WELCOME TO THE BLOG SERBA SERBI.

Tampilkan postingan dengan label PAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

Historis Hubungan Muhammadiah Dengan PAN


Sejarah berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN) tidak lepas dari hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah, 5-7 Juni 1998 di Semarang, Jawa Tengah. Dalam sidang itu, Komisi C merekomendasikan kepada Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah agar mempersiapkan partai politik baru. Pada penutupan sidang, Amien Rais mengumumkan akan membentuk partai politik baru. Sejak itulah pertautan sejarah Muhammadiyah-PAN terukir.

PAN yang lahir dari rahim reformasi memang tidak semata melibatkan unsur Muhammadiyah. Unsur lainnya juga terlibat secara intens, antara lain kelompok Majelis Amanat Rakyat (MARA) yang didirikan pada 14 Mei 1998 oleh beberapa intelektual prodemokrasi seperti Goenawan Mohamad, Faisal Basri, Th Sumartana, Albert Hasibuan, Toety Herawaty dan sebagainya. Sedangkan para intelektual muslim kelompok Tebet Society juga ikut memberikan kontribusi terhadap proses pendirian PAN. Di antaranya Amin Azis, AM Fatwa, Dawam Rahardjo, AM Luthfi, Abdillah Thoha, dan lain-lain. Eksponen Tebet Society ini juga para aktivis Muhamadiyah.

Setelah PAN dideklarasikan 23 Agustus 1998, dilanjutkan dengan pembentukan PAN di wilayah dan daerah di seluruh pelosok nusantara. Karena para inisiator dan yang terlibat di komite pendirian PAN lebih banyak aktivis dan fungsionaris Muhammadiyah. Tidak heran bila perluasan infrastruktur PAN di seluruh pelosok negeri berjalan karena dibantu jaringan infrastruktur Muhammadiyah.Akar historis ini membuat pernak-pernik kehidupan PAN semakin berwarna.

Secara organisatoris, tidak ada hubungan antara PAN dan Muhammadiyah. Namun secara historis, adanya PAN karena adanya Muhammadiyah. Situasi PAN seperti ini mirip dengan keberadaan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Nahdlatul Ulama (NU): adanya PKB karena adanya NU.

Akar masalah

Dalam pemilihan umum (pemilu) yang diikuti PAN, sebagian eksponen Muhammadiyah menilai PAN tidak lagi memperhatikan kader dan suara Muhammadiyah. Kritik itu datangnya dari kaum muda progresif Muhammadiyah. Dalam penyusunan struktur calon anggota legislatif (caleg) pada 2004 lalu, misalnya, kader Muhammadiyah tidak ditempatkan dalam posisi signifikan. Akibatnya, sangat sedikit kader muda Muhammadiyah yang berhasil lolos ke parlemen.

Kasus ini hanyalah salah satu pemicu dari pola hubungan yang belum tertata secara baik antara PAN dan Muhammadiyah. Komunikasi yang tidak lancar menyebabkan adanya kemacetan interaksi. Tidak heran pada bulan Maret lalu kaum muda progresif Muhammadiyah mendirikan Perhimpunan Amanat Muhammadiyah (PAM) di kantor Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya No 62 Jakarta. Meskipun mengundang pro-kontra, PAM telah berdiri.

Di samping itu, format hubungan antara akar historis pendirian PAN dengan identitas PAN sebagai partai plural, juga menjadi akar persoalan tersendiri. Sebagai partai terbuka, plural, nonsektarian, dan nondiskriminatif, PAN akan mengakomodasi seluruh anak bangsa dari berbagai suku, agama, ras, status sosial, gender, dan golongan. Namun, ketika identitas PAN dikaitkan dengan nilai historis pendirian PAN dan juga dihubungkan dengan basis sosial PAN yang merupakan warga Muhammadiyah, timbul persoalan yang hingga kini bak awan gelap yang menutupi sinar matahari.

Persoalan Kultural dan Struktural

Berdirinya PAN merupakan ijtihad politik Muhammadiyah untuk membentuk partai politik baru dengan Amien Rais, mantan ketua PP Muhammadiyah, menjadi ketua umumnya. Inilah yang menyebabkan basis sosial PAN sebagian besar terakumulasi dari warga Muhammadiyah. Sebagian besar fungsionaris PAN, terutama di wilayah dan daerah adalah warga Muhammadiyah.

Tapi sampai saat ini masih ada sejumlah perbedaan pendapat di internal Muhammadiyah dalam menyikapi kondisi itu. Antara lain, pertama, Muhammadiyah harus mengambil jarak dengan seluruh partai politik, termasuk PAN. Agar Muhammadiyah tak sampai tersubordinasi atau terkooptasi oleh kekuatan partai politik. Jarak itu akan menjaga persepsi publik terhadap Muhammadiyah sebagai institusi sosial keagamaan yang bersikap netral serta tetap bersifat otonom.

Bila tak ada jarak, hal itu akan berakibat negatif terhadap eksistensi masing-masing. Muhammadiyah bisa ditarik ke wilayah politik praktis yang bisa mereduksi citranya sebagai lembaga dakwah. Bahkan akan semakin mengentalkan citra publik bahwa PAN adalah ‘Partai Muhammadiyah’. Untuk beberapa daerah tertentu yang berbasis Muhammadiyah, tentu tidak jadi masalah. Namun bagi daerah yang tidak memiliki basis sosial warga Muhammadiyah, itu jadi faktor penghambat masuknya kelompok sosial non-Muhammadiyah.

Kedua, Muhammadiyah secara lembaga harus secara jelas mem-back up keberadaan PAN. Sebab Muhammadiyah harus mempunyai partai politik utama yang memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya. Namun back up hanya bersifat aspiratif. Artinya, warga Muhammadiyah tetap akan menjadikan PAN sebagai partai utama Muhammadiyah untuk menyalurkan aspirasi dan kepentingannya.

Dua pendapat itu sampai hari ini masih tumbuh subur sebagai wacana. Secara kultural, PAN memang tidak dapat dilepaskan dari Muhammadiyah. Banyaknya warga Muhammadiyah yang menjadi fungsionaris PAN di wilayah dan daerah, juga menandai ikatan kultural ini. Tapi, hal itu ternyata masih pula menyisakan sejumlah persoalan baru ketika berbicara soal komposisi struktural kepengurusan partai.

Komposisi struktural di wilayah dan daerah tidak ada masalah. Namun di pusat, sebagian eksponen Muhammadiyah mempersoalkan PAN yang dianggap tidak mengakomodasi dan mempertimbangkan kader-kader terbaik Muhammadiyah untuk memperkuat di struktur kekuasaan partai. Hal itu ‘diperparah’ persoalan caleg, karena banyak yang ditempatkan di ‘nomor sepatu’ dan gagal ke parlemen.

Perlu dijernihkan

Menghadapi persoalan tersebut, hubungan Muhammadiyah-PAN perlu dijernihkan.

Pertama, Muhammadiyah secara institusional tetap sebagai ‘payung politik’ (political umbrella) bagi semua partai politik. Sebab warga peryarikatan tidak hanya melakukan pengabdian politik di PAN, tapi juga di partai-partai lain. Posisi ini akan mengayomi seluruh partai politik. Meski secara kultural, kenyataannya warga Muhammadiyah lebih dekat ke PAN, bahkan hingga terbentuk basis sosial sebagai pemilih tradisional PAN.

Kedua, karena secara kultural warga Muhammadiyah lebih dekat ke PAN (atau PAN lebih dekat ke Muhammadiyah), PAN mesti dapat memperjuangkan aspirasi dan kepentingan politik warga Muhammadiyah di parlemen agar menjadi kebijakan publik.

Ketiga sebagai partai plural, maka komposisi struktur PAN penuh dengan warna-warni. Tapi, perlu juga dipikirkan bagaimana Muhammadiyah secara organisasional melakukan seleksi internal terhadap kader terbaiknya untuk ‘direkomendasikan’ masuk di struktur partai secara lebih proporsional. Namun jangan sampai terkesan PAN hanya milik Muhammadiyah. Sebab dalam usaha memperbesar basis sosial, partai harus pula merambah kelompok sosial lainnya. PAN bukan partai agama. Azas dan platform partai lebih cenderung mencerminkan nilai-nilai kebangsaan. Meskipun posisi ideologi politik PAN berada pada kutub tengah, namun memang cenderung ke kanan. Posisi ini jelas menyiratkan bahwa PAN itu dekat dengan umat dan dalam pengalaman empirisnya selalu memperjuangkan aspirasi umat.

Keempat, PAN mesti mengembangkan wacana keumatan dan wacana kebangsaan dalam menegakkan eksistensinya. Mungkin ini akan mendorong citra PAN sebagai partai plural-inklusif, sekaligus partai nasionalis-religius. Selanjutnya, wacana ini diturunkan menjadi program aksi, tanpa membesar-besarkan perdebatan unsur Muhammadiyah-nonMuhammadiyah. Rasanya, itu merupakan alternatif untuk keluar dari perdebatan internal yang terkadang punya motif kepentingan pribadi, tapi mengatasnamakan unsur Muhammadiyah-nonMuhammadiyah.

Bila persoalan di atas dapat diselesaikan secara struktural maupun kultural, maka upaya PAN untuk melakukan dialog peradaban dengan Muhammadiyah akan berjalan dengan baik, tanpa menutup peluang untuk mengembangkan citra PAN yang pluralis, inklusif, dan nondiskriminatif.


(DPRku Com)

Senin, 26 Desember 2011

Sejarah Kelahiran Partai Amanat Nasional

Kelahiran Partai Amanat Nasional (PAN) dibidani oleh Majelis Amanat Rakyat (MARA), salah satu organ gerakan reformasi pada era pemerintahan Soeharto, PPSK Muhamadiyah, dan Kelompok Tebet.

PAN dideklarasasikan di Jakarta pada 23 Agustus, 1998 oleh 50 tokoh nasional, di antaranya Prof. Dr. H. Amien Rais, mantan Ketua umum Muhammadiyah, Goenawan Mohammad, Abdillah Toha, Dr. Rizal Ramli, Dr. Albert Hasibuan, Toety Heraty, Prof. Dr. Emil Salim, Drs. Faisal Basri MA, A.M. Fatwa, Zoemrotin, Alvin Lie Ling Piao dan lainnya.

Sebelumnya pada pertemuan tanggal 5-6 Agustus 1998 di Bogor, mereka sepakat membentuk Partai Amanat Bangsa (PAB) yang kemudian berubah nama menjadi Partai Amanat Nasional (PAN).

PAN bertujuan menjunjung tinggi dan menegakkan kedaulatan rakyat, keadilan, kemajuan material dan spiritual. Cita-cita partai berakar pada moral agama, kemanusiaan, dan kemajemukan. Selebihnya PAN menganut prinsip nonsektarian dan nondiskriminatif. Untuk terwujudnya Indonesia baru
PAN pernah melontarkan gagasan wacana dialog bentuk negara federasi sebagai jawaban atas ancaman disintegrasi. Titik sentral dialog adalah keadilan dalam mengelola sumber daya sehingga rakyat seluruh Indonesia dapat benar-benar merasakan sebagai warga bangsa.
Pada Pemilu 2004, PAN mencalonkan pasangan Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo sebagai calon presiden untuk dipilih secara langsung. Pasangan ini meraih hampir 15% suara nasional.


Arief

Hatta Punya Potensi Jadi Nomor 1

Partai Demokrat tidak memungkiri pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Aliya Rajasa mempererat komunikasi antara Presiden SBY dan Hatta Rajasa. Namun, tidak ada urusan dengan politik.

"Pasti ada pengaruhnya terhadap kedekatan Pak SBY dan Pak Hatta," kata Wakil Ketua Fraksi PD DPR, Sutan Bathoegana, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (22/11/2011).

Sutan berharap antara Hatta dan SBY bisa bersinergi lebih baik lagi agar nama mereka juga terangkat.
"Pak Hatta juga punya kapasitas jadi nomor satu dan nomor dua, mungkin dia bisa jadi lebih populer," ujarnya.
Menurut Sutan, wajar apabila PAN mencoba menarik-narik hal tersebut ke ranah politik meskipun belum tentu PD dan PAN bersinergi menjadikan Hatta capres atau cawapres dalam Pemilu 2014.

"Menarik-narik itu silakan saja. Itu hak orang per orang. Pernikahan itu sakral tidak ada urusan berpolitik. Kalau yang dibilang koalisi permanen Aliya dan Ibas iya. Tapi kalau PD dan PAN politik itu art of posibility, bisa berseberangan," tuturnya. Sumber Detik.com

Arief

Proyeksi Politik PAN 2014

PAN.OR.ID - Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa menyatakan, tahun 2011 adalah tahun bekerja. Namun, secara tersirat, Hatta Rajasa ditampilkan oleh partainya sebagai sosok yang siap menghadapi Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014.

Gaya berpidatonya, baik saat pengumuman pengurus Dewan Pimpinan Pusat PAN 2010-2015 pada 9 Februari 2010 maupun saat menyampaikan pidato awal tahun 2 Januari 2011, mirip gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lengkap dengan siaran langsung televisi dan alat bantu baca (teleprompter). Berikut petikan wawancara dengan Hatta Rajasa di kediamannya, beberapa waktu lalu:

Tahun 2011 boleh dikata tahun paling panas. Pasalnya, tahun 2010 banyak guncangan politik yang belum selesai sehingga menjadi pekerjaan rumah. Prediksi Anda? Kalau melihat pidato awal tahun saya sebagai Ketua Umum PAN, saya justru mengajak semua parpol untuk menahan diri dan lebih fokus pada kerja; kerja yang betul-betul bisa menyukseskan pemerintahan ini. Pemerintahan ini, kan, pemerintahan pilihan rakyat.

Saya memprediksi, memang, bahwa banyak hal pada 2010 yang akan dibawa ke 2011. Itulah mengapa saya katakan marilah segala sesuatu yang bisa membuang energi kita, tidak produktif, kita selesaikan secara arif. Tidak membuat satu polemik yang justru kontraproduktif.

Saya, kok, melihat sebetulnya masih banyak ruang kita untuk sama-sama. Kuncinya adalah komunikasi; komunikasi sesama pimpinan partai politik kita intensifkan.

Apakah komunikasi antar- pimpinan parpol selama tahun 2010 memang buruk? Dikatakan buruk, tidak. Namun, kalau dikatakan komunikasi itu intens, juga tidak. Maksud saya, komunikasi itu jangan dibangun atas dasar ada sesuatu yang katakanlah penting, menonjol, sehingga kita merasa memerlukan, tetapi suatu silaturahim, terutama saya mengajak teman-teman di koalisi, yang bisa membangun suatu kebersamaan.

Banyak masalah pada 2010 yang tidak selesai. Kira-kira masalah apa saja yang harus diselesaikan pada 2011 ini? Kita harus bersama-sama menyelesaikan persoalan yang menyangkut kepentingan-kepentingan bangsa. Pertama, menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan produk legislasi. Produk legislasi ini sangat penting. Jangan sampai ini kedodoran.

Kedua, mencari solusi terhadap persoalan bangsa yang sedang menjadi tantangan kita. Saya mencatat ada tiga tantangan besar kita: pertama tantangan global, termasuk situasi ketidakmenentuan, belum selesainya krisis global, kedua masalah pangan, ketiga masalah energi.

Dalam komunikasi, koalisi (Setgab) sudah dibangun. Apa tidak cukup menyelesaikan semua itu?

Saya tidak melihat ada masalah sangat serius dalam Setgab. Saya tetap beranggapan koalisi harus diperkuat lagi. Ingat, koalisi itu bukan akuisisi politik dan bukan juga mengooptasi, apalagi mencoba untuk mengambil peran anggota dewan di parlemen, tidak sama sekali.

Namun, koalisi ini harus didasari pada suatu responsibility to govern. Bisa saja kita berbeda, tetapi yang namanya ada Setgab, ada forum, walaupun itu forum tidak formal. Paling tidak bisa ketemu, bisa menyelesaikan persoalan bersama-sama.

Kondisi sekarang bagaimana? Publik melihat ada perpecahan? Saya, kok, melihat tidak, ya. Jujur saya katakan, ini mungkin soal komunikasi karena, begini, dalam setiap pertemuan di Setgab, semua diundang. Semua memiliki hak dan tanggung jawab sama, tidak dibedakan antara partai besar dan kecil. Hanya mungkin ketika pembicaraan di Setgab tersebut ada satu kesepakatan, tidak mengalir ke anggota-anggota di bawah. Menurut saya soal komunikasi.

Supaya kegaduhan tak menimpa Setgab, apa yang mesti dilakukan partai-partai? Saya sependapat dengan kawan-kawan lain dan itu juga saya sampaikan di pidato awal tahun saya. Sebaiknya kita sampai tahun 2013 ini hendaknya diisi dengan program-program kerja. Ada tim program kerja. Silakan partai mulai melakukan kerja-kerja politik di daerah dengan caranya pengaderan.

PAN mulai melakukan itu, mendatangi daerah-daerah. Jadi, kita turunkan tensinya. Menteri-menterinya fokus pada kerja. Jangan kita ”mencuri” katakanlah sebagai menteri, tetapi juga ngomong soal partai.

Sekitar tiga tahun itu tidak lama, pemerintah harus fokus, tetapi parpol juga harus menyiapkan pemilu? Ya, itulah seninya seorang pemimpin parpol. Pertama jangan mencampuradukkan antara kepentingan partai dan tugas. Jadi, sistem manajemen partai yang modern itu adalah partai yang bekerja kolektif. Saya tidak pernah meninggalkan komunikasi saya dengan kawan-kawan. Kalau sudah Sabtu-Minggu, saya kumpul, turun ke daerah. Senin sampai Jumat saya bekerja dan saya tidak pernah mengumpulkan orang partai saya di Kantor Menko (Perekonomian).

Menurut saya wajar kalau partai mempersiapkan diri. PAN pun mempersiapkan diri mulai sekarang, tetapi mungkin caranya kita bekerja. PAN itu punya tim yang selalu bergerak, pengaderan terus berjalan.

PAN punya jago yang dielus untuk calon presiden? Kalau ada yang ada, tetapi kalau ditanya siapa, belum tahu.

Kriterianya seperti apa? Buat PAN, harus mencari putra terbaik yang diterima rakyat dan memiliki tiga prinsip utama. Integritasnya baik, memiliki pengalaman yang baik, akseptibilitas baik.

Apakah Anda siap dicalonkan? Hasil survei bagaimana? Saya itu tidak pernah mengatakan diri saya seperti itu. Di mana-mana saya katakan bahwa saya ini Menko Perekonomian, tugas utama saya adalah perekonomian. Belum ada pikiran saya untuk macam-macam.

Atau calon lain, misalnya Ibu Ani Yudhoyono, mungkinkah PAN mengarah ke sana? Ini penglihatan yang masih rabun karena masih terlalu jauh. Nanti semakin dekat semakin jelas. Kalau saya lihat samar-samar, tetapi belum bisa dikenali. Namun, kan, mesti disiapkan kepemimpinan nasional pasca-SBY, atau menunggu saat kepepet? Pemimpin kita itu banyak kalau kita melihat Pak SBY terpilih 2004. Tahun 2003 banyak orang yang belum menduga ketika beliau Menko Polkam. Jadi, memang misterius kadang-kadang kekuasaan itu.

Terkait dengan peran parpol menyiapkan kepemimpinan pasca-SBY, seberapa besar koalisi parpol memberi ruang untuk perbedaan? Saya tetap menganggap timing itu penting sekali. Dalam keadaan pemerintahan baru umur satu tahun lebih beberapa hari umurnya, tetap saya katakan kurang tepat parpol-parpol melontarkan calon-calon presiden. Karena bagaimana pun itu menyita energi. Memang penting parpol melemparkan calon-calonnya, lebih banyak calon lebih bagus, supaya rakyat bisa menguji, tetapi kalau sekarang itu terlalu cepat.

Kapan waktunya? Menurut saya 2013 atau menjelang 2013. Pada 2013 itu, kan, kita mulai mempersiapkan anggota dewan, calon anggota legislatif, kemudian pemilu (legislatif). Selesai pemilu, dapat kursi berapa, lontarkanlah calonnya siapa. (Sumber - Kompas.com)

Arief

Minggu, 11 Desember 2011

Didik Junaidi Rachbini

Prof. Dr. Didik Junaidi Rachbini (lahir di Pamekasan, Jawa Timur, 2 September 1960; umur 51 tahun) adalah seorang tokoh Partai Amanat Nasional yang pernah menjabat sebagai anggota DPR RI untuk masa bakti 2004-2009.

Biodata

Propinsi Asal: Jawa Timur
Daerah Pemilihan: Jatim V
Agama: Islam
Istri: Dr Ir Yuli Retnani
Anak: Eisha Maghfiruha Rachbini; Fitri Nurinsani Rachbini; Imam Maulana Rachbini

Pendidikan

  • S1 IPB (1983)
  • S2 Msc. Central Luzon State University Filipina (1988)
  • S3 Ph.D Central Luzon State University Filipina (1991)

Pengalaman Kerja - Pendidikan

  • Asisten dosen IPB (1982-1983)
  • Dosen IPB (1983-1985)
  • Dosen Universitas Nasional (1993-1994)
  • Pembantu Rektor I, Univ Mercu Buana Jakarta (1997)
  • Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia (1993-sekarang)
  • Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana (1995-1997)
  • Wakil Rektor Universitas Mercu Buana (1997-2004)
  • Pendiri dan Pengajar di Universitas Paramadina Mulya (1995-sekarang)
  • Dosen Program Magister Manajemen UI dan MPKP UI(1998-sekarang)

Pengalaman Kerja - Non Pendidikan

  • Peneliti LP3ES, Jakarta, (1985-1994)
  • Konsultan FAO (1990-1991)
  • Kepala Program Peneliti LP3ES (1991-1992)
  • Wakil Direktur LP3ES (1992-1994)
  • Konsultan UNDP (1993-1995)
  • Direktur INDEF (1995-2000)
  • Ketua Majelis Wali Amanat Institut Pertanian Bogor, 2007-2012
  • Ketua Yayasan Paramadina (Universitas), 2006-2011
  • Wakil Ketua Yayasan Menara Bhakti (Universitas Mercu Buana), 2005-2009

Pengalaman Organisasi

  • Ketua HMI Cabang Bogor (1982-1983)
  • Ketua Pengurus besar HMI (1984-1985)
  • Pengurus Pusat ICMI (1995-2000)
  • Pengurus Pusat HA IPB (1998-2003)
  • Pengurus Pusat PERHEPI (1997-2001)
  • Anggota ISEI (1990-sekarang)
  • Anggota KKPU (1999-2003)
  • Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Nasional (1998-2003)

Pranala luar

Arief

Jumat, 09 Desember 2011

Ketua PAN Nunukan Serukan Untuk Tidak Menaati Keputusan DPW PAN Kaltiml

JUMAT, 5 NOVEMBER 2010 | 14:59 WITA
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

NUNUKAN,tribunkaltim.co.id - Ketua (nonaktif) DPD Partai Amanat Nasional Kabupaten Nunukan Haji Arifuddin Ali menyerukan kepada seluruh kader dan pengurus PAN se-Kabupaten Nunukan untuk tidak menaati kebijakan DPW PAN Kaltim yang mengusung pasangan Hajjah Asmin Laura Hafid-Karel Sompotan sebagai Calon Bupati-Wakil Bupati Nunukan dan memberhentikannya dari jabatan ketua.

“Saya mengimbau untuk tidak menaati kebijakan DPW. Ini merupakan bentuk perlawanan kita,” ujarnya.

Arifuddin mengatakan, keputusan DPW PAN Kaltim merupakan keputusan sepihak yang telah melanggar mekanisme partai. Ia diberhentikan dari jabatan ketua karena menolak menandatangani surat ke KPU Nunukan yang mengusung Laura-Karel.

“Mungkin orang wilayah yang tandatangan surat ke KPU. Yang jelas saya tidak setuju keputusan mengusung Laura-Karel, makanya saya tidak tandatangan,” katanya.

Arifuddin mengatakan, keputusan Pengurus DPW PAN Kaltim jelas-jelas melanggar mekanisme pancalonan di partai. Saat dilakukan penjaringan, hanya tiga nama yang diputuskan untuk mengikuti penjaringan lebih lanjut yakni Muhammad Saleh, Arifuddin Ali dan Suwardi Manja.

“Artinya yang bisa memakai PAN hanya tiga nama itu. Saya ini kader yang ingin maju, saya sudah sampaikan akan berpasangan dengan Pak Kasmir. Kecuali di antara tiga nama itu tidak mendapatkan pasangan calon.  Itu boleh kita bicarakan kembali,” ujarnya.

Ia menilai alasan DPW mengusung Laura, tidak jelas. DPW PAN Kaltim beralasan memilih pasangan tersebut berdasarkan hasil survei.

“Sedangkan aturan partai tidak begitu. Tapi kan mekanisme partai ada penjaringan,” ujarnya. (*)


berita terkait

 Galery:
 Photo Nunukan



back to Partai Amanat Nasional

Sabtu, 26 November 2011

Sekilas PAN Kabupaten Nunukan

Partai Amanat Nasional (PAN) Nunukan, awalnya hanya bestatus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang di ketua oleh Syheh Yahya, karena Nunukan saat itu hanyalah sebuah kecamatan yang terletak di wilayah kabupaten Bulungan. Namun akhir tahun 1999 Nunukan dimekarkan dan menjadi ibu kota Kabupaten.

Seiring dengan terbentuknya kabupaten Nunukan, Partai Amanat Nasional yang semula hanya berstatus DPC perlu ditingkatkan atau diadakan Musyawarah Daerah Partai Amanat Nasional untuk memilih ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasionak Kabupaten Nunukan.

Musyawarah Daerah

Musyarah Daerah I, dilaksanakan pada 26-27 September 2000 bertempat di gedung KNPI Nunukan dan terpilih H.Arifuddin Ali sebagai ketua untuk masa bakti 2000-2004
Pengurus DPD PAN Nunukan priode 2000-2005

Pengurus DPD PAN Nunukan priode 2000-2005

Pengurus DPW Kaltim Andi Harum Membuka Musad I

Sambutan Ketua DPD Terpilih

Musyarah Daerah II dilaksanakan pada tanggal 17-18 Desember 2005 di Hotel Firdaus Nunukan dan terpilih secara aklamasi H.Arifuddin Ali untuk yang kedua kalinya dengan masa bakti 2005-2010.
Musda II PAN
Drs.Hamza Sanusi dan Syarifuddin YS

Zulkifli Alkaf, SH

Drs.Zainuddin HZ, Msi Sekretaris Daerah Kab.Nunukan

H.Arifuddin Ali

Musyarah Daerah III, dilaksanakan disebatik. sehubungan karena adanya permasalahan di internal partai maka peserta yang punya hak suara hampir bisa dikatakan tidak ada yang hadir di Musda tersebut. Sehingga untuk pelaksanaan pemilihan ketua tidak diadakan pemilihan, hanya penunjukan oleh DPW dan yang ditunjuk adalah M.Saleh sebagai Ketua PAN Nunukan.


Perolehan Suara PAN Dalam Pemilu di Kabupaten Nunukan
Kavupaten:
  • Pemilu 1999 memperoleh 909 suara (4,01%), dengan 1 (satu) kursi di DPRD
  • Pemilu 2004 memperoleh 2.057 suara (5,04%), dengan 1 (satu) kursi di DPRD
  • Pemilu 2009 memperoleh 3.202 suara (5,29%), dengan 2 (dua) kursi di DPRD
Provinsi
  • Pemilu 1999 memperoleh   909 suara
  • Pemilu 2004 memperoleh 1233 suara
  • Pemilu 2009 memperoleh 4920 suara

Pusat
  • Pemilu 1999 memperoleh   909 suara
  • Pemilu 2004 memperoleh 1599 suara
  • Pemilu 2009 memperoleh ....... suara


Kampanye 2009

Pilkada 2006
Tahun 2006 diadakan pilkada untuk yang pertama kalinya dipilih langsung oleh masyarakat. dan kader PAN walupun hanya memiliki satu kursi ikut berlaga dlm pilkada tahun 2006 dengan berkoalisi dengan PDIP. namun nasib belum berpihak kepada  PAN dan PDIP dan yang memenagkan pertarungan adalah PBB yg berkoalisi dgn PKS.

Pilkada 2011
Dalam pilkada 2011 PAN tidak mengusung kader namun mengusung kader dari PBB, ada 3 partai yang mengusung calon kader PBB yaitu PBB, Partai Demokrat dan PAN, namun keberuntungan berpihak kepada calon yg di usung oleh Golkar, Grindra dan PKS.
Catatan; 
- PBB 10 kursi, Partai Demokrat 3 kursi dan PAN 2 kursi 
- Golkar 3 kursi, Grindra 2 kursi dan PKS 2 kursi

Kemelut pilkada 2011
Awalnya atau jauh sebelum pilkada ada kesepakata antara ketua Partai Demokrat dan ketua PAN untuk maju dalam pilkada 2011. Namun pada detik-detik terakhir atau pada saat 3 hari sebelum penutupan pendaftaran calon bupati dan wakil bupati Nunukan priode 2011-2016, PAN dan Demokrat diambil oleh calon PBB untuk memperkuat pengusungannya. akibat dari pada itu ketua PAN Nunukan diberhentikan dari jabatannya selaku ketua PAN Nunukan oleh ketua DPW PAN Kaltim krn tidak menyetujuai atau menandatangani surat pengusungan calon yang diusung oleh PBB.


berita terkait

 Galery:
 Photo Nunukan

back to Partai Amanat Nasional

Arief

Jumat, 28 Oktober 2011

Photo PAN Nunukan

Photo
Bersama Pak Hatta saat Kongres III PAN di Batam

Bersama Pak Patrialias akbar saat Kongres III PAN di Batam

Kongres III PAN di Batam

Silatuhrahmi Nasional Kader Eksekutif dan Legislatif PAN di Pekan baru 29-30 Agustus 2008

Rakernas PAN di Jakarta 29 Mei 2008

Rakerna di jakarta 2008

Deklarasi Damai Parpol pada Pemilu 2009


Iring-iringa kampanye 2009



Iring-iringa kampanye 2009





Ketua PAN Nunukan menyampaika orasi pada akampanye Pemulu 2009



Ketua PAN Nunukan menyampaika orasi pada akampanye Pemulu 2009



kampanye 2009



Kampanye 2009



Kampanye 2009


Massa yg menghadiri kampanye 2009


Pengurus PAN Nunukan Pada Acara Heri Ulang Tahun Kab.Nunukan yang ke V

Ketua DPW PAN Kaltim Pak bambang berkunjung ke Nunukan



Harla PAN III tahun 2002



Temu Legislatif Nasional di Cpayung 2001

Rakernas Bali 2001
Rakernas Bali 2001
Rakernas Bali 2001

Rakernas Bali 2001


Photo-Photo Pelantikan Ketua DPW dan Ketua DPD Se-Kalimantan Timur di Samarainda Priode 2000 - 2005








Rumah PAN


Arief

Minggu, 02 Oktober 2011

Partai Amanat Nasional

Partai Amanat Nasional (PAN) adalah sebuah partai politik di Indonesia. Asas partai ini adalah "Akhlak Politik Berlandaskan Agama yang Membawa Rahmat bagi Sekalian Alam" (AD Bab II, Pasal 3 [2]). PAN didirikan pada tanggal 23 Agustus 1998 berdasarkan pengesahan Depkeh HAM No. M-20.UM.06.08 tgl. 27 Agustus 2003. Ketua Umum saat ini adalah Hatta Rajasa[1]. Ketua Majelis Pertimbangan Partai dijabat oleh Amien Rais.

Sejarah Kelahiran PAN

Platform (Identitas, Sifat, Visi, Misi dan Garis Perjuangan Partai)

 

Kegiatan

Tanggal 5-7 Juli 1998, dilaksanakan Tanwir Muhammadiyah di Semarang yang dihadiri oleh seluruh jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta utusan dari tingkat Wilayah(provinsi). Dalam sidang komisi, mayoritas peserta menginginkan agar warga Muhammadiyah membangun partai yang baru. Namun dalam keputusan resmi dinyatakan, bahwa Muhammadiyah tidak akan pernah berubah menjadi parpol, juga tidak akan membidani lahirnya sebuah parpol. Tetapi warga Muhammadiyah diberi keleluasaan untuk terlibat dalam parpol sesuai dengan minat dan potensinya.

Tanggal 22 Juli, Amien Rais menghadiri pertemuan MARA di hotel Borobudur. Hadir dalam acara membahas situasi politik terahir ini, antara lain: Goenawan Mohammad, Fikri Jufri, Dawan Raharjo, Ratna Sarumpaet, Zumrotin dan Ismet Hadad. Dari hasil diskusi dan evaluasi kinerja MARA, Goenawan kemudian menyimpulkan bahwa disepakati perlunya MARA memersiapkan pembentukan partai, disamping fungsinya semula sebagai gerakan moral. Tim kecil yang diharapkan akan membidani lahirnya sebuah parpol kemudian dibentuk.

Pencapaian pada Pemilu Anggota DPR 2009

Partai Amanat Nasional mendapat 43 kursi (7,5%) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2009, setelah mendapat sebanyak 6.254.580 suara (6,0%).

Tokoh-Tokoh


Ketua Hatta Rajasa
Sekretaris jenderal Taufik Kurniawan
Didirikan 23 Agustus 1998
Kantor pusat Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Ideologi Pancasila
Kursi di DPR (2009)
43 / 560
Situs web
Situs Resmi Partai Amanat Nasional

-------------------------------------------------------------

Historis Hubungan Muhammadiah Dengan PAN


Amien Rais – Selamatkan Indonesia

 

Berita:  

Iklan Partai Amanat Nasional




 Galery:
 Photo Nunukan

Referensi  

Hatta Rajasa Ketua Umum PAN Secara Aklamasi, VIVANews.com, 9 Januari 2010. Diakses pada 9 Januari 2010.


back to Parpol

Arief

Bebas Bayar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

gif maker

Arifuddin Ali