WELCOME TO THE BLOG SERBA SERBI.

Tampilkan postingan dengan label Aksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2012

Aksara Sunda Kuno


Aksara Sunda Kuna merupakan aksara yang berkembang di daerah Jawa Barat pada Abad XIV-XVIII yang pada awalnya digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda Kuna. Aksara Sunda Kuna merupakan perkembangan dari Aksara Pallawa yang mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah lontar pada Abad XVI.

1. Sejarah

Penggunaan Aksara Sunda Kuna dalam bentuk paling awal antara lain dijumpai pada prasasti-prsasasti yang terdapat di Astanagede, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dan Prasasti Kebantenan yang terdapat di Kabupaten Bekasi.

Edi S. Ekajati mengungkapkan bahwa keberadaan Aksara Sunda Kuna sudah begitu lama tergeser karena adanya ekspansi Kerajaan Mataram Islam ke wilayah Priangan kecuali Cirebon dan Banten. Pada waktu itu para menak Sunda lebih banyak menjadikan budaya Jawa sebagai anutan dan tipe ideal. Akibatnya, kebudayaan Sunda tergeser oleh kebudayaan Jawa. Bahkan banyak para penulis dan budayawan Sunda yang memakai tulisan dan ikon-ikon Jawa.

Bahkan VOC pun membuat surat keputusan, bahwa aksara resmi di daerah Jawa Barat hanya meliputi Aksara Latin, Aksara Arab Gundul (Pegon) dan Aksara Jawa (Cacarakan). Keputusan itu ditetapkan pada tanggal 3 November 1705. Keputusan itu pun didukung para penguasa Cirebon yang menerbitkan surat keputusan serupa pada tanggal 9 Februari 1706. Sejak saat itu Aksara Sunda Kuno terlupakan selama berabad-abad. Masyarakat Sunda tidak lagi mengenal aksaranya. Kalaupun masih diajarkan di sekolah sampai penghujung tahun 1950-an, rupanya salah kaprah. Pasalnya, yang dipelajari saat itu bukanlah Aksara Sunda Kuna, melainkan Aksara Jawa yang diadopsi dari Mataram dan disebut dengan Cacarakan.

 

2. Sunda Kuna dan Sunda Baku

Aksara Sunda Kuno sebagaimana digunakan pada naskah-naskah lontar dari Abad XV - XVII. Beberapa varian huruf dan perubah vokal tidak termasuk dalam tabel di
Pada awal tahun 2000-an pada umumnya masyarakat Jawa Barat hanya mengenal adanya satu jenis aksara daerah Jawa Barat yang disebut sebagai Aksara Sunda. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa setidaknya ada empat jenis aksara yang menyandang nama Aksara Sunda, yaitu Aksara Sunda Kuna, Aksara Sunda Cacarakan, Aksara Sunda Pegon, dan Aksara Sunda Baku. Dari empat jenis Aksara Sunda ini, Aksara Sunda Kuna dan Aksara Sunda Baku dapat disebut serupa tapi tak sama. Aksara Sunda Baku merupakan modifikasi Aksara Sunda Kuna yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Modifikasi tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).
Perbandingan bentuk huruf antara Aksara Jawa Kuno, Aksara Sunda Kuno, dan Aksara Sunda Baku.

 

3.  Sumber

  • Duddy R.S. : Aksara Sunda Kuno Menghiasi Plang Jalan di Kota Tasik, Pikiran Rakyat 10 Oktober 2004.
  • A-148 : Aksara Sunda Harus Diperkenalkan Kembali, Pikiran Rakyat 19 Juli 2005.

 

4. Lihat pula

  • Aksara Nusantara
Arief

Aksara Kawi

Keping Tembaga Laguna, sebuah prasasti dengan Aksara Kawi dari Filipina tahun 900 M.
Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuno merupakan bentuk aksara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi dan berkembang di Nusantara pada abad VIII – XVI.

1. Asal-usul

Aksara Jawa Kuno berasal dari Aksara Pallawa yang mengalami penyederhanaan bentuk huruf pada sekira abad VIII. Aksara Pallawa itu sendiri merupakan turunan Aksara Brahmi dan berasal dari daerah India bagian selatan. Aksara Pallawa menjadi induk semua aksara daerah di Asia Tenggara (e.g. Aksara Thai, Aksara Batak, Aksara Burma).

Perbedaan terpenting antara Aksara Pallawa dengan Aksara Jawa Kuno antara lain adalah :
  • Aksara Jawa Kuno memiliki vokal e pepet dan vokal e pepet panjang, sedangkan Aksara Pallawa tidak memiliki vokal e pepet atau vokal e pepet panjang.
  • Aksara Jawa Kuno cukup sering menggunakan tanda virama untuk menghilangkan vokal pada huruf konsonan, sedangkan Aksara Pallawa biasanya hanya menggunakan virama di akhir kalimat atau di akhir bait.

 

2. Penulisan

Aksara Jawa Kuno meliputi 33 huruf konsonan (sama dengan konsonan pada Aksara Pallawa) dan 16 huruf vokal (vokal pada Aksara Pallawa ditambah dua vokal e pepet). Huruf-huruf Aksara Kawi dituliskan dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.

Sebagaimana halnya dengan semua keturunan Aksara Brahmi maka Aksara Jawa Kuno merupakan jenis aksara abugida atau aksara alpha-sylable. Jenis aksara ini huruf konsonannya memiliki vokal a yang melekat pada huruf konsonan itu dan bunyi vokalnya bisa diubah dengan menggunakan tanda vokal lain. Vokal a yang melekat pada satu huruf konsonan dapat dihilangkan dengan memberi tanda virama pada huruf konsonan tersebut. Cluster dua konsonan dibuat dengan meletakkan huruf konsonan kedua berukuran kecil di bawah huruf konsonan pertama (e.g. cluster untuk ka, kha, ga) atau menyambung bagian kiri konsonan kedua dengan bagian kanan huruf konsonan pertama (e.g. cluster untuk pa, pha, sa).

Sistem penomoran pada Aksara Jawa Kuno sama dengan sistem penomoran Hindu-Arab yang menggunakan 10 digit angka dan berdasarkan perhitungan basis 10. Beberapa tanda baca yang sudah umum digunakan di antara turunan Aksara Brahmi di India juga digunakan dalam Aksara Jawa Kuno.

 

3. Periodisasi

J. G. de Casparis (1975) mengelompokkan beberapa tahap perkembangan Aksara Jawa Kuno, yaitu :
  • Aksara Jawa Kuno Awal / Aksara Kawi Awal (sekira antara 750 – 925 M)
    • Bentuk Kuno : Contohnya terdapat pada Prasasti Dinoyo dari Malang, Prasasti Sangkhara dari Sragen, dan Prasasti Plumpungan dari Salatiga.
    • Bentuk Standar : Contohnya terdapat pada prasasti-prasasti dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi dan Rakai Balitung; misalnya Prasasti Rukam dari Temanggung, Prasasti Munduan dari Temanggung, dan Prasasti Rumwiga dari Bantul.
  • Aksara Jawa Kuno Akhir / Aksara Kawi Akhir (sekira antara 925 – 1250 M) : Contohnya terdapat pada prasasti-prasasti dari zaman Kerajaan Mataram di Jawa Timur dan Kerajaan Kediri; misalnya Prasasti Lemahabang dari Lamongan, Prasasti Cibadak dari Sukabumi, dan Prasasti Ngantang dari Malang.
  • Aksara Majapahit (sekira antara 1250 – 1450 M) : Contohnya terdapat pada prasasti-prasasti dari zaman Kerajaan Majapahit; misalnya Prasasti Kudadu dari Mojokerto, Prasasti Adan-adan dari Bojonegoro, dan Prasasti Singhasari dari Malang.

 

4. Perkembangan

Aksara Jawa Kuno merupakan induk semua aksara daerah di Nusantara – kecuali mungkin aksara daerah di Pulau Sumatera (e.g. Aksara Batak, Aksara Kerinci, Aksara Lampung). Hal ini dikarenakan di Pulau Sumatera bentuk peralihan dari Aksara Pallawa ke aksara daerah tidak bisa dianggap sama dengan Aksara Jawa Kuno. Biasanya bentuk peralihan ini disebut dengan nama Aksara Proto-Sumatera atau Aksara Sumatera Kuno (Damais, 1955 & 1995).

Seiring perubahan cara penulisan dan media penulisan maka sejak abad XVI – XVII Aksara Jawa Kuno berkembang menjadi beberapa aksara daerah, antara lain :
  • Turunan Aksara Kawi di Pulau Jawa : Aksara Buda, Aksara Sunda Kuno, Aksara Jawa Baru.
  • Turunan Aksara Kawi di Pulau Sulawesi : Aksara Lontara.
  • Turunan Aksara Kawi di Pulau Bali : Aksara Bali.

 

5. Tabel Aksara

Tabel Aksara Jawa Kuno di bawah merupakan tabel dengan bentuk huruf berdasarkan bentuk huruf standar dari abad VIII - X. Perbandingan bentuk huruf selama perkembangan Aksara Jawa Kuno, dapat dilihat di Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Holle, 1882).



Rujukan

  • De Casparis, J. G., 1975, Indonesian Palaeography : A History of Writing in Indonesia from the beginnings to c. AD 1500, Leiden & Koln.
  • Holle, K. F., 1882, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten : Bijdrage tot de Palaeographie van Nederlansch Indie, Batavia.

Lihat

Aksara Nusantara

Arief

Aksara Pallawa

Aksara Pallawa atau kadangkala ditulis sebagai Pallava adalah sebuah aksara yang berasal dari India bagian selatan. Aksara ini sangat penting untuk sejarah di Indonesia karena aksara ini merupakan aksara dari mana aksara-aksara Nusantara diturunkan.

Di Nusantara bukti terawal adalah Prasasti Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur yang berasal dari abad ke-5 Masehi. Bukti tulisan terawal yang ada di Jawa Barat dan sekaligus pulau Jawa, yaitu Prasasti Tarumanagara yang berasal dari pertengahan abad ke-5, juga ditulis menggunakan aksara Pallawa.

Nama aksara ini berasal dari Dinasti Pallava yang pernah berkuasa di selatan India antara abad ke-4 sampai abad ke-9 Masehi. Dinasti Pallava adalah sebuah dinasti yang memeluk aliran Jainisme.

1. Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara Nusantara

Perubahan Aksara Pallawa

 

2. Huruf

2.1. Vokal


Vokal pendek
Vokal panjang
Daerah
artikulasi
Bentuk
mandiri
Roma nisasi Bentuk
mandiri
Roma nisasi
kaṇṭhya
(Gutural)
A a Ā ā
tālavya
(Palatal)
I i Ī ī
oṣṭhya
(Labial)
U u
kaṇṭhatālavya
(Palato-Gutural)
E e Ai ai
kaṇṭhoṣṭhya
(Labio-Gutural)
O o Au au

 

2.2. Konsonan

Konsonan plosif


Daerah
artikulasi
aghoṣa (nirsuara)
alpaprāṇa
(hembusan kecil)
mahāprāṇa
(hembusan besar)


kaṇṭhya
(Gutural)
Pallava Ka.svg ka
/k/
Pallava Kha.svg kha
/kʰ/










tālavya
(Palatal)
Pallava Ca.svg ca
/c, t͡ʃ/
Pallava Cha.svg cha
/cʰ, t͡ʃʰ/











mūrdhanya
(Retrofleks)
Pallava Tta.svg ṭa
/ʈ/
Pallava Ttha.svg ṭha
/ʈʰ/










dantya
(Dental)
Pallava Ta.svg ta
/t̪/
Pallava Tha.svg tha
/t̪ʰ/










oṣṭhya
(Labial)
Pallava Pa.svg pa
/p/
Pallava Pha.svg pha
/pʰ/









 

Konsonan plosif


Daerah
artikulasi

ghoṣa (bersuara)


alpaprāṇa
(hembusan kecil)
mahāprāṇa
(hembusan besar)
kaṇṭhya
(Gutural)




Pallava Ga.svg ga
/ɡ/
Pallava Gha.svg gha
/ɡʱ/






tālavya
(Palatal)




Pallava Ja.svg ja
/ɟ, d͡ʒ/
Pallava Jha.svg jha
/ɟʱ, d͡ʒʱ/







mūrdhanya
(Retrofleks)




Pallava Dda.svg ḍa
/ɖ/
Pallava Ddha.svg ḍha
/ɖʱ/






dantya
(Dental)




Pallava Da.svg da
/d̪/
Pallava Dha.svg dha
/d̪ʱ/






oṣṭhya
(Labial)




Pallava Ba.svg ba
/b/
Pallava Bha.svg bha
/bʱ/





 


Konsonan
sengau
Konsonan
hampiran
Konsonan
desis
Daerah
artikulasi






kaṇṭhya
(Gutural)








Pallava Nga.svg ṅa
/ŋ/

Pallava Ha.svgha
/ɦ/


tālavya
(Palatal)








Pallava Nya.svg ña
/ɲ/
Pallava Ya.svg ya
/j/
Pallava Sha.svg śa
/ɕ, ʃ/

mūrdhanya
(Retrofleks)








Pallava Nna.svg ṇa
/ɳ/
Pallava Ra.svg ra
/r/
Pallava Ssa.svg ṣa
/ʂ/
dantya
(Dental)








Pallava Na.svg na
/n/
Pallava La.svg la
/l/
Pallava Sa.svg sa
/s/
oṣṭhya
(Labial)








Pallava Ma.svg ma
/m/
Pallava Va.svg va
/ʋ/


 

3. Lihat

  • Prasasti Nusantara
  • Aksara Nusantara

 

4. Pranala luar

Arief

Bebas Bayar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

gif maker

Arifuddin Ali