعَلُوْنَ.
“Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Shaff [61]: 2-3)

Revitalisasi Lembaga Kepemimpinan
Allahu Akbar, Allahhu Akabar, Allahu Akabar walillahilhamd
Saudara-saudara kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.
Agar kondisi bangsa kita tidak semakin terpuruk akibat tingkah laku pemimpin yang tidak memiliki integritas, mari kita tandai peringatan proklamasi kemerdekaan dan hari raya Idul Fitri ini sebagai momentum perubahan. Perubahan pada pola pikir yang tercermin dalam pola hidup. Memang langkah ini tidaklah mudah dilakukan. Perlu perjuangan kita semua secara istikamah dan penuh kesungguhan. Terlebih karena kondisi kepemimpinan di negeri ini banyak dilahirkan dari partai politik yang belum sepenuhnya berfungsi sebagai mesin kepemimpinan. Partai politik kita sebagian besar dikendalikan oleh orang-orang yang lebih mengedepankan uang dan modal daripada akhlak, integritas dan moral. Akibatnya banyak calon pemimpin ditentukan oleh kekuatan modal bukan kualitas moral. Pemimpin yang dimunculkan bukan karena kualitas visi dan misinya, tapi karena kekuatan modal yang dimiliki. Kiranya kita masih ingat mundurnya alm. Nurcholish Madjid yang terpaksa mundur dari bursa pencalonan Presiden 2004 silam karena kekurangan dana dan modal yang biasa dikiaskan dengan istilah ’kekurangan gizi’ padahal sejatinya dia memiliki visi dan kompetensi yang cukup memadai.

Partai Politik dan Ironi Demokrasi
Sungguh ironi apabila demokrasi yang kita kembangkan selama ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang justru melawan kodrat demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Rakyat hanya menjadi tumbal demokrasi untuk melanggengkan kekuasaan pemimpin yang tak amanah dan korup. Sungguh hal ini merupakan penyimpangan demokrasi yang harus kita luruskan bersama, agar rakyat tidak hanya menjadi sapi perah calon pemimpin yang ingin berkuasa atau mempertahankan kekuasaannya.

Proses lahirnya kepemimpinan di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan lembaga-lembaga yang menyeleksi maupun mendukung calon pemimpin. Salah satu lembaga penting dalam melahirkan pemimpin adalah partai politik. Selain sebagai pilar demokrasi, partai politik juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mendistribusikan calon pemimpin baik pada tingkat lokal maupun nasional. Baik di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif serta berbagai institusi negara lainnya. Karena itu, partai politik mempunyai tanggung jawab besar untuk melahirkan kepemimpinan yang berkualitas dan memiliki integritas. Partai politik harus bertanggung jawab atas lahirnya pemimpin-pemimpin yang korup dan menyimpang.

Hilangnya Ideologi Partai Politik
Tugas ini memang tidak mudah dilaksanakan, mengingat saat ini banyak partai politik yang justru terjebak dalam lingkaran setan. Kehilangan ideologi dan orientasi. Bahkan menjadi tempat berlindung yang aman dan nyaman bagi para koruptor.

Fenomena ini tidak boleh terus berlangsung agar kepemimpinan di Republik ini tidak semakin jauh melenceng dari cita-cita demokrasi dan konstitusi kita. Terlebih agar kita tidak terus menjadi korban akibat ulah pemimpin yang tidak amanah. Karena itu, partai politik harus membuang semua penyakit yang berpotensi merusak sistem kepartaian, seperti kekuasaan oleh sekelompok orang (oligarki) atau kekuasaan sentralistik figur (patronase), maupun berdasarkan trah keluarga (nepotis). Para petinggi partai harus sadar, penyakit oligarki hanya akan membuat partai menjelma layaknya perusahaan yang hanya dikuasai oleh segelintir orang. Sedangkan proses kaderisasinya hanya akan melahirkan orang-orang yang taat pada elit partai. Hal yang sama akan terjadi pada partai yang tidak bisa melepaskan diri dari politik patronase. Figur patron yang menempati hierarki tertinggi dalam piramida partai, akan memiliki kekuasaan mutlak laksana seorang raja. Ruh partai bukan lagi berada di balik ideologi, tapi beralih ke tangan seorang tokoh atau figur karena trah keluarga.

Gejala ini pernah dialami oleh umat Islam generasi awal yang lazim disebut assabiqunal awwalun. Ketika Rasulullah Saw. wafat, banyak kaum Muslimin yang merasa kehilangan pegangan. Mereka tidak percaya, bahkan tidak menerima kematian sang Nabi, sampai Abu Bakar menyadarkan mereka:

أَيُّهَا النَّاسْ، إِنَّ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ. وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ.
“Saudara-sadara, barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal, tetapi siapa yang menyembah Allah, Allah Mahakekal dan tak pernah mati.”

Rekruitmen dan Kaderisasi Pemimpin
Hikmah dari perkataan Abu Bakar dalam konteks kepemimpinan adalah pertama, perlunya melihat kepemimpinan sebagai sebuah proses yang tidak abadi.  Siapapun dia, sekuat apapun dia, bahkan seotoriter apapun dia, seorang pemimpin pasti akan sampai pada kejatuhannya. Karena itu, pemimpin harus betul-betul berusaha maksimal untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya.

Kedua, kepemimpinan janganlah didasarkan pada faktor keturunan, karena kepemimpinan bukanlah warisan. Kepemimpinan harus didasarkan pada kualitas dan integritas sang pemimpin siapapun dan dari suku apapun dia.

Ketiga, pemimpin tidak hanya punya tanggung jawab secara sosial, tapi juga secara spiritual, yaitu kepada Allah Swt. Karena itu, pemimpin dituntut tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga spiritual yang dapat menuntunnya pada amanah kepemimpinannya.

Empat Karakter Pemimpin Ideal
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

Saudara-saudara kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.
Karakter pemimpin ideal sebenarnya sudah tercermin secara sempurna pada diri Rasulullah Saw. Sejarah sudah memberikan paparan yang jelas tentang segala hal yang berkaitan dengan seni kepemimpinan beliau. Jadi, yang perlu kita lakukan saat ini adalah memahami esensi dari setiap karakter tersebut, sehingga bisa diaplikasikan dalam seni kepemimpinan Indonesia modern. Secara ringkas, empat karakter Rasulullah Saw. adalah sebagai berikut

1. Sidiq (Jujur)
Karakter utama yang menjadi ciri khas pemimpin ideal adalah kejujuran. Jangan pernah remehkan sifat ini, karena fakta sejarah membuktikan bahwa kejujuran memiliki energi dahsyat untuk melegitimasi kepemimpinan. Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar secara berurutan sudah membuktikan dahsyatnya energi kejujuran bagi kepemimpinan agama dan politik mereka. Rasulullah mendapatkan gelar Al-Amien (yang dapat dipercaya) jauh sebelum mendapatkan beragam gelar positif lainnya. Karena rekam jejak kejujuran beliaulah, dakwah Islam cepat tersebar. Semua perkataan beliau langsung dipercaya dan diyakini kebenarannya oleh semua orang yang mendengar. Termasuk hal-hal yang tidak bisa dinalar akal sehat sekalipun, seperti persitiwa Isra’ dan Mi’raj. Abu Bakar juga demikian. Ia dijuluki ash-Shiddiq (orang jujur dan bisa dipercaya). Kejujuran inilah yang membuat semua kabilah Arab bersatu dan membaiatnya secara aklamatif sebagai khalifah ketika Rasulullah wafat.

Fakta ini seharusnya bisa membuka mata semua pemimpin, bahwa kejujuran merupakan modal utama untuk menjadi pemimpin. Pribadi yang jujur relatif lebih mudah diterima oleh masyarakat, meskipun mungkin dia tidak memiliki kecakapan yang hebat dalam mengorganisir kekuasaan. Sebab, masyarakat pasti lebih tenang dan lebih senang dipimpin oleh orang jujur. Mereka tidak akan khawatir aset-aset bangsa hasil jerih payah rakyat akan diselewengkan untuk kepentingan pribadi. Mereka juga tidak akan was-was akan diperlakukan seperti binatang ternak, yang diperas keringatnya dan diperah saripatinya untuk membiayai kebutuhan hedonisme ala pemimpin pendusta.

Pemimpin yang jujur pasti berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan tidak terpuji, atau memutuskan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Oleh sebab itu, Allah Swt. dengan tegas memerintahkan kita untuk bersama atau mengikuti orang-orang yang jujur.

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا للهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS At-Taubah [9]: 119)

2. Amanah (Tepercaya dan Bertanggung Jawab)
Jika kejujuran berfungsi melejitkan potensi internal untuk melegitimasi pemimpin, maka amanah merupakan karakter eksternal yang berfungsi meningkatkan etos kerja. Karakter inilah yang bisa memacu dan memicu pemimpin untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Karena berkaitan dengan kerja-kerja praktis, maka karakter amanah memiliki kaitan yang erat dengan tanggung jawab. Jadi, pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertanggung jawab.

Sejauh ini, kita cenderung memaknai amanah sebatas menunaikan tugas dan kewajiban. Padahal, penyempitan makna amanah seperti inilah yang menjadi pangkal rendahnya kinerja para pemimpin. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang amat langka ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan kembali bahwa amanah memiliki arti yang agung. Amanah berarti berusaha memberikan kemampuan terbaik dan berorientasi kesempurnaan dalam setiap tugas yang dijalankan. Pemimpin amanah adalah pemimpin yang selalu berusaha perfeksionis dalam melakukan pekerjaan. Tidak pernah puas dengan hasil yang didapatkan, dan selalu berpikir keras untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi.

Menurut para ahli hikmah, pemimpin yang amanah selalu menjunjung tinggi etika sehingga tidak suka mempermalukan orang. Membangun kepercayaan diri melalui kualitas dan kapasitas diri. Berani mengakui kesalahan diri dan tidak pernah segan mengingatkan orang lain atas kesalahannya. Bertanggung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan serta cermat dalam bekerja. Teguh memegang prinsip dengan segala risiko dan konsekuensi yang harus dihadapi.

Di samping itu, pemimpin amanah adalah yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak membuat rakyat kerepotan mengurusi masalahnya. Selalu meninggalkan kenangan positif bagi orang di sekitarnya dan masyarakat luas. Tidak mengalihkan tanggung jawab kesalahannya kepada pihak lain, dan juga tidak mewariskan tumpukan masalah yang menyulitkan generasi setelahnya.

3. Tabligh (komunikatif)
Karakter ini harus dimiliki karena dalam menjalankan tugas, pemimpin selalu berhadapan dengan manusia yang punya perasaan dan pikiran. Bukan berhadapan dengan benda mati yang mudah direkayasa. Oleh sebab itu, pemimpin dituntut terampil berkomuniksi agar pesannya bisa dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Ia harus bersikap terbuka sehingga rakyat tidak segan atau takut menyampaikan keinginannya. Seperti inilah yang dicontohkan Rasulullah Saw. dalam menjalin komunikasi dengan para sahabatnya.

Keterampilan berkomunikasi ini mustahil diperoleh secara instan tanpa proses yang panjang. Pengalaman akan menumbuhkan empati yang membuat pemimpin bisa merasakan keluh-kesah rakyatnya, bukan hanya menjadi pendengar setia. Itulah sebabnya mengapa para pemimpin yang berhasil, selalu sosok yang bersahaja. Sosok yang rela berlumpur dan berkeringat bersama rakyat, bukan sosok yang pura-pura memperhatikan penderitaan rakyat dari balik tirai kemewahan. Rasulullah Saw. selalu berhasil mencerna masalah yang dikeluhkan sahabat, karena beliau memang pernah mengalami masalah yang dikeluhkan tersebut. Kepribadian sederhana yang berpadu dengan tutur kata santun, membuat siapa pun merasa nyaman berdialog dengan Rasulullah Saw. Termasuk orang yang baru kenal sekalipun.

4. Fathanah (Visioner)
Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Visioner dan memiliki program yang jelas dalam memajukan masyarakat. Memiliki analisa yang tajam, strategi yang jitu, serta cermat mengidentifikasi skala prioritas dalam menyelesaikan masalah.

Pemimpin yang tidak visioner pasti tidak memiliki pendirian yang teguh, sehingga mudah dipengaruhi orang lain. Gampang terombang-ambing di antara serbuan argumen yang beragam. Karena itu keputusan yang diambil rentan kesalahan dan berpotensi merugikan rakyat.

Rasulullah Saw. adalah pemimpin yang sangat visioner. Ketajamannya dalam menganalisa masalah benar-benar tak tertandingi oleh siapa pun. Kisah tentang Perjanjian Hudaibiyah adalah contoh nyata yang pasti membuat semua orang terpana. Betapa tidak, dengan kecerdasannya, Rasulullah Saw. mampu membalikkan perjanjian yang pasal-pasalnya terkesan merugikan, menjadi sangat menguntungkan bagi kaum Muslimin. Sebagai bukti, pihak Qurasiy yang sempat girang setelah menandatangi perjanjian tersebut, akhirnya tidak kuat lalu khianat dan melanggarnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Doa dan Harapan
Sebelum mengakhiri khutbah ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan bahwa saat ini kita berada di tengah kepungan entertaimen dan gejolak politik. Bukan saja karena kita akan menghadapi pemilukada DKI putaran kedua pada September mendatang, tapi juga karena hingar-hingar suksesi kepemimpinan 2014 sudah ramai dibicarakan sekarang.

Sebagai insan yang beriman dan berpendidikan, mari kita sikapi semua rayuan politik tersebut dengan arif agar tidak salah memilih pemimpin. Sebab, kesalahan memilih pemimpin berpengaruh besar terhadap nasib kita untuk satu periode politik ke depan. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menapaki jalan yang benar dan memilih pemimpin yang amanah.

Kita juga berdoa semoga Allah Swt segera menyadarkan para pemimpin di negeri ini  untuk menjalankan amanatnya secara jujur, transparan, dan penuh keikhlasan sehingga negeri ini betul-betul menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang jauh dari bencana karena pemimpinnya semakin dekat pada penciptanya, yaitu Allah Swt. Amien ya robbal ‘alamin.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر.
Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُلْحِدِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, muliakanlah agama Islam dan tinggikanlah derajat kaum muslimin. Hapuskan segala bentuk kekufuran dan enyahkan segala bentuk kejahatan. Tegakkan panji-panji kebesaran-Mu hingga akhir nanti, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah kami, berikanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. 

اَللّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ عُلَمَاءَهُ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلاَءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاكْتُبْ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَالْغُزَّاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَالْمُقِيْمِيْنَ، فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah penguasa kami, pemimpin kaum yang beriman, tolonglah para ulama kami, tolonglah para menteri, pejabat, serta tentaranya hingga hari Akhir. Tetapkan keselamatan dan kesehatan bagi kami, yang sedang berjihad, para musafir,  serta yang tidak bepergian, baik yang ada di darat atau di laut-Mu—umat Muhammad  dan seluruh umat manusia

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam semesta.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

AM Fatwa oleh AM Fatwa
 
 
 
 
 
arifuddinali.blogspot.com

Minggu, 03 Juni 2012

Syam`un

Simson (Ibrani: Šimšon, Tiberias Šimšôn, Arab:شمشون Syamsyawn, Sam'un; bahasa Inggris: Samson) adalah hakim ketiga dari terakhir dalam zaman Anak-anak Israel kuno, diceritakan dalam kitab suci Yahudi, Tanakh dan Talmud. Ia digambarkan dalam Kitab Hakim-Hakim pasal 13 hingga 16. Makamnya dipercayai ada di Tel Tzora di Israel menatap Ngarai Sorek. Disana terdapat dua batu pualam besar untuk Samson dan ayahnya Manoah. Di dekatnya terletak altar untuk Manoah (seperti yang ditulis dalam Hakim-Hakim 13:19-24). Tempat ini berada antara kota Zorah dan Eshtaol.

1. Etimologi

Lukisan Simson dan Delila karya pelukis Anthony van Dyck.
Shimshon artinya "pria matahari"[1] – mungkin untuk menyebut bahwa dirinya menebarkan cahaya dan perkasa, atau "Dia yang melayani Tuhan".

Simson adalah seorang tokoh seperti Herkules, yang menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa untuk bertempur melawan musuh-musuhnya dan melakukan beberapa aksi kepahlawanan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa: bergulat melawan singa, menghancurkan pasukan musuh dengan hanya menggunakan tulang rahang keledai, dan merobohkan sebuah bangunan raksasa.

Joan Comay, salah seorang penulis buku "Who's Who in the Bible:The Old Testament and the Apocrypha, The New Testament" percaya bahwa cerita Simson yang sedemikian akuratnya mengenai waktu dan tempat membuktikan bahwa Simson adalah figur yang nyata yang menggunakan kekuatan fisiknya untuk melawan bangsa-bangsa yang menjajah Israel dan bukan cerita legenda saja.

 

2. Samson dalam Islam

Kisah Simson ini ada pada kitab Qashash al-Anbiya dan Muqasyafat al-Qulub. Dalam kitab itu dikatakan bahwa Muhammad tesenyum sendiri, lalu ditanya oleh sahabatnya "Apa yang membuatmu tersenyum wahai rasulullah?" Muhammad menjawab "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar, ada seorang nabi dengan membawa pedang yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga dia adalah Sam'un". Ia dikisahkan memiliki mukjizat yaitu dapat melunakkan besi dan merobohkan istana.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas: Malaikat Jibril menceritakan kapada nabi Muhammad bahwa pada zaman dulu ada seorang hamba Allah yang bernama Sam'un untuk Bani Israil. Ia senantiasa berjuang melawan orang–orang kafir, hingga pada suatu saat istrinya bersama orang–orang kafir berencana membunuh suaminya. Pada suatu malam istrinya mengikat tubuh Sam'un yang sedang tidur lelap dengan rambut milik Sam'un.

Setelah Sam'un tidak dapat melawan, maka orang–orang kafir bersama–sama mengarak dan menyiksa Sam'un dengan keji. Namun ketika itu pula Sam'un mendapatkan pertolongan dari Allah. Sam'un berhasil merobohkan istana kaisar bersama seluruh masyarakatnya hancur berserta isteri dan para kerabat yang menghianatinya.

Setelah itu Sam'un menghabiskan waktunya untuk beribadah. Siang hari digunakan untuk berpuasa dan malamnya ia gunakan untuk shalat. Rutinitas tersebut dilakukan Sam'un hingga seribu bulan.

 

3. Terkait

  • Daniel
  • Syamuil
  • Uzayr
  • Yusha

 

4. Referensi

  1. Van der Toorn et. al.. Dictionary of deities and demons in the Bible. Google Books. hlm. 404.

 

5. Pranala luar

back to nabi

Arief

Daniel

Daniel (bahasa Ibrani: דָּנִיּאֵל, Standar Daniyyel Tiberias Dāniyyêl ; "Allah adalah hakimku"; bahasa Arab: دانيال, Dâniyal atau Danial) adalah seorang nabi dari Bani Israel, yang dikenal dalam ajaran agama Yahudi dan Kristen, terutama dicatat dalam Kitab Daniel di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam ajaran Islam ia tidak termasuk salah satu dari 25 nabi yang wajib diketahui, namun demikian ahli sejarah mengatakan bahwa ia termasuk nabi yang pernah hidup dan meninggal di Mesir. Ia dikatakan masih keturunan dari Dawud.[2]

1. Etimologi

Nama Daniel yang berarti "Tuhan adalah Hakimku", Dan berarti "penghakiman atau "hakim", "i" adalah "-ku" dan "El" berarti Allah. Ada juga tulisan nama "Dan'el" (bahasa Ibrani: דָּנִאֵל) yang dicatat dalam Kitab Yehezkiel pasal 14 ayat 14 dan 20, serta pasal 28 ayat 14 dan selain itu ditemukan pada inskripsi Palmyrene[3]. Pelafalan "Dani'el" ("Allah adalah hakimku") lebih mungkin daripada "Dan'el" ("Allah adalah hakim"), karena lebih serasi dengan struktur umum nama Ibrani.[4]

 

2. Pandangan Yahudi dan Kristen

Daniel hidup di masa pembuangan bangsa Israel dari Kerajaan Yehuda ke Babilonia. Pada tahun yang ke-3 pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama 3 tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.[5] Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.[6] Mereka dipekerjakan dalam pemerintahan Babilonia dan Daniel kemudian juga bekerja pada raja Media Persia. Daniel diangkat sebagai kepala menteri di pemerintahan Media Persia sepanjang hidupnya. Catatan kitab-kitabnya ditemukan di dalam gua di Laut Mati di antara Naskah Laut Mati bersama dengan catatan nabi-nabi yang lainnya. Kisah mengenai sejarahnya juga terdapat dalam catatan sejarah Media Persia.

Nubuatnya dimulai dari Kitab Daniel pasal ke-7 sampai 12. Seluruh nubuatannya adalah tentang akhir zaman, berbeda dengan Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel yang banyak bernubuat tentang kedatangan Mesias, meskipun juga menyangkut akhir zaman. Daniel diberi penglihatan (wahyu) oleh Tuhan tentang apa yang terjadi pada sejarah dunia. Inti nubuat yang ia dapatkan adalah berupa akan ada sejumlah peristiwa besar yang terjadi menjelang akhir zaman, termasuk kedatangan Mesias, sampai dengan tibanya akhir zaman.

 

3. Kuburan Daniel

Sebuah makam konon merupakan tempat peristirahatan terakhir nabi Daniel terletak di Benteng Kirkuk di kota Kirkuk di Irak. Ada sebuah masjid yang dibangun di kubur itu. Masjid itu mempunyai gapura dan tiang-tiang dan dua kubah pada dasar yang dihias. Di sampingnya terdapat tiga buah menara yang berasal dari akhir kekuasaan Mongol. Masjid itu sekitar 400 km persegi, dan di situ ada empat buah makam yang konon merupakan makam Daniel, Hana, Ezra dan Mikail. Sebuah makam lain di Susa, Iran, juga diklaim sebagai makam Daniel. selain itu juga, masyarakat Mesir meyakini bahwa makam Daniel terletak di Alexandria, Mesir.

Menurut ahli sejarah Islam, kuburan Daniel, ditemukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab.[7] Saat itu ketika Iskandariyah berhasil dilumpuhkan oleh Amr bin Ash pada tahun 641 Masehi, Amr dan para tentara melihat ada tempat bersembunyi yang dikunci dengan gembok besi. Kemudian mereka membukanya, dan ternyata di dalamnya ada lobang kecil yang ditutup dengan marmer berwarna hijau yang ditutup dengan marmer berwarna hijau lainnya. Ketika dibuka, ternyata di dalamnya ada jenazah seorang laki-laki dengan kain kafan yang ditenun dengan benang emas, dan memiliki badan yang sangat besar. Kejadian itu dilaporkan kepada Khalifah Umar, dan Umar segera bertanya kepada Ali bin Abi Thalib. Ali kemudian menjawab bahwa jenazah tersebut adalah jenazah Nabi Daniel. Umar segera memerintahkan Amr bin Ash untuk mengkafani kembali jenazah tadi, dan meminta untuk dikuburkan disebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang. Amr bin Ash lalu membuatkan kuburannya lagi di kota Iskandariyah yang saat ini di atasnya dibangun sebuah mesjid yang diberi nama, Masjid Nabi Daniel.

Ada beberapa alternatif yang dianggap sebagai kuburan Daniel, diantaranya adalah:
  • Susa[8] dan Mala Amir di Iran,
  • Babilon,[9] Kirkuk, Muqdadiyah di Iraq,
  • Samarkand Uzbekistan.

 

4. Terkait

  • Kitab Daniel.
    Kitab Daniel, yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan bahasa Aram, adalah sebuah kitab yang terdapat dalam Alkitab Ibrani (Tanakh) dan Perjanjian Lama di Alkitab orang Kristen. Kisah dalam kitab ini terjadi pada masa pembuangan di Babel, sebuah masa ketika bangsa Yahudi dibuang dan diasingkan ke Babel. Kisah ini berlangsung sekitar seorang tokoh yang bernama Daniel, seorang pemuda yang dibawa dari Yerusalem ke Babel oleh raja Nebukadnezar untuk dilatih melayani dalam istana raja.
    Buku ini mempunyai dua bagian yang berbeda: serangkaian cerita dan 4 penglihatan apokaliptik. Tiga narasinya melibatkan Daniel, yang mempunyai karunia bernubuat, menafsirkan mimpi dan tanda-tanda ilahi. Dua narasi lainnya menampilkan bangsa Israel yang telah dijatuhi hukuman karena kesalahan mereka dan yang secara ajaib terlepas dari hukuman mati. Pada bagian kedua buku ini, si penulis mengungkapkan dan sebagian menafsirkan serangkaian penglihatan yang digambarkan dalam sudut pandang orang pertama (dengan kata "aku").
    Kitab Daniel ini menarik sebab beberapa bagian kitab ini yaitu dari pasal 2:4a sampai 7 ditulis dalam bahasa bahasa Aram sedangkan lainnya dalam bahasa bahasa Ibrani. Akibatnya ada yang menganggap kitab ini tidak seluruhnya ditulis oleh penulis yang sama.
  • Kitab Yehezkiel.
    Kitab Yehezkiel merupakan salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang berasal dari zaman pembuangan sekitar tahun 593-571 SM. Kitab Yehezkiel menggambarkan tahapan baru dari nubutan Israel.
    Kitab Yehezkiel dituliskan berdasarkan nama nabi besar Yehezkiel (dalam bahasa Ibrani יחזקאל Yekhezkel adalah nama seorang nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama. Dalam Al-Qur'an, nabi ini juga dikenal dengan nama Nabi Zulkifli. Menurut Alkitab, nabi Yehezkiel tinggal dalam pembuangan di Babel, baik sebelum, maupun sesudah jatuhnya Yerusalem pada tahun 586 SM. Pesannya ditujukan kepada orang-orang yang dibuang di Babel dan mereka yang tinggal di Yerusalem.
  • Samuel
  • Samson
  • Uzayr
  • Yusha

 

5. Referensi

  1. Historical Dictionary of Prophets in Islam and Judaism, B. M. Wheeler, Daniel: "Daniel tidak disebutkan namanya di dalam Al Quran tetapi ada kisah kenabiannya dalam karya sastra Islam kemudian..."
  2.  Imam ats-Tsa’laby sebagaimana dikutip oleh Muhammad bin Iyas Abul Barakat al-Hifny Bada’iuz Zuhur fi Waqai’ ad-Duhur Hal. 192-194.
  3.  De Vogué, "Syrie Centrale," No. 93
  4.  Jewish Encylopedia "Daniel"
  5.  Daniel 1:1-5
  6.  Daniel 1:6-7
  7.  Muhammad bin Iyas Abul Barakat al-Hifny Bada’iuz Zuhur fi Waqai’ ad-Duhur Hal. 194-195
  8.  Kitab Daniel 8:2
  9.  The Martyrologium Romanum (1583), consecrates July 21 to Saint Daniel.

 

6. Pranala luar

Yahudi & Kristen

Islam



Daniel
Daniel's Answer to the King (Daniel menjawab raja) lukisan Briton Rivière, R.A. (1840-1920), 1890 (Manchester City Art Gallery).
Prophet
Lahir Abad ke-7 SM
Wafat Abad ke-6 SM, Babilon(?)
Dihormati di Gereja Katolik Roma
Gereja Katolik Timur
Gereja Ortodoks Timur
Gereja Lutheran
Adventisme
Islam[1]
Gereja Apostolik Armenia
Tempat ziarah utama Makam Daniel, Susa, Iran
Hari peringatan 26 Juni
Atribut Sering digambarkan dalam gua sing


back to nabi

Arief

Bebas Bayar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

gif maker

Arifuddin Ali